BI Ragukan Kebenaran Laporan Bank Danamon

MALANG – Kantor Bank Indonesia (BI) menanggapi permasalahan antara Bank Danamon Malang dengan Thomas Kusumawijaya, seorang debiturnya. Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Rini Mustikaningsih mengaku sejauh ini BI sebenarnya sudah bertemu dengan Thomas dan M.S Alhaidary SH, MH, kuasa hukumnya untuk berkomunikasi dan memantau perkembangannya. Menurut dia, komunikasi itu dilakukan sudah lebih dari sekali. Bahkan ketika warga Jalan Imam Sujono Malang tersebut meminta untuk melihat Informasi Debitur Individual (IDI) di BI, juga dilayaninya dengan baik.
“Data ini sangat rahasia. Yang bisa mengetahui hanyalah pihak bank, debitur dan BI. Bila debitur meminta, sudah seharusnya diberikan. Semua masyarakat yang datang kami layani dengan baik secara langsung sesaat datang di kantor BI,”  terang dia. Sebenarnya, masih menurut Rini, bank tempat debitur memiliki kredit juga wajib memberikan IDI ketika dibutuhkan karena hal itu sudah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. “Ya, kami juga sudah menerima surat permintaan keterangan dari pengacaranya. Namun langkah yang dilakukan oleh BI, hanyalah melakukan konfirmasi ke pihak Bank Danamon,” urainya.
Dikatakannya, sebelum BI menanggapi surat yang dilayangkan pihak debitur,  BI akan meminta klarifikasi terlebih dulu kepada Bank Danamon Kawi. Tetapi, lanjutnya, tanggapan yang diberikan justru belum sesuai dari pertanyaan yang diajukan BI. “Khususnya klarifikasi laporan pada bulan-bulan yang diragukan kebenarannya,” tegasnya. Bank Danamon justru menjawab bila debitur yang bersangkutan pernah melakukan keterlambatan pembayaran di bulan Oktober 2013 dan November 2013, namun sudah diselesaikan.
Padahal, sesuai dengan data yang ada di Sistem Informasi Debitur (SID) BI,Thomas masih dinyatakan sebagai debitur yang empat bulan menunggak atas fasilitas kredit di Bank Danamon Mikro Pasar Dinoyo, atas laporan dari Bank Danamon Cabang Malang Kawi ke Kantor BI. Yakni bulan Februari, Maret, Juni dan Agustus tahun 2013. BI, ujarnya, sudah memanggil pihak Danamon Simpan Pinjam Dinoyo dan Danamon Kawi untuk menjelaskan permasalahan dan meminta bank segera melakukan verifikasi ulang.
“Termasuk mengoreksi laporan jika ternyata terdapat kesalahan laporan pada SID. Saya juga sampaikan kepada bank agar tiga unit yakni DSP Dinoyo, Danamon Kawi dan CDC Danamon Ade Irma harus ditemukan jadi satu. Itu untuk mengetahui kekeliruan dari SID yang menunjukkan debitur sedang dalam posisi kolektabilitas 2,” papar Rini didampingi Edy Kristianto, Manajer Humas Bank Indonesia Malang. Dia menegaskan, BI tidak dapat dalam kapasitas merubah status kolektibilitas debitur, kecuali bank itu sendiri yang sudah mengajukan koreksi baik secara offline atau online.
Sementara untuk history IDI yang menunjukkan debitur pernah terlambat melakukan pembayaran, masih tetap ada jika memang itu adalah kondisi sebenarnya jika tidak benar tentunya akan berubah ke kondisi lancar atau kolektabilitas 1. Di sisi lain, BI juga menyayangkan ketika BI berstatus sebagai tergugat II dalam gugatan perdata yang dilayangkan Thomas kepada Bank Danamon. “BI merasa masih menjalankan tugasnya sesuai koridor,” tutupnya. (ley/mar)