Kakek-Nenek Tewas Diterjang Longsor

LONGSOR: Rumah pasutri Kayun- Sunaryati warga Desa Mardiredo Kecamatan Pujon, yang diterjang langsor.
                            
PUJON – Hujan deras disertai angin puting beliung yang melanda wilayah Kecamatan Pujon, Selasa dini hari kemarin menewaskan kakek nenek, Kayun, 70 tahun yang kondisinya buta dan Sunaryati, 60 tahun. Tewasnya suami istri  warga Dusun Mantung Desa Madiredo, itu akibat tertimpa plengsengan. Malam yang sama, rumah milik Samsuri, 70 tahun warga Dusun Gerih Desa Tawangsari, Pujon juga porak poranda diterjang puting beliung.
Musibah yang dialami suami istri yang tidak tinggal dengan anak-anaknya itu, cukup memilukan. Keduanya tewas di atas satu pembaringan ruang tamu, dengan kondisi tubuh teruruk material batu dan pasir plengsengan yang sebelumnya bertengger di dekat rumah mereka.
Diperkirakan, dini hari yang sangat dingin itu keduanga sedang tidur pulas di rumah sangat sederhana tersebut. Kayun yang sudah 10 tahun ini tidak bisa melihat, hanya berselimut kain sarung. Sementara sang istri yang kesehariannya berjualan sayuran di Pasar Mantung, berselimut ala kadarnya.
Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00, disaat hujan angin melanda wilayah Kota Batu maupun Kecamatan Pujon.  Bongkahan batu dan beton yang menimpa mereka,  berasal dari plengsengan dekat rumah Kayun.
Plengsengan itu setinggi sekitar dua meter. Begitu ambruk, material pun sangat mudah menerjang masuk lantaran dinding rumah tersebut, hanya terbuat dari tliplek dengan penyangga kayu. Sementara ruang tamu yang dijadikan mereka tidur, juga berdekatan dengan posisi plengsengan. Selama ini, orangtua dari tiga orang anak itu memang lebih suka tidur di ruang tamu daripada di dalam kamar.
‘’ Saya sempat mendengar bunyi keras dari rumah Pak Kayun, ketika bongkahan batu dan beton pecah. Dari depan pintu, saya mendengar pula suara lelaki tua itu minta tolong. Ketika kami datang, Pak Kayun dan istrinya terlihat masih hidup. Karena bongkahan plengsengan terlalu besar, saya lari ke rumah tetangga untuk minta pertolongan. Tidak sampai semenit saya kembali, mereka sudah meninggal. Kami kemudian memindahkan bongkahan yang menimpa Pak Kayun dan istrinya,’’ ungkap Dodil Alfianto, tetangga korban.
Pujiono, adik Sunaryati menjelaskan, bahwa pasangan suami istri tersebut selama ini tinggal berdua di desa itu. Satu anaknya tinggal di Kota Batu, seorang lagi di Surabaya dan satunya tinggal di Kalimantan. Dalam kondisi kedua mata tak mampu melihat, Kayun sehari-hari berada di rumah ditemani seekor monyet, ketika sang istri pergi berjualan ke pasar.
‘’ Warga di sini sebenarnya sudah sering kakak saya itu, untuk mengungsi ke rumah tetangga ketika malam. Siangnya mereka boleh kembali ke rumahnya. Itu karena, warga sudah sangat kuatir dengan kondisi hujan angin belakangan ini apalagi plengsengan dekat rumah mereka kondisinya juga retak. Namun Kakak saya tidak mau tinggal di rumah tetangga yang lebih aman,’’ paparnya.
Pagi kemarin, BPBD Kabupaten Malang, Kapolres Batu AKBP Windiyanto Pratomo langung meluncur ke lokasi kejadian. BPBD mengirimkan sembako, untuk membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan   Kayun dan Sunaryati, termasuk uang duka.
‘’Wilayah Pujon, ini memiliki tingkat kerawanan tinggi karena kontur tanah yang miring. Apalagi sekarang ini curah hujan juga tinggi, sehingga masyarakat harus waspada,’’ tegas Kepala BPBD Kabupaten Malang, Hafi Lutfi.  
Sedangan puting beliung di Dusun Gerih, Desa Tawangsari, terjadi sekitar pukul 20.00. Atap rumah Samsuri berukuran 5 meter kali 12 meter, terbawa angin. (feb/lyo)