Serang Dua Polisi, Tewas Ditembak

MALANG – Peristiwa berdarah, Sabtu (8/3) malam, menggemparkan warga sekitar Desa/Kecamatan Ngajum. Dua anggota Polsek Ngajum, bersimbah darah akibat diserang dengan senjata tajam jenis sabit.
Kedua polisi itu, terluka parah, setelah Mujianto, 29 tahun, ngamuk dengan membawa sabit. Mencoba mengamankan, Briptu Adi Prayugo dan Aipda Feri Irawan, justru menjadi korban.
Pipi Briptu Adi Prayugo robek dan harus dirawat di Puskesmas Ngajum. Sementara Aipda Feri Irawan, yang mengalami luka sangat serius, harus dilarikan ke RS Wava Husada Kepanjen dan menjalani rawat inap di lantai III kamar 306.
Dia mengalami luka bacok pada tumit kaki kanan, dada, serta tangan kiri dan kanan. Bahkan, pergelangan tangan kirinya nyaris putus. Sedangkan Mujianto, tewas, setelah sebutir peluru milik polisi bersarang di dada kanannya. Polisi terpaksa menembak Warga Dusun Tegaron, RT03 RW05, Kelurahan Panggungrejo Kepanjen, setelah posisinya terjebak.
‘’Sebelum anggota menembak, sudah memberikan tembakan peringatan ke udara. Tetapi karena tetap diserang dan terdesak, terpaksa mengeluarkan tembakan dan mengenai dada kanannya,’’ ucap Kapolsek Ngajum, AKP Sri Sugeng Waskito.
Kejadiannya pada pukul 22.00. Ceritanya, saat sedang tugas malam, Aipda Feri Irawan dan Briptu Adi Prayugo mendapat laporan dari Mulyadi, 34 tahun, kakak kandung Mujianto. Dia melaporkan, adiknya yang mengalami depresi (gangguan kejiwaan), ngamuk di jalan raya sambil membawa sabit.
‘’Saya melapor ke polisi, karena selaku pihak keamanan. Kalau tidak lapor, takutnya malah adik saya dipukuli warga. Sebab saat itu ngamuk, sambil membacok poster foto Caleg yang ada di pinggir jalan,” tutur Mulyadi, kakak Mujianto saat ditemui di rumah duka.
Mendapat laporan tersebut, tidak sampai lima menit, kedua anggota Polsek Ngajum datang dengan mengendarai mobil patroli. Briptu Adi Prayugo dan Aipda Feri Irawan, yang memakai seragam dinas, lalu membujuk dan memperingatkan Mujianto supaya meletakkan sabit yang dibawanya.
Namun bukannya menurut, Mujianto justru marah. Dia berusaha menyerang kedua petugas dengan sabit, dan mengenai pipi Briptu Adi. Sadar diserang, kedua polisi berusaha menghindar dengan lari ke arah timur. Tetapi, Mujianto tetap mengejar kedua petugas.
Merasa tindakan Mujianto membahayakan, Aipda Feri melepaskan tembakan peringatan ke udara. Tetapi lagi-lagi tidak digubris. Mujianto tetap menyerang hingga membuat Feri jatuh terlentang. ‘’Ketika anggota terjatuh, Mujianto terus menyerangnya. Karena terdesak inilah, Feri langsung melepaskan tembakan ke kaki Mujianto tetapi melesat. Baru tembakan ketigas, mengenai dada kanannya dan langsung membuatnya sempoyongan hingga akhirnya terkapar,’’ jelas Kapolsek.
Melihat Mujianto terkapar, polisi langsung membawanya ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Tetapi sampai di rumah sakit, nyawa Mujianto sudah keburu melayang.
Sementara, Feri yang sempat nyaris kehabisan darah, oleh warga langsung dibawa ke RS Wava Husada. Sayang, Feri masih belum bisa ditemui. Selain pihak polisi melarang menemui, pihak rumah sakit pun juga melarang wartawan.
‘’Kalau tidak menembak, polisi itu yang malah meninggal. Karena posisi terjatuh, terus dibacok dengan sabit. Apalagi, saat polisi diserang, keluarga pelaku (Mujianto) dan warga juga meminta supaya polisi menembak saja, karena sangat membahayakan. Karena warga sendiri tidak ada yang berani menolong lantaran pelaku membawa senjata tajam,’’ terang Enet, penjual bakso di sekitar TKP, yang merupakan saksi mata kejadian.
Hal yang sama, juga disampaikan Gianto Setyo, Sekcam Ngajum yang rumahnya di sekitar lokasi. Sembari menunjukkan bercak darah anggota polisi yang menempel di pagar dinding rumah warga, dia mengatakan, tindakan yang diambil polisi benar, karena posisinya terjebak.
‘’Bisa jadi polisi yang tewas, kalau tidak segera mengambil tindakan dengan melepaskan tembakan,’’ ungkap dia.
Terpisah, Rateno, ayah Mujianto, mengaku pasrah dan menerima kematian anaknya. Apalagi yang dilakukan Mujianto, dianggap sangat berbahaya.
‘’Meski tidak melihat secara dekat, tetapi saya ada di lokasi kejadian saat itu. Kami menyadari tindakan polisi dan sudah mengikhlaskan, tidak ada yang kami tuntut. Adik saya kondisinya juga memang depresi. Kecuali kalau adik saya tidak sakit (gangguan jiwa), pasti ada yang menuntut,’’ papar Mulyadi, sang kakak, yang dibenarkan Rateno.
Menurutnya, Mujianto mengalami depresi sejak sekitar tiga tahun lalu. Hanya apa penyebabnya, belum diketahui. ‘’Kalau kami tahu apa penyebabnya, pasti kami akan berusaha untuk mengobatkannya,’’ katanya.
Selama ini, ketika penyakitnya kambuh Mujianto memang kerap ngomel-ngomel. Bahkan, ketika kambuh warga sekitar tidak ada yang berani mendekat karena dianggap sangat membahayakan. ‘’Dulu ada temannya yang pernah dibacok, saat dia sedang kambuh,’’ tutur salah satu tetangga Mujianto.
Sementara sebelum kejadian yang merenggut nyawanya, siang sampai sore harinya, Mujianto terlihat bekerja dengan memanen petai.
Kemudian petang sekitar pukul 18.00, tanpa diketahui keluarga Mujianto keluar rumah. Dengan membawa senjata sabit, dia jalan kaki ke arah Kecamatan Ngajum. ‘’Biasanya kalau ke Ngajum, ke rumah Pakdenya di Desa Ubalan,’’ kata Rateno.
Sepanjang perjalanan menuju ke Ngajum, Mujianto terlihat ngomel-ngomel. Dia juga terlihat merusak beberapa poster gambar caleg. Mengetahui ulah Mujianto ini, salah satu warga yang mengenal langsung menghubungi keluarga yang kemudian dilaporkan ke petugas Polsek Ngajum.
‘’Saya tidak tahu kalau adik saya keluar rumah. Saya baru tahu setelah ditelpon teman, kalau adik saya ngamuk. Akhirnya saya menghubungi polisi, hingga terjadi kejadian itu,’’ paparnya. (agp/avi)