Korban Rafting Dianggap Pembunuhan

MALANG – Upaya pencarian terhadap tiga korban hilang terbawa arus, saat mengikuti rafting di aliran Sungai Brantas Desa Torongrejo Kecamatan Bumiaji, membuahkan hasil.
Kemarin, dua dari tiga korban, berhasil ditemukan dalam kondisi sudah menjadi mayat. Keduanya ditemukan terpisah dengan jarak sekitar satu kilometer.
Kali pertama yang ditemukan, adalah jazad Riki Kiki Anggian. Wanita 29 tahun, warga Cilandak Barat Jakarta Selatan ini, ditemukan di bendungan Dusun Druju Desa Tlogorejo Kecamatan Pagak, sekitar pukul 06.00. Tubuhnya ditemukan seorang nelayan, Nur Kodri, warga sekitar, dalam posisi tersangkut sampah.
‘’Posisinya saat ditemukan di tengah bendungan tersangkut sampah serta sekatan jaring ikan. Kemudian oleh yang menemukan ditepikan, dan langsung melapor pada perangkat yang diteruskan kepada kami,’’ ujar Kapolsek Pagak, AKP Winarto.
Saat kali pertama ditemukan, identitas korban Kiki, masih misterius. Warga dan polisi sempat menduga, mayat wanita itu, korban perbuatan asusila yang kemudian dibunuh. Mayatnya dibuang ke sungai.
Apalagi saat ditemukan, korban sudah tidak mengenakan pakaian atas. Hanya menggunakan celana pendek saja. Selain itu wajahnya memar. Terdapat luka robek pada dahi dan pelipis sebelah kiri. Luka robek terbuka itu, seperti terlihat akibat benda tajam.
Karena tidak ada yang mengenali, jenazah lalu dibawa ke kamar mayat RSSA Malang. Namun setelah dicek keluarga dan teman-temannya, ternyata dia adalah Kiki, salah satu korban rafting maut yang sempat hilang sejak Jumat (1/3) kemarin.
‘’Identitas korban sudah dipastikan adalah Kiki, satu dari tiga korban yang hilang tenggelam saat mengikuti rafting. Sedangkan luka di kepala, saya tidak bisa memastikan. Kemungkinan saja terbentur batu saat terbawa arus sungai,’’ jelas mantan Kapos Laka Kepanjen ini.
Empat jam, setelah Kiki ditemukan, baru jazad kedua muncul di dekat pintu air Bendungan Sengguruh Kepanjen. Korban kedua ini diketahui bernama Ilham Deli, 33 tahun, warga Jalan KH Muhasim, Cilandak Barat Jakarta Selatan. Tubuhnya juga ditemukan tersangkut ditumpukan sampah.
Setelah dievakuasi yang kemudian diambil sidik jari oleh tim Identifikasi Polres Malang, dengan menggunakan mobil ambulans SAR Mahameru, jenazah dibawa ke kamar mayat RSSA Malang.
‘’Ketika kami temukan, kondisi tubuhnya terlentang di tumpukan sampah, tanpa mengenakan pakaian sama sekali,’’ ujar Ketua SAR Mahamameru Andi Susetiyo, yang memimpin pencarian di Bendungan Sengguruh Kepanjen.
Dikatakan Andi, pencarian untuk korban terbawa arus ketika rafting, SAR Mahameru menerjunkan 16 personil. Pencarian dimulai pukul 05.30. Diawali dari Sungai Brantas di bawah jembatan Gadang, sampai di Bendungan Sengguruh Kepanjen.
‘’Pencarian akan kami lakukan terus, sampai satu korban lainnya ketemu. Saat ini (semalam, Red) pencarian kami hentikan karena kondisi gelap. Namun kami akan tetap melakukan pemantauan,’’ terangnya.
Sementara dari tiga korban yang hilang, satu korban lagi yang tubuhnya masih belum diketemukan adalah Lia Aprianti. Selain dia, juga masih ada satu korban tenggelam Yoyok Siswoyo,  37 tahun, warga Jalan Aries Munandar Gang 6 A RT03 RW03 Kidul Dalem Kecamatan Klojen. Yoyok hanyut terbawa air bah setelah mandi di kawasan Sungai Brantas, Jumat sore.
Pencarian juga tidak hanya dilakukan tim SAR di wilayah Kota dan Kabupaten Malang. Tim gabungan yang diketuai Kapolres Batu, AKBP Windiyanto Pratomo, juga diturunkan. Tim itu, gabungan dari tim SAR gabungan, BPBD Kota Batu, Sabhara dan Brimob Polda Jatim. Mereka menyisir mulai dari Jembatan Pendem sampai daerah Sengkaling. Ada pula petugas yang menyisir melalui sungai, serta pencarian melalui darat.
Kapolres Batu, AKBP Windiyanto Pratomo mengatakan, timnya juga menyisir sampai Jembatan Soekarno Hatta Kota Malang. Namun, upaya penyisiran tersebut belum berbuah hasil.
‘’Kami sisir kembali untuk memastikan, korban apa masih ada disekitaran Batu atau tidak,’’ kata Kapolres saat ditemui di daerah Areng-areng Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu itu.
Jumat malam, petugas hanya berhasil menemukan pelampung dan helm peserta rafting, di daerah sengkaling dan di Jalan Muharto Kota Malang. Karena arus sungai masih cukup deras, operasi pencarian sementara dihentikan.
Disinggung soal pemeriksaan terhadap pengelola Batu Rafting, AKBP Windiyanto menjelaskan, pemeriksaan masih berlangsung. Sampai kemarin, sudah ada 18 orang, baik pihak manajemen, sampai saksi dan teman-teman korban, diperiksa.
‘’Masih proses pemeriksaan, hari ini (kemarin, Red.) juga dilakukan pemeriksaan lanjutan. Kami belum bisa memutuskan salah tidaknya,’’ jelasnya kepada Malang Post.
Dari segi persiapan dan keamanannya, sekilas bisa dilihat sudah terpenuhi. Peserta lengkap memakai pelampung, helm dan tali. Karena itulah, Kapolres belum bisa memutuskan.
Terpisah, kepala Batu Rafting, Syaifudin saat dikonfirmasi, belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. ‘’Maaf, masih di ruang BAP (diperiksa, Red.),’’ akunya sambil memutus telpon. (mik/agp/avi)