Beli Tanah, Tokoh Masyarakat Dipermasalahkan

Samsul dan Sanali, ketika dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kepanjen.

MALANG – Seorang tokoh masyarakat Desa Baturetno Kecamatan Singosari, Samsul diperkarakan oleh Mustajib, warga Desa Sidoluhur Kecamatan Lawang ke Polres Malang. Samsul dituduh telah memalsukan akta jual beli (AJB) tanah yang berada di Desa Sidoluhur. Bahkan, perkara dugaan pemalsuan tersebut, kemarin sudah masuk di Kejaksaan Negeri Kepanjen.
Penyidik Reskrim Polres Malang yang menangani perkara itu, melimpahkan berkas perkara beserta tersangka setelah dinyatakan P21 (lengkap). Selain Samsul, satu orang yang ikut ditetapkan tersangka adalah Sanali, warga Desa Baturetno. Sanali dijadikan tersangka karena yang menandatangani AJB.
Sementara Samsul, yang kemarin ditemui di Kejaksaan Negeri Kepanjen saat dilimpahkan, mengatakan bahwa dirinya tidak memalsukan. Tanah yang menjadi pokok perkara, adalah miliknya secara sah yang dibeli pada Mustajib, beberapa tahun lalu sebesar Rp 100 juta.
“Tanah itu adalah milik saya. Dan saya membelinya dengan uang cash beberapa tahun lalu. Ada saksi yang mengetahui kalau saya membeli tanah itu. Saya akan buktikan kalau tidak bersalah. Warga saya akan demo, kalau saya sampai ditahan karena tidak salah,” tutur Samsul, yang dibenarkan oleh Sanali.
Suwito Wijoyo SH, kuasa hukum Mustajib, menceritakan permasalahan ini muncul berawal dari akhirnya 2008 lalu, Mustajib meminjam uang sebesar Rp 215 juta kepada Samsul. Sebagai jaminannya tiga bidang tanah. Dua bagian di Desa Srigading Kecamatan Lawang senilai Rp 115 juta dan satu bidang di Desa Sidoluhur. Tanah akan ditebus kalau Mustajib sudah memiliki uang.
Pada awal 2013, Mustajib lalu menebus tiga bidang tanah tersebut. Dua bidang tanah di Desa Srigading diberikan. Namun satu bidang tidak diberikan dengan alasan sudah terjual. “Mungkin karena tidak bisa mengambil dan merasa pemilik tanah, Mustajib lalu menebang pohon kayu sengon yang ada di lahan. Tetapi oleh Samsul klien saya dilaporkan pencurian. Karena klien saya mengetahui kalau dilaporkan, lalu awal Maret 2013 lapor balik dengan tuduhan pemalsuan,” jelas Suwito Wijoyo.
Baru pada 2010, Samsul meminta tolong Kepala Desa Sidoluhur Dimyadi, untuk mengurus surat. Tetapi selama setahun tidak ada penyelesaian. “Ketika saya tanyakan kenapa kok lama, ternyata meminta biaya Rp 8 juta. Kemudian saya meminta tolong Kepala Desa Baturetno Mufid. Selama sekitar tujuh bulan ditangani, belum selesai dengan alasan harga masih belum sepakat,” jelas Samsul.
Karena terlalu lama, Samsul lalu meminta tolong Sanali untuk mengurus semuanya berkoordinasi dengan Dimyadi. “Selanjutnya dibuatkan AJB oleh Dimyadi. Dan Sanali diminta untuk meminta tandatangan Mustajib, tetapi karena tidak ketemu akhirnya ditandatangani sendiri. Tetapi sebelumnya Sanali, sudah menanyakan kepada Mustajib apakah tanah itu sewa atau digadai, dijawab kalau tanah sudah dijual kepada saya,” terangnya.
Sanali dikonfirmasi terpisah juga menyatakan hal yang sama. Bahwa saat ditanya, Mustajib mengatakan kalau tanah sudah dijual. “Saya berani sumpah pocong untuk membuktikan. Karena saya sama sekali tidak salah dan tidak mengerti awalnya, karena hanya diminta mengurus,” papar Sanali.(agp/aim)