Buruh Tani Kendalikan Peredaran Ganja

MALANG - Jajaran Satreskoba Polres Malang Kota kembali membongkar jaringan narkoba yang sering beroperasi di kota Malang. Kali ini, polisi berhasil menyita barang bukti cukup besar. Yakni 7,5 kg ganja dan 16.000 pil LL. Sedangkan dua pelakunya yang berhasil ditangkap yakni Findy Havizh Qonhar, 30 tahun, warga Jalan Karyawan, Tumpang dan Ngati’i alias Dasim alias Iwan, 28 tahun, warga Desa Sukolilo RT26 RW10 Wajak. Hingga kemarin, keduanya masih diperiksa intensif petugas.
Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, M.Hum mengaku cukup puas dengan kinerja anggotanya. Bahkan, dia meminta agar kedua tersangka diperiksa intensif untuk mengungkap jaringan yang lebih besar di dalamnya. “Saya cukup apresiasi dengan kerja anggota yang berhasil mengungkap peredaran narkoba dengan barang bukti yang lumayan besar. Paling tidak, dengan keberhasilan ini, peredaran narkoba di kota Malang akan berkurang,” tegas mantan Kapolsek Trenggalek ini.
Informasi yang dihimpun Malang Post, kali pertama polisi menangkap Findy dengan barang bukti satu garis ganja. “Kami mendapat informasi bila tersangka ini memang kerap menggunakan ganja dan mengedarkannya. Dia akhirnya berhasil kami tangkap di suatu tempat, setelah ketahuan membawa barang bukti ganja,” ungkap salah satu sumber Malang Post di Polres Malang Kota. Saat diperiksa, Findy yang lulusan SMP ini, mengaku sering membeli ganja dari Ngati’i.
Mendengar nama tersebut, tanpa menunggu waktu, anak buah Kasatreskoba, AKP Maryono itu memburu Ngati’i. Pria yang bekerja sebagai buruh tani ini berhasil ditangkap dan tidak bisa mengelak ketika di saku celananya ditemukan satu garis ganja. “Saat dilakukan penggeledahan di rumahnya, ditemukan lagi sekitar 7 kg ganja dan 16.000 pil LL yang masih terbungkus rapi. Ini yang masih kita kembangkan untuk mendapatkan bandar besarnya,” tambah sumber ini.
Kepada Malang Post, polisi menduga bila Ngati’i yang tidak tamat SD ini sering mengendarkan ganja di kalangan mahasiswa kota Malang. Informasinya, Ngati’i menjual ganja dengan harga antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta per kg. Sedangkan pil LL, dijual dengan harga Rp 700.000 per 1.000 butir. “Bisa dihitung sendiri berapa pendapatan tersangka dari berdagang narkoba itu,” pungkasnya. Findy sendiri dijerat dengan Pasal 111 (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 sedangkan Ngati’i dijerat lebih berat yakni Pasal 114 (1) dan Pasal 111 (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009. (mar)