Sangkal Tudingan, Kahar Bakal Polisikan Slamet

Kahar menunjukan bukti transfer yang tidak ada kaitannya dengan persoalan aksi penolakan tambang pasir di Gedangan.

MALANG - KH alias Kahar, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sempat disebut-sebut membekingi protes warga terkait penambangan pasir besi di Pantai Wonogoro, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, akhirnya angkat bicara. Dia membantah tuduhan yang dialamatkan warga kepadanya.
Tuduhan yang dilontarkan Slamet Ansori dan mengaku-ngaku sebagai pengurus Forum Masyarakat Peduli Lingkungan itu, pegawai yang kerja di Singosari itu mengancam akan melaporkan peristiwa yang menimpanya kepada polisi.
“Saya ini PNS dan bukan orang kaya, jadi mana mungkin mau membekingi aksi protes warga terhadap penambangan pasir. Jadi, tuduhan itu tidak benar dan perlu diklarifikasi. Apa yang terjadi di sana (Gedangan), itu tidak ada keterkaitan dengan saya,” ungkap Kahar kepada Malang Post.
Soal ada bukti transfer kepadanya?, Mantan Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) itu menerangkan, saat dirinya berdinas di Sumawe, itu dekat dengan seorang tokoh agama yang biasa melakukan pengajian yakni Komari. Orang itu, kenal dengan Untung yang menjadi ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan atau saat itu melakukan penentangan penambangan.
“Komari saat itu datang ke kantor untuk minta penjelasan prosedur izin penambangan. Karena saya dulu memang di Dinas ESDM (Energi Sumber Daya Mineral) Kabupaten Malang, akhirnya saya berikan penjelasan mengenai UU No.4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu. Termasuk, mengenai izin-izin yang harus dikantongi perusahaan ketika hendak menambang pasir. Kejadian itu, berlangsung sekitar April 2013,” terang Kahar.
Entah bagaimana lalu Komari mengajak Slamet. Tidak ubahnya tujuan pertama, Komari minta dijelaskan lagi dengan mengajak pria yang kemudian menuduhnya membiayai aksi warga itu.
“Setelah pertemuan itu, kami pun sudah jarang bertemu dengan Slamet. Termasuk, saat warga ketika itu melakukan demo. Hingga akhirnya, sekitar 4 Oktober 2013, dirinya di telepon oleh yang bersangkutan dan mengatakan ada di Jakarta untuk cek perizinan tambang itu,” terangnya.
Yang bersangkutan bersama seorang LSM dan tengah kehabisan uang. Makanya, mengaku kepada saya untuk diberikan pinjaman ‘peluru’, istilahnya Slamet menyebutkan uang, karena sudah habis. Karena dirinya sangat kenal dengan Komari, tambah Kahar, dia mengirimkan uang kepada Slamet sekitar Rp 8 juta.
 “Dari pengiriman itu, ternyata saya baru sadar kalau sudah ditipu. Bahkan, ada yang mengatakan kalau Slamet tidak di Jakarta. Malah pengiriman itu yang dipakainya untuk menghasut kalau saya yang membekingi aksi warga untuk protes dengan bukti transfer. Padahal, sudah jelas dia pinjam dan yang menipu saya,” tambah Kahar.
Dari bukti yang ada itulah, ujarnya, Slamet pun akan diadukannya ke polisi. Adapun tuduhannya, melakukan penipuan uang. “Bukti-bukti sudah ada. Tinggal saya laporkan ke polisi. Perlu juga diketahui, hubungan saya dengan Komari sangat baik,” tandasnya. (sit/aim)