Maling Jahe Babak Belur Dihajar Massa

TUMPANG- Amuk massa Selasa (11/3) malam terjadi di Dusun Dampul RT 02 RW 01 Desa Duwet, Kecamatan Tumpang. Masyarakat menghakimi Jono, 40 tahun dan Seneli, 55 tahun, warga Dusun Krajan, Desa Duwet, Kecamatan Tumpang, setelah tepergok mencuri dua karung jahe di kebun milik Joyo, 63 tahun warga setempat.
Petugas Polsek Tumpang yang mendapat laporan dari warga segera datang ke lokasi kejadian. Dalam kondisinya babak belur, keduanya bersama barang bukti berupa dua karung berisi jahe, seketika itu juga digelandang ke Mapolsek Tumpang.
“Mungkin saat itu kalau kami datang terlambat, kondisi kedua tersangka sudah lain lagi. Kini kkami sedang melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka,” ujar Kapolsek Tumpang AKP Hartono kepada Malang Post kemarin.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Mulanya, kedua tersangka berangkat menggunakan sepeda motor ke lokasi kejadian. Sesampainya di tempat yang dituju, keduanya langsung menggali tanah dan mencabuti tanaman jahe milik korban. Lalu, jahe-jahe tersebut dimasukan ke dalam karung yang telah mereka bawa dari rumah. Hasilnya, mereka mendapatkan jahe sebanyak dua karung. Tanpa rasa bersalah, mereka meninggalkan tempat tersebut.
Saat akan meninggalkan tempat itulah, ternyata ada warga yang memergoki aksi mereka. Warga pun menginterogasi mereka. Setelah keduanya mengaku habis mencuri jahe-jahe tersebut, masyarakat yang terlanjur naik pitam langsung menghakimi mereka. Warga yang marah, ramai-ramai menghajar babak belur kedua tersangka.
Akibat aksi massa tersebut, membuat tersangka Seneli mengalami luka cukup serius, yakni patah tulang kaki kiri. Tak puas sampai di situ saja, warga juga membakar sepeda motor milik tersangka. Beruntung aksi massa tidak semakin parah, setelah petugas Polsek Tumpang datang ke tempat tersebut.
Kemudian oleh petugas, keduanya diamankan dan dibawa ke Polsek Tumpang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Sedangkan dihadapan penyidik yang memeriksanya, kedua tersangka mengaku mencuri jahe-jahe tersebut, kemudian dijual di pasar.
“Rencananya, jahe-jahe itu akan langsung dijual dipasar. Eh apes, malahan kepergok warga sampek dihajar babak belur seperti ini. Kami berdua hanya buruh tani yang penghasilannya pas-pasan. Hasil penjualan jahe itu, akan dipakai untuk membeli kebutuhan pokok,” kilah Jono. (big/aim)