Dian Tega Cabuli Keponakannya

MALU: Tersangka Dian Bayu Pradana, malu menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat di Mapolres Malang.

TUREN – Kasus pelecehan seksual terhadap anak di wilayah Kabupaten Malang kembali terjadi. Kemarin giliran Dian Bayu Pradana, 23 tahun ini yang dijebloskan ke dalam terali besi Mapolres Malang karena dituduh mencabuli keponakannya.
Pemuda asal Pare – Kediri yang lama tinggal di rumah neneknya di Dusun Madyorenggo, Desa Talok Kecamatan Turen ini tega mencabuli kepokannya. Korban sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya, red), 9 tahun ini juga masih pelajar SD.
“Dia (tersangka Bayu, red) ini kami amankan berdasarkan laporan dari keluarga korban. Namun sejauh ini, yang bersangkutan masih belum mengakui perbuatannya. Meskipun hasil visum sementara, memang ada iritasi di kemaluan korban,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman.
Diperoleh keterangan, selama ini korban dan tersangka tinggal satu rumah bersama neneknya. Kedua orang tua Bunga, bekerja di Lampung. Sementara orang tua Bayu, ibunya berada di Pare – Kediri, sedangkan ayahnya bekerja di Sulawesi. Bayu tinggal di rumah neneknya sejak 2006 lalu, dengan bekerja serabutan.
Perbuatan bejat yang dilakukan Bayu, sesuai laporan korban terjadi dua kali. Pertama pada November 2013 lalu dan kedua Jumat (7/2) lalu. Peristiwanya berlangsung siang hari di dalam kamar Bayu. Ceritanya, bermula saat korban pulang sekolah, setelah ganti pakaian diajak main play station oleh tersangka di dalam kamar.
Entah setan apa yang merasukinya, begitu berduaan di dalam kamar Bayu langsung mencabuli korban. Dia memasukkan jarinya ke dalam  kemaluan korban. Setelah puas, korban diancam supaya tidak mengatakan kepada siapapun, termasuk nenek atau orangtuanya.
Terbongkarnya kasus pencabulan itu, saat korban sering ngompol di sekolah. Dia juga merasakan perih pada kemaluannya. Neneknya, yang tidak curiga menganggap hanya gatal-gatal biasa. Tetapi karena terus merasakan gatal, korban lalu dibawa ke bidan desa. Oleh bidan dikatakan kalau korban mengalami iritasi. Agar tidak dicurigasi, dihadapan neneknya Bayu berpura-pura menanyakan siapa yang telah menodai.
Namun korban yang ketakutan hanya bungkam. Korban baru cerita kepada orang tuanya melalui telepon setelah beberapa hari kemudian. Mendapat kabar itu, orang tua Bunga yang tidak terima lalu pulang dan melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.
“Saya sumpah, sama sekali tidak melakukan perbuatan pencabulan itu. Kalau ditembak sekalipun saya mau, karena memang tidak pernah melakukannya,” elak Bayu, sembari terus ngotot membantah semua tuduhan itu.(agp/aim)