Sidak Senpi Milik Anggota

MALANG -  Polri langsung melakukan evaluasi di jajarannya, terkait tewasnya Kepala Denma Polda Metro Jaya, AKBP Pamudji. Apalagi setelah dilakukan penyelidikan secara marathon selama 24 jam, polisi menetapkan Brigadir Susanto, sebagai tersangka.
Kepada wartawan, Kabag Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto menjelaskan, evaluasi dilakukan di seluruh jajaran Polri. Baik mulai tingkat Polda, Polres, maupun Polsek-Polsek.
‘’Sebab, ada mekanisme tes psikologi, terkait kepemilikan senjata api bagi anggota Kepolisian. Kalaupun lulus (tes psikologi) masih ada penilaian atasannya. Tiap enam bulan evaluasi,’’ katanya.
Sikap itu, langsung diterjemahkan di tingkat Polres. Kapolres Malang, AKBP Adi Deriyan Jayamarta, mengatakan, dalam waktu dekat, akan ada pemeriksaan senjata api (senpi) secara mendadak.
‘’Kapan waktunya, belum bisa ditentukan. Yang pasti, nanti akan ada pemeriksaan senpi dadakan kepada anggota,’’ ujar Adi Deriyan Jayamarta, kepada Malang Post.
Mantan penyidik KPK ini menyebut, sebetulnya di Polres Malang, untuk pengawasan dan penggunaan senjata api, sudah ada mekanisme.
Tidak semua anggota, diperbolehkan membawa senpi. Anggota yang mendapat izin membawa senpi, katanya, adalah yang lolos pemeriksaan Propam dan internal. Termasuk pemeriksaan kejiwaan yang dilakukan bidang psikologi dari Polda Jatim.
‘’Bagi yang lolos kejiwaan, tidak langsung mendapatkan hadiah. Tetapi harus diseleksi lagi, apa layak dan sesuai dengan ruang lingkup kerja dan fungsi. Kalau dibagian staf atau admin, tidak perlu. Yang memegang senpi, yang berhubungan langsung dengan bahaya. Seperti reserse, lalu lintas, intel dan reskoba,’’ terangnya.
Hal yang sama, dilakukan Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, MHum. Dia juga akan mencek kembali penggunaan senjata api di anggotanya.
Sekalipun dia menjamin, semua pemegang senjata api, di lingkungan jajaran Polres Malang Kota, sudah melalui berbagai persyaratan sesuai dengan standar operasional prosedur Polri.
‘’Buktinya, beberapa waktu lalu, kita juga lakukan cek senjata api secara mendadak. Baik itu kebersihan senjata api ataupun surat izinnya. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan secara rutin, namun juga dilakukan saat ada hal-hal tertentu. Seperti kesiapan pengamanan pemilu dan sebagainya. Sejauh ini, tidak ada permasalahan,’’ tegasnya.
Sedangkan Polres Batu, justru tidak melakukan antisipasi berlebihan, meski ada kasus penembakan di Polda Metro Jaya. Alasannya, jauh-jauh hari, Polres Batu, sudah melakukan berbagai upaya, untuk menghindari kasus serupa di Batu.
Kasubag Humas Polres Batu, AKP Yantofan menjelaskan, antisipasi itu antara lain dilakukan dengan pembinaan mental. Semua anggota Polres Batu, khususnya mereka yang membawa senjata api, dikumpulkan di masjid Polres. Mereka diberikan pembinaan rohani oleh pimpinan dan para ulama. Baik dari wilayah batu maupun luar Batu.
‘’Bagaimana pengendalian emosi oleh para anggota, hal itu penekanan dalam pembinaan rohani atau mental. Bagaimana proses komunikasi antara atasan dan bawahan. Bagaimana komunikasi dengan bawahan, hal itu dibicarakan. Malahan para kiai juga menghubungkan cara komunikasi seperti itu dengan ajaran Alquran dan hadist,’’ tegas Yantofan, kemarin.
Menurutnya, pimpinan di Polres Batu, juga bersikap terbuka. Dengan keterbukaan itu, mereka bisa melakukan konsultasi hingga mengutarakan permasalahan. Baik menyangkut tugas, keluarga maupun permasalahan lain. (agp/feb/mar)