orban Murka Kali Konto Empat Orang

BERHARAP: Istri korban banjir Pujon, Ummy Farida menunjukkan foto suaminya (Agus Supriyanto) yang hingga kemarin belum ditemukan.

BATU - Banjir bandang yang melanda Desa Kedungrejo, Pujon yang wilayahnya berbataan dengan Kecamatan Ngantang, Jumat malam lalu, diperkirakan membawa korban empat orang. Satu orang, yakni Suprianto, 10 tahun warga Desa Oro Oro Ombo, Kecamatan Batu, jasadnya sudah ditemukan Jumat malam lalu.  
Sedangkan Agus Supriyanto, 43 tahun warga Dusun Dadaptulis Dalam RT01/RW06 Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo yang malam itu pulang mancing bersama Suprianto, hingga kemarin petang belum ditemukan termasuk sopir eksavator atau Becho, M Djaffar,  50 tahun warga Jalan Menganti Wiyung Gang 1/ 24 Kelurahan/Kecamatan  Wiyung, Surabaya.
Tadi malam pun muncul kabar bahwa seorang warga Sidorjo, juga hilang dalam peristiwa banjir bandang tersebut, yang hingga tadi malam belum diketahui keberadaan dan kondisinya.
Sementara itu, suasana pilu Minggu siang kemarin masih terlihat menyelimuti rumah Agus Supriyanto, di Dusun Dadaptulis Dalam Kelurahan Dadaprejo. Masalahnya, hingga petang kemarin pria beristri dua itu belum ditemukan akibat terseret arus banjir bandang yang melanda wilayah Kecamatan Pujon-Ngantang, Jumat malam lalu.
Banjir bandang dampak hujan deras yang menyebabkan meluapnya Sungai Konto bermuara ke Bendungan Selorejo, itu merupakan bencana alam terbesar di wilayah Malang raya sepanjang musim penghujan tahun ini. Tim SAR, gabungan petugas BPBD Kabupaten Malang dan Kota Batu, didukung relawan dan masyarakat yang terus melakukan pencarian, juga belum menemukan titik terang keberadaan dan kondisi Agus.
Yanti, istri pertama Agus yang ditemui di rumahnya kemarin  terus berdoa agar sang suami selamat dan secepatnya ditemukan petugas. Dia juga menyebut, bahwa Kamis lalu sehari sebelum kejadian, merasakan perasaannya tidak enak. ” Kami malam saya bermimpi bahwa suami saya sedang tertawa tawa persis di depan saya,’’ungkap ibu tiga orang anak itu.
Kabar hilangnya Agus itu sendiri, diterima Yanti dari keluarganya yang tinggal di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu. Jumat pukul 1 siang, memang Agus pamitan pergi mancing ke Selorejo.’’ Dia (Agus) memang gemar memancing, dan sejak ada kabar dia hanyut, keluarga dan tetangga langsung ikut mencarinya,’’jelasnya.
Yanti tetap optimis suaminya bakal ditemukan dalam keadaan selamat.”Keluarga juga mengharap demikian,’’ imbuhnya sembari mengusap air matanya.
Kecemasan sama juga dirasakan Ummy Farida istri kedua Agus Supriyanto. Dia membenarkan, bahwa suaminya berangkat mancing bersama Suprianto anak tetangga depan rumah ( jazadnya sudah ditemukan). Jumat malam sekitar pukul 01.00 dinihari, Ummy mulai cemas lantaran sang suami belum pulang.
” Ketika saya bangun sekitar pukul 04.00, juga tidak menemukan keberadaan suami di rumah. Saya coba mengontak, tapi Hpnya tidak aktif. Ketika saya sms, justru ada tanda terkirim. Saya pun menunggu, dan Sabtu pagi mendapat kabar meninggalnya Suprianto (anak tetangga) yang mancing dengan suami saya. Sekujur tubuh saya lemas, saya terus berdoa semoga Mas Agus ditemukan dengan kondisi selamat,”ungkap wanita yang tinggal di Dusun Gondorejo, Desa Oro-oro Ombo itu.
Ummy pun sempat berpikir, kemungkinan Agus sedang menunggu redahnya banjir dan normalnya ruas jalan yang tertutup longsoran. ”Saya tidak mendapat firasat apapun, dan sebelum berangkat mancing suami saya juga masih sempat menonton TV sehabis pulang dari pasar. Saya berharap segera ditemukan dalam keadaan apapun. Kami sekeluarga tetap tetap menunggu kabar baik,’’harap istri pedagang sayuran ini.
Seperti yang diberitakan Malang Post sebelumnya, dua warga Desa Oro-oro Ombo hilang terseret banjir saat perjalanan pulang dari memancing. Satu korban meninggal, Suprianto (11) sudah berhasil ditemukan. Sedangkan Agus Suprianto belum ada kabar keberadaannya. Demikian pula dengan keberadaan sopir eksavator atau Becho, M Djaffar,  50 tahun warga Jalan Menganti Wiyung Gang 1/ 24 Kelurahan/Kecamatan  Wiyung, Surabaya. (mik/lyo)