Sidang Gugatan Sengketa Tanah Diruang Kerja Hakim

Syaifulloh SH, kuasa hukum Nur Hadiani, bersama para guru di Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah, Pakisaji.

PAKISAJI –Pembangunan gedung Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah di Kecamatan Pakisaji, harus tertunda. Pasalnya, lahan yang akan didirikan gedung kini sedang digugat di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen. Gugatan dilayangkan H Edi Sudaryanto, warga Jalan Raya Pakisaji RT08 RW02 Kecamatan Pakisaji.
Kemarin merupakan sidang dengan agenda jawaban gugatan dari pihak tergugat I dan II.
Tergugat satu dalam gugatan perdata ini adalah H Sugeng Subowo, warga Kecamatan Pakisaji. Sedangkan tergugat dua adalah Nur Hadiani, selaku ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Hikmah.
Edi Sudaryanto yang memberikan kuasa kepada Khoirul Anwar SH, adalah anak dari H Hadi Darmo, sebagai ahli waris atas tanah seluas 1325 meter persegi. “H Edi Sudaryanto ini, mengajukan gugatan karena ada perbuatan melawan hukum. Sebab tanah yang dibeli Nur Hadiani, belum pernah diwariskan tetapi sudah dijual oleh Sugeng Subowo,” ujar Khoirul Anwar SH.
Permasalahan gugatan perdata ini, menurut Syaifulloh SH, kuasa hukum dari Nur Hadiani dan H Sugeng Subowo, berawal pada tahun 2005 lalu saat masih hidup (alm) H M Hadi Darmo, menghibahkan tanah seluas 1328 meter persegi dengan SHM nomor 00924 kepada anaknya H Sugeng Subowo.
Kemudian tanah hibah tersebut, pada 14 Agustus 2013 oleh H Sugeng Subowo dijual kepada Nur Hadiani, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Hikmah, seharga Rp 1,150 miliar. Pembayaran dilakukan dua kali, pertama Rp 150 juta dan kedua Rp 1 miliar. “Hibah dari (alm) H M Hadi Darmo ke H Sugeng Subowo, itu benarkan oleh istri H M Hadi Darmo yang sampai saat ini masih hidup, yaitu Hj Mariamah. Pembenaran sesuai dengan bukti surat pernyataannya pada 17 September 2013,” ujarnya.
Namun dalam perjalanannya, saat tanah mau didirikan gedung untuk pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah, digugat H Edi Sudaryanto, dengan dalil nomor SHM 924 dengan luas 1325 meter persegi. “Dalil yang digugat saja salah, padahal masalah tanah itu sudah dirubah sertifikat atas nama Nur Hadiani,” tutur Syaifulloh.
Sementara sidang kemarin, adalah sidang jawabab atas gugatan dari pihak tergugat. Sidang dilanjutkan, karena sebelumnya saat mediasi tidak membuahkan hasil. Yang lucu dari persidangan kemarin, sidang tidak ditempatkan di ruang sidang. Melainkan justru di ruang kerja majelis hakim Riyono SH.
Sidang kemarin sendiri, pihak pengacara tidak memberitahu kepada Nur Hadiani selaku tergugat. Padahal Nur Hadiani beserta belasan guru di Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah, sudah menunggu sejak pagi. Namun ketika bertemu dengan pengacara tergugat dan penggugat, dikatakan bahwa sidang sudah selesai. Bahkan, kedua pengacara tersebut terlihat gugup begitu mengetahui kedatangan wartawan yang menanyakan kasusnya.
“Sidang hari ini lucu, padahal biasanya sidang dilakukan di ruang Garuda dan saya selalu hadir dan diberitahu. Tetapi ini tadi kok tidak diberitahu, padahal pengacara sudah mengetahui kalau saya datang. Tetapi ternyata sidang malah dikatakan sudah selesai. Semua guru datang untuk melihat jalannya sidang kecewa. Apalagi kasus perdata ini terkesan lama dan diolor-olor, apakah ada permainan,” tegas Nur Hadiani. (agp/aim)