Rafting Maut, Satu Tewas Tiga Hilang

BATU - Rafting berbuah maut, itulah petaka yang terjadi Jumat (28/2) sore di aliran Sungai Brantas Desa Torongrejo, Kecamatan Bumiaji. Dari 18 orang muda mudi asal Jakarta yang mengikuti rafting lewat Batu Alam Adventure (BAA), satu orang ditemukan tewas dan tiga lainnya hilang masih dalam pencarian setelah dua dari lima perahu karet yang mereka tumpangi, terguling akibat terjangan hujan lebat.
Musibah tersebut, bisa dibilang kali pertama terjadi sekaligus terburuk sepanjang olahraga rafting mulai marak dijadikan salah satu wahana wisata di Kota Batu. Perkiraan sementara,  Muhammad Nurul Komar, 25 tahun korban tewas, diakibatkan perahu berkapasitas lima orang yang dia tumpangi terguling dihantam terjangan banjir sekitar pukul 14.45.
Sedangkan tiga temannya yang menumpang perahu paling depan, Lia, Kiki dan Ilham, hingga tadi malam masih dalam pencarian walaupun ada kabar mereka tersangkut di Sungai Brantas yang mengalir di wilayah Muharto-Kedungkandang. Sementara 14 penumpang tiga perahu karet lainnya, berhasil menyelamatkan diri dengan cara menepi begitu mengetahi dua perahu teman-teman mereka terguling.
’’ Kami bersama teman-teman tim SAR berusaha terus melakukan pencarian terhadap tiga korban lainnya,’’ungkap Ketua Pelaksana BPBD Kota Batu, Sasmito.
Pihak Reskrim Polres Batu, juga turun tangan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi termasuk pengelola BAA. “ Kabarnya tiga orang ini sudah ditemukan, sedang terkatung-katung di daerah aliran sungai di Muharto, Kota Malang. Tapi tim SAR belum berani turun karena kondisi air sangat deras, dan untuk korban yang meninggal ditemukan terdampar di bebatuan kali bawah Jembatan Pendem,’’terang AKP Adi Sunarto Kasat Reskrim mendampingi Kapolres Batu.
Kronologisnya, sekitar pukul 14.00  rombongan tersebut bergerak ke base camp BAA untuk menikmati rafting di Sungai Brantas. Dari 18 orang muda mudi itu, terbagi naik 5 perahu karet dengan start dari Dusun Klerek, Desa Torongrejo.
Rombongan perahu pertama dan kedua berangkat lebih dulu, disusul tiga perahu berikutnya. Sebelum melintasi Sungai Brantas di Desa Pendem Kecamatan Junrejo,  tiba-tiba gaet rafting menerima kabar ada banjir.
” Kabar itu cepat kami respon, dan tiga perahu berhasil menepi bergegas menyelamatkan diri naik ke daratan yang lebih tinggi. Sementara dua perahu di depan saya, terus melanjutkan perjalanan sekitar 50 meter dari lokasi saya menepi,”jelas Dendi Bawono, salah seorang teman korban ketika ditemui di Kampoeng Tani Temas, Kota Batu, tadi malam.
Dia menuturkan, dua perahu yang berisi 10 orang (dua diantaranya gaet) masih terlihat belum terguling. Namun saat sudah naik ke permukaan, Dendi sudah tidak tahu lagi kondisi mereka. Dia menyebut, Komar (korban tewas) naik perahu paling depan bersama Rani Effendi, 29 tahun yang berhasil diselamatkan oleh petani di Sekar Putih.
” Sampai sekarang (tadi malam) yang selamat ada 14 orang, dan satu meninggal dunia, sedangkan 3 orang teman kami lainnya masih dalam pencarian petugas,”ujarnya, yang menambahkan setelah rafting itu sedianya rombongan melanjutkan wisata ke Gunung Bromo.
Beberapa personil Batu Alam Adventure, yang ditemui di base campnya,  pilih tak mau berkomentar.”Lebih baik wawancara sama pimpinan kami aja, yang sekarang (tadi malam) sedang berada di Mapolres Batu menjalani pemeriksaan. Yang jelas, untuk keselamatan pengunjung (penumpang) sudah terpenuhi semuanya, jadi musibah ini bukan diakibatkan karena kelalaian atau keteledoran pengelola. Sebaliknya karena banjir dadakan, karena biasanya tidak seperti ini,”ungkap salah satu karyawan BAA.
Rani Effendi, korban selamat yang ditemukan petani, sejak petang kemarin terus menjalani perawatan tim medis RS Hata Brata Kota Batu. Kondisi wanita ini tidak terlalu parah, cuma luka ringan. Namun demikian, wanita asal Garut ini, terlihat masih trauma dan terus menerus menanyakan teman-temannya. (mik/lyo)