Palu Melayang, Nyawa Hilang

NGAJUM– Nasib Mbah Salam, 85 tahun, pagi kemarin cukup tragis. Warga Dusun Gendogo, Desa Balesari, Ngajum ini tewas di tangan tetangganya sendiri, yakni Ponimin 45 tahun. Korban meregang nyawa setelah dipukul beberapa kali dengan menggunakan palu di kepalanya. Setelah dievakuasi, jenazah laki-laki tua tersebut dibawa ke kamar mayat RSSA Malang untuk dimintakan visum. Sementara Ponimin diamankan di Mapolsek Ngajum.
“Dari keterangan beberapa tetangga, kerabat serta perangkat desa, pelaku memang diketahui mengalami gangguan kejiwaan. Dia memang sering marah-marah ketika kambuh,” ungkap Kapolsek Ngajum AKP Sri Sugeng Waskito. Informasi yang diperoleh, kejadian berdarah yang menggegerkan warga sekitar itu, terjadi pukul 05.00. Saat itu, korban sedang berada di kamar mandi samping rumahnya.
Saat itu, dia melihat Ponimin sedang memindahkan selang saluran air yang mengalir ke kamar mandi rumahnya. Melihat hal itu, Mbah Salam lalu mendatangi Ponimin dan menegurnya. Tersinggung dengan perkataan korban, Ponimin langsung masuk ke dalam rumah. Dia mengambil sebuah palu dan langsung memukulnya berulangkali ke bagian kepala dan tangan Mbah Salam. Begitu korban tersungkur tak bernyawa, Ponimin lalu pulang. Kejadian pembunuhan baru diketahui sekitar pukul 06.00 oleh Misri, istri korban.
Saat membuka pintu depan, dia kaget dan berteriak histeris melihat suaminya tewas bersimbah darah. Warga sekitar yang mendengar lantas berdatangan. Dianggap kematiannya mencurigakan, warga lalu melapor ke petugas Polsek Ngajum. Polisi yang mendapat laporan segera datang ke lokasi.  Semula tidak diketahui siapa pelaku pembunuhan, karena tidak ada saksi yang melihat. Namun, kecurigaan mengarah pada Ponimin setelah Misri melihat Ponimin sedang bermain air, malam sebelum kejadian. Dari situlah, polisi lalu mendatangi Ponimin.
“Dia langsung mengakui telah membunuh Mbah Salam. Barang bukti palu yang digunakan menghabisi dan masih ada bercak darah, ditemukan dalam kaleng di bawah tempat tidur,” terang perwira ini. Menurutnya, keluarga korban telah mengikhlaskan kematiannya, karena mengetahui bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan. Sementara Ponimin yang diamankan, terlihat tenang dan sama sekali tidak merasa bersalah. (agp/mar)