Siap Ditembak Jika Terbukti Korupsi

MALANG - Mantan Rektor UIN Maliki Imam Suprayogo menulis testimoni menyangkut tuduhan korupsi.  Dalam website itu, Imam juga menuliskan bahwa siap ditembak jika terbukti korupsi dana pembangunan. Tulisan ini dimuat dalam website pribadinya,dihttp://www.imamsuprayogo.com/viewd_artikel.php?pg=2111.
Tulisan panjang sang guru besar ini diberi judul “Korupsi Dan Kemajuan”. Sesuai tanggal pada website, dikeluarkan pada 21 Januari 2014.
“Semua orang membenci korupsi oleh karena penyimpangan keuangan itu akan menyengsarakan masyarakat dan bahkan juga berpotensi untuk meruntuhkan negara yang seharusnya dijaga bersama,” tulisnya para paragrap awal.
Mantan rektor itu menyebut bahwa, Indonesia tidak cepat maju lantaran masih dilanda korupsi. Sehingga kemajuan bisa menjadi ukuran bahwa sebuah tempat tidak terlanda korupsi.“Namun, terasa aneh, UIN Maliki Malang,  yang beberapa tahun terakhir ini, oleh banyak kalangan dikatakan mengalami kemajuan, tetapi disebut-sebut masih terjadi korupsi besar-besaran,”  tulis  dia.
Salah satu kemajuan, menurut dia adalah dibangunnya UIN Maliki. Termasuk pengembangan sarana fisik UIN Maliki di Junrejo  yang dbebaskan sekitar 100 hektare. Kawasan itu, disebut bakal menjadi kampus III untuk perkuliahan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik.
Hanya saja, ditengah kemajuan itu, Imam menganggap ada pihak yang menghembuskan isu korupsi. Termasuk isu terjadi korupsi pembangunan masjid kampus. Kata dia, untuk pembangunan masjid tidak memakai dana pemerintah, tapi dari sumbangan.
“Oleh karena itu, tatkala saya dituduh mengkorupsi uang pembangunan tempat ibadah itu, saya sampaikan agar segera saya diadili di tengah lapang. Dan, jika terbukti saya melakukan korupsi serupiah saja, maka saya persilahkan, agar di tempat itu pula saya ditembak,” bebernya.
Menyangkut dugaan korupsi pembelian lahan UIN di Junrejo, Imam juga menjelaskan. Kata dia, isu itu menggelisahkan warga kampus mulai pimpinan, dosen, karyawan, maupun mahasiswa. “Besarnya dana dari pemerintah sesuai dengan DIPA, untuk pembelian tanah, sebesar 13 milyar., Dana itu seharusnya dibelikan tanah seluas 32.500 m2 atau 3,25 hektar,” bebernya.
Dia menuliskan tak mengerrti soal isu korupsi itu. Sebab, panitia dengan uang yang tersedia malah telah berhasil membebaskan lahan seluas 127.856 m2 atau 12,78 hektar. Panitia disebutkan telah berhasil membeli tanah seluas empat kali lipat dari DIPA.
“Atas kenyataan itu, saya terus terang menjadi kebingungan, di mana sebenarnya letak uang yang dikorupsi itu,” tulisnya.
Sementara itu, dari pihak Kejaksaaan masih akan melanjutkan pemeriksaan terhadap dua tersangka dari UIN Maliki. Jamal Lulail Yunus dan Musleh Herry akan menjalani pemeriksaan lanjutan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang. Jika tak ada halangan, pemeriksaan bakal digelar Rabu (29/1) besok.
Hal tersebut disampaikan oleh Jamal Lulail kepada Malang Post. Menurut Jamal. Pihaknya siap diperiksa kembali dalam statusnya sebagai tersangka. Berdasarkan sikap kooperatifnya, maka sejauh ni pihaknya juga tidak ditahan Kejari.“Saya Rabu (29/1) dipanggil lagi, ya kooperatif, mohon doa restunya saja,” pintanya.(ary/nug)