SP3 Dipermasalahkan, Polisi Siap Melawan

MALANG - Perseteruan antara Direktur Utama PT. Hardlent Medika Husada (HMH), DR. F.M Valentina SH, M.Hum dengan mantan suaminya, dr. Hardi Soetanto,  seperti tiada akhir.
Kemarin, Harini, SH, hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang, mengabulkan permohonan praperadilan Hardi terhadap keputusan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) penyidik Satreskrim Polres Malang Kota, terkait laporannya, atas tindak pidana pemalsuan tanda tangan dan atau pencurian yang dilakukan oleh Valent, panggilan mantan istrinya, bulan Febuari 2013 lalu.
Dalam amar putusannya, selain mengabulkan permohonan itu, Harini juga menyatakan SP3 itu tidak sah dan meminta penyidik untuk melanjutkan proses penyidikan tersebut.
Menanggapi hal ini, Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, M.Hum mengaku, tim hukum segera mengajukan banding, setelah salinan putusan itu diterima. ‘’Kalau penyidik sudah berpendapat kasus pasal 263 KUHP dan atau 363 KUHP itu layak di-SP3, ya harus dilakukan. Segera mungkin kita banding,’’ terangnya.
Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK juga menambahkan, ada satu surat bank yang menguatkan bahwa perkara itu layak di-SP3 tidak dipergunakan hakim sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan perkara praperadilan.
Ditemui terpisah, Valent mengaku cukup kaget dengan putusan hakim. ‘’Kalau berdasarkan Pasal 82 ayat 1 KUHAP, proses praperadilan ini sudah gugur demi hukum karena selambat-lambatnya tujuh hari, hakim sudah harus memutuskan. Ini sudah lebih dari tujuh hari sejak perkara itu dimasukkan ke PN,’’ papar wanita yang juga pengacara ini.
Ibu dua anak ini membenarkan dilaporkan oleh Hardi terkait dugaan pemalsuan tandatangan atas pembukaan dan penutupan rekening nomor 0016.0.005300 atas nama Hardi Soetanto di BTPN Malang. “Rekening itu adalah milik saya pribadi, bukan milik bersama antara saya dengan Hardi,” paparnya. Valent melanjutkan, sengaja membuka rekening dengan nama dan KTP milik Hardi (saat masih menjadi suaminya), karena diminta tolong oleh Nurul Fauzia, karyawati BTPN Malang untuk pencapaian target jumlah nasabah.
“Nurul datang ke rumah saya untuk menawarkan TASETO (semacam tabungan berjangka). Saya lalu bantu untuk membuka rekening baru dengan memakai nama Hardi. Saya hanya tinggal tandatangan saja setelah Nurul mengisi semua aplikasi. Uang Rp 500 juta yang digunakan untuk rekening baru itu pun, didebet dari aliran dana rekening saya yang lain di BTPN Malang,” terang dia sambil menunjukkan bukti Memo Instruksi Nasabah pemindah bukuan dana Rp 500 juta dari rekeningnya, ke rekening atas nama Hardi Soetanto.
Warga Jalan Taman Ijen Malang ini juga menjelaskan, saat proses aplikasi itu, Hardi juga mengetahuinya. Dia menegaskan, tandatangan yang digunakan sebagai specimen adalah tandatangannya yang memang sengaja dibuat berbeda dengan tandatangan Hardi. “Tujuan saya agar dikemudian hari, uang itu tidak dapat dicairkan oleh Hardi. Jadi sebenarnya, tidak ada yang dirugikan karena itu memang uang saya yang akhirnya kembali lagi setelah jatuh tempo enam bulan,” tutupnya. (mar)