Tersangka ITN Siap Diperiksa

MALANG – Endarto Budhi Walujo, SH, kuasa hukum keempat tersangka kasus kematian mahasiswa ITN, Fikri Dolasmantya Surya, menilai penetapan tersangka untuk keempat kliennya tidak pas. Dia menganggap polisi tidak memiliki dasar dan bukti saat menetapkan mereka sebagai tersangka.
“Kalau dijadikan tersangka, dasarnya apa? Bukti untuk jadi tersangka itu apa?. Memang dalam setiap organisasi, ketua selalu yang harus bertanggung jawab. Tapi jika ketua jadi tersangka, apa dasar dan buktinya,” tutur Endarto, kepada Malang Post, kemarin.
Sekadar diketahui, setelah melalui penyidikan panjang dan gelar perkara di Polda Jatim Senin (20/1) lalu, Polres Malang menetapkan empat tersangka dalam kasus kematian mahasiswa baru ITN, Fikri Dolasmantya Surya. Mereka adalah Kepala Jurusan (Kajur) Planologi, Dr. Ir. Ibnu Sasongko (IS) dan tiga lainnya Fendem (mahasiswa senior), yaitu Ketua Panitia Kemah Bakti Desa (KBD) Putra Arif Budi Santoso (PB), seksi acara KBD Natalia Damayanti (ND) serta seksi keamanan acara Halim Nurohman (HN).
Tetapi pasca penetapan tersangka, keempatnya mulai menunjukkan sikap tidak kooperatif. Senin (27/1) lalu, mereka mangkir dari panggilan pertama penyidik Reskrim Polres Malang.
Endarto mengatakan, sebelum menetapkan tersangka seharusnya polisi mengecek ulang kematian Fikri. “Penyebab kematiannya kenapa, serta apa ada unsur penyakitnya. Apakah memiliki riwayat sakit atau lainnya, ini harus diperiksa menyeluruh. Karena saat kegiatan KBD (kemah bakti desa) ada siswa lain yang sama gendut, tetapi tidak mengalami apa-apa,” ujar Endarto.
Meski demikian, lanjut Endarto, keempat kliennya siap mengikuti alur proses penyidikan polisi. Dia bersama keempat tersangka, siap membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dalam kasus ini.  “Ada banyak celah hukun untuk meringankan keempat tersangka dalam perkara ini. Di antaranya, sebelum meninggal Fikri mendapat perlakuan khusus. Mendapatkan minum dan istirahat paling banyak dari teman-teman lainnya,” lanjutnya.
Disinggung ketidakhadiran empat kliennya dalam pemanggilan pertama Senin (27/1) lalu, Endarto menjelaskan mereka tak datang bukan karena mangkir atau tak kooperatif. Melainkan sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk menjawab pertanyaan penyidik.
“Sehingga ketika nanti ditanya, biar tidak sampai salah menjawab. Mereka bisa menceritakan kejadian sesungguhnya secara lengkap, tidak sepotong-potong,” paparnya.
Hal ini juga dibenarkan oleh Rektor ITN Soeparno Djiwo, MT. Ia menjelaskan ketidakhadiran dosen dan mahasiswa yang menjadi tersangka dikarenakan mereka masih menyiapkan materi bersama pengacara. Sehingga akan lebih siap dalam proses pemeriksaan yang akan dilaksanakan besok (hari ini,red).
“Informasinya, penasehat hukum mereka juga sudah meminta penundaan untuk diperiksa, karena mereka ingin lebih siap saat berhadapan dengan aparat nantinya,” ungkap Soeparno Djiwo.
Ia menambahkan, bantuan hukum dengan menyiapkan pengacara ini difasilitasi oleh ITN Malang. Hal ini dikarenakan orang tua tersangka yang meminta dan mengajukan permohonan agar diberi bantuan hukum. Menurutnya, sekitar satu bulan yang lalu, orang tua panitia Kemah Bakti Desa (KBD) sudah diberitahu kemungkinan adanya penetapan tersangka atas kematian Fikri. Di samping itu, kabarnya ITN juga sudah melakukan skorsing terhadap ketiga tersangka yang merupakan mahasiswa dan juga memberhentikan Kepala Jurusan Planologi. Pemberian skorsing ini merupakan respon dari pihaknya terhadap penetapan tersangka oleh Polda Jatim dan Polres Malang. (oci/han)