Lusa, Pencarian Dihentikan

MALANG – Hari keempat pencarian terhadap Lia Aprianti, korban tenggelam saat rafting masih belum juga membuahkan hasil. Tim SAR gabungan yang berjumlah sekitar 70 orang terus berupaya mencari mulai dari Bendungan Sengguruh Kepanjen hingga Bendungan Karangkates Sumberpucung.
Ketua Tim SAR Mahameru Malang, Andi Susetiyo yang memimpin pencarian di Bendungan Sengguruh Kepanjen, mengatakan mereka masih belum menemukan tanda-tanda keberdaan tubuh korban. Padahal seharusnya, paling lama jenazah korban tenggelam akan muncul ke permukaan air di hari ketiga.
“Kami masih berupaya melakukan pencarian. Sampai saat ini (petang kemarin, red) belum ada perkembangan sama sekali,” ungkap Andi.
Menurutnya, untuk pencarian kali ini sama dengan pencarian hari ketiga, yaitu dimulai dari Bendungan Sengguruh Kepanjen sampai Bendungan Karangkates. Selain penyisiran aliran sungai dengan menggunakan perahu karet, pencarian juga dengan memantau di beberapa titik yang selama ini menjadi ‘langganan’ ditemukannya mayat korban tenggelam. “Ada empat titik yang menjadi fokus untuk pencarian. Yaitu di Bendungan Sengguruh, Bendungan Blobo, Bendungan Kecopokan Senggreng Sumberpucung dan Bendungan Karangkates,” jelasnya.
Jumlah Tim SAR yang melakukan pencarian, berasal dari SAR Trengganu, SAR Awangga, Basarnas, PPMR, SAR Mahameru dan tambahan dari SAR Brimob Ampeldento Pakis.  “Pencarian Lia Aprianti akan dimaksimalkan sampai selama tujuh hari. Jika sampai batas waktu tersebut tubuh Lia tidak kunjung ditemukan, maka pencarian akan dihentikan,” katanya. Itu berarti waktu pencarian tinggal hari ini hingga lusa.
Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT), Samsul Bakri menegaskan pihaknya tetap akan memproses pengajuan izin usaha kepada Batu Rafting. “Kami tetap bantu proses hukumnya, asal mengikuti persyaratan  yang ada,” kata Samsul.
Menurut dia, pemrosesan izin tetap akan dilakukan karena pengelola sudah mengajukan ke Dinas Perizinan. Hanya saat ini izin usaha belum dikeluarkan, karena persyaratan belum lengkap, belum ada akta pendirian usaha dan izin gangguan (HO).
Samsul menyebut, untuk kewenangan melarang atau menutup sementara agar tidak beroperasi berada di tangan pihak berwajib, dalam hal ini Kepolisian.”Yang bermasalah dengan kami hanyalah kurangnya berkas-berkas penunjang persyaratan, dan kami juga sudah melakukan survey. Kami akan memanggil pengelola setelah proses hukum di Kepolisian selesai,” sebutnya kepada Malang Post.
Ketua Batu Alam Adventure Saifudin, membenarkan jika pihaknya baru mengurus izin usaha awal Januari lalu karena usaha yang bergerak di bidang jasa ini baru berjalan satu tahun terakhir. ”Kami sudah mengajukan izin, tapi masih ada berkas-berkas yang belum lengkap. Mungkin dua atau tiga hari ini kami selesaikan, mengingat kami masih fokus pemeriksaan dari kepolisian,” kata Saifudin saat ditemui di Base Camp-nya, Senin sore kemarin.(agp/mik/han)