Dua Mahasiswa STIESIA Hilang di Welirang

PENCARIAN: Tim gabungan berdiskusi memetakan jalur pencarian dua korban tersesat dalam pendakian Gunung Welirang di Dusun Cangar, Sumberbrantas Kota Batu, kemarin.

BATU – Dua mahasiswa asal Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya tersesat dalam pendakian Gunung Welirang sejak Minggu (19/1) lalu. Dua mahasiswa, Dian Meitani dan Alif Hazen belum berhasil ditemukan hingga Rabu (22/1) kemarin.
Upaya pencarian terhadap dua mahasiswa yang tersesat tersebut terus dilakukan. Pencarian melibatkan berbagai unsure seperti Basarnas, Mahapala, BPBD Kota Batu dan beberapa kelompok lain. Mereka tergabung dalam SRU 1, terdiri dari 13 orang dan SRU 2 sebanyak enam orang.
Tim SAR gabungan ini juga sudah membentuk poko utama untuk pencairan, yakni di Dusun Cangar Desa Sumberbrantas Kota Batu. Sedangkan posko kedua diletakkan di Trawas Kabupaten Mojokerto.  
Informasi yang dihimpun, kedua orang yang tergabung dalam Mahapala (Mahasiswa Pecinta Alam) ini mendaki Gunung Welirang bersama rekan-rekannya. Mereka tergabung dalam dalam dua tim, yakni tim AT dan AM. Dian, Alif, dan seorang lagi bernama Budi, berada dalam tim AT dan mulai melakukan pendakian sejak Sabtu (18/1) pukul 07.00 dari Sumberbrantas.
Mereka kemudian istirahat sampai di Lengkean Kembar pukul 12.00. Di lokasi persitirahatan itu, mereka bergabung dengan tim AM yang mendaki dari Lawang, Kabupaten Malang. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Kembar, Minggu (19/1) pukul 12.00.
’’Dua tim berangkat menuju puncak Welirang. Hari minggu, tim AM memutuskan turun ke kawasan Cangar Kota Batu karena cuaca buruk. Sedangkan Dian dan Alif tetap melanjutkan  perjalanan menuju bukit yang berada di antara Gunung Arjuna dan Welirang, sedangkan Budi, pendaki yang satu tim dengan Dian dan Alif memilih menunggu barang yang mereka bawa," kata kordinator SAR Mitigation Coordinator (SMC), Jimmy Yunus saat ditemui di posko utama Tahura R. Soerjo, Cangar Kota Batu, Rabu (22/1) kemarin.
Menurutnya, Budi yang semula menunggu barang langsung menghubungi  basecamp di Sumberbrantas saat menunggu Dian dan Alif tidak kunjung datang. Dia memberitahukan kedua temannya belum turun dari gunung kembar lewat melalui HT. Tim AM yang terdiri dari Andi, Ardi dan Ardiansyah kemudian kembali naik bergabung bersama Budi  sekitar pukul 13.00wib. Mereka bersama-sama menyusuri jalan yang dilalui oleh keduanya, tetapi  sampai puncak tidak ditemukan apa-apa. Dari situ, mereka kemudian melakukan komunikasi dengan pihak SAR.
Berdasarkan keterangan yang ada, kedua pendaki ini sangat minim perbekalan,  karena hanya membawa air minum dan kamera. "Sampai saat ini belum ada tanda-tanda keberadaan mereka. Kami sangat berharap mereka masih dapat menjaga kondisi tubuhnya sampai tim SAR berhasil menemukannya," sebutnya disela-sela diskusi bersama tim SAR lainnya.
Menurutnya, untuk memudahkan pencarian pihaknya membagi dua posko, posko utama di Cangar dan posko bayangan di Tretes, Mojokerto. Penyisiran dilakukan dari beberapa titik jalur pendakian seperti melalui jalur Cangar, Kota Batu, dan Tretes, Mojokerto. Rincinya, SRU 1 (tim advance) sebanyak 13 orang berangkat hari Senin (20/1) dan SRU 2 (tim advance) sebanyak 6 orang berangkat hari Rabu (22/1).
Sedangkan salah satu keluarga korban, Budi Nasianto mengatakan, keluarga baru mendengar kabar jika Dian Meitani tersesat saat mendaki ke gunung kembar, Rabu, kemarin. ”Kami langsung shock mendengar kabar tersebut, lantas saya dan saudara-saudara langsung berangkat ke sini,” kata paman Dian ini.
Dia mengaku, keluarga optimis jika Dian dalam keadaan baik hingga dapat bertahan di dalam hutan. Sebelumnya Dian sudah pamitan kepada keluarga jika mau mendaki gunung. Malah paman Dian langsung mengantar ke kampusnya. (mik/feb)