Hanya Lalai, Minta Tak Ditahan

MALANG – Kepala Jurusan (Kajur) Planologi, Dr Ir Ibnu Sasongko, akhirnya memenuhi janji untuk diperiksa penyidik Reskrim Polres Malang, sebagai tersangka dalam kasus kematian mahasiswa ITN, Fikri Dolasmantya Surya, kemarin. Sebelumnya, dia mangkir dari panggilan pertama, Senin (27/1) lalu.
Selain Ibnu, satu tersangka lagi yang kemarin ikut hadir diperiksa adalah Ketua Panitia Kemah Bakti Desa (KBD) Putra Arif Budi Santoso. Mereka tiba di ruang penyidikan pukul 10.50, dengan didampingi dua kuasa hukumnya. Endarto Budhi Walujo SH serta Johny Hehakaya SH dan seorang asistennya Ficky Retno Syahputro.
Sedangkan dua tersangka lainnya yaitu, seksi acara KBD Natalia Damayanti serta seksi keamanan acara Halim Nurohman, dijadwalkan akan diperiksa hari ini. Itu sesuai dengan surat penundaan pemeriksaan yang dilayangkan ke pihak penyidik Senin lalu.
Tidak tanggung-tanggung, pemeriksaan keduanya cukup lama. Putra, diperiksa hingga 18.00. Atau sekitar tujuh jam di ruang Idik II. Ibnu, lebih lama lagi. Pemeriksaan yang berlangsung sembilan jam itu, baru tuntas pukul 20.15 semalam di ruang Gakkumdu.
Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Muhamad Aldy Sulaeman menegaskan, meski mereka diperiksa sebagai tersangka, namun tidak dilanjutkan dengan proses penahanan. Alasannya, mereka berdua kooperatif, meski sebelumnya pada panggilan pertama tidak hadir.
‘’Mereka kooperatif karena sudah menepati janji untuk hadir. Penahanan dilakukan jika dikhawatirkan melarikan diri, mengulangi perbuatannya dan menghilangkan barang bukti. Tetapi kami yakin mereka tidak,’’ tutur Aldy.
Endarto Budhi Walujo menerangkan, pemeriksaan terhadap Ibnu dan Putra, masih sebatas pada pertanyaan kewenangan dan tanggungjawab secara prosedural.
Diantaranya, sebagai Kajur dan ketua panitia, apa tugasnya dan dari siapa tugas kemah bakti desa (KBD) di Pantai Goa Cina Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan.
‘’Lainnya, terkait siapa yang mengajukan proposal, kenapa sampai di Goa Cina dan siapa yang menyetujui proposal tersebut. Namun apapun pertanyaan, kami akan ikuti hukum. Kita hormati yang sudah ada. Nanti baru kita buktikan apakah mereka (keempat tersangka, Red.) bersalah atau tidak,’’ terang Endarto.
Dikatakannya, dalam permasalahan ini, jangan sampai ada penahanan. Karena kematian Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa ITN yang tewas di Goa Cina, bukan kejahatan murni melainkan hanya kelalaian.
Mereka juga bukan kriminal yang direncanakan. ‘’Kalau sampai ditahan, saya menganggap terlalu jauh. Pasti akan kami upayakan untuk penangguhan,’’ katanya.
Endarto menambahkan, dalam permasalahan ini, tidak bisa membicarakan siapa yang salah. Sebab permasalahan harus dilihat dengan betul, karena ada kegiatan dan ada yang meninggal. Apakah yang meninggal karena kegiatan itu, harus juga dilihat.
‘’Kalau di media disebutkan banyak opini meninggalnya karena kurang minum dan kecapekan. Tetapi dari fakta yang kami temukan, anak itu (Fikri, Red.) justru mendapatkan minum dan istirahat lebih banyak. Ini yang nanti kami akan minta kepada kepolisian, supaya ada pemeriksaan kepada keluarga korban terkait penyakit yang tersembunyi,’’ bebernya.
‘’Saya tidak tahu apa keluarga korban sudah diperiksa atau belum. Sebab ini supaya ada perimbangan hukum. Jangan sampai hanya mereka  saja yang diperiksa, tetapi keluarga korban tidak diperiksa. Karena korban Fikri ini, satunya mahasisa baru yang tidak mengajukan surat kalau dia sakit,’’ sambungnya.
Pengacara muda yang tinggal di Jalan Bareng Kota Malang ini mengatakan, pihaknya juga akan mengajukan permintaan tertulis kepada polis,i hasil foto copy gelar perkara di Polda Jatim. Sekalipun itu bukan wilayah pro justisia. Tujuannya supaya hukum terbuka luas dan tidak ditutupi.
‘’Sebetulnya gelar peraka tidak bisa menjadi dasar orang sebagai tersangka. Orang menjadi tersangka itu kalau ada bukti permulaan yang cukup. Dan bukti itu yang menguji nantinya adalah pengadilan,’’ tandasnya.
Ibnu Sasongko, dikonfirmasi soal pemeriksaan mengaku, inti pertanyaannya soal fungsi dosen, Kajur serta Kaprodi. Selain itu, juga tentang kegiatan yang dilakukan di Goa Cina seperti apa dan bagaimana. Termasuk proses pengajuan proposal sampai mengarah pada kegiatan.
‘’Status saya adalah tersangka, dan harus dilakoni dan jalani. Tetapi saya dijadikan tersangka karena apa, juga tidak tahu. Setahunya, saya, dijadikan tersangka karena yang bertanggungjawab dari kegiatan itu karena yang menyetujui proposal. Padahal ada dua orang yang tandatangan menyetujui, yaitu saya dan Dekan,’’ jelasnya.
Kalau begitu apakah dikorbankan? Ibnu mengaku tidak tahu menahu soal itu dan tidak bisa mengatakan. Karena pemeriksaan baru sekali, kemudian dijadikan tersangka. ‘’Soal itu saya tidak tahu, yang penting sekarang ini saya tersangka,’’ katanya.
Sementara Putra Arif Budi Santoso, saat dikonfirmasi terkait penetapan tersangka, tidak banyak bicara. Dia hanya mengatakan kalau tidak percaya bakal dijadikan tersangka. ‘’Ya terkejut saja, tidak menduga akan jadi tersangka,’’ ucapnya. (agp/avi)