Hujan Sebentar, Lima Rumah Lenyap

MALANG – Hujan yang turun deras, namun tidak terlalu lama, ternyata membuat lima rumah di perumahan Royal Sigura-gura, lenyap. Rumah itu terkena longsor, kemarin sore dan langsung menyatu dengan aliran sungai.
Sebuah mobil pick up dan tiga motor (versi lain menyebutkan satu motor), ikut tertimbun longsor. Akibat bencana itu, lebih dari 20 warga mengungsi. Jumlah kerugian belum dihitung secara detail. Namun diprediksi hampir Rp 2 miliar.
Suara bruuuk…. bruuuk…. dan gemuruh, memecah keheningan warga Blok R, perumahan yang terletak di ujung gang III Jalan Sigura-gura itu sekitar jam 17.30 WIB.  
Warga langsung berhamburan menyelamatkan diri. Sebagian lain, berteriak minta pertolongan. Diselimuti kepanikan, warga lari  meninggalkan mobil dan motor di garasi dan jalan perumahan.
Dalam hitungan detik, lima rumah warga, bagai tertelan bumi (lihat grafis). Tiga rumah retak-retak dan delapan rumah lainnya, langsung dinyatakan sangat rawan. Longsor juga membentuk kubangan besar berdiameter sekitar 300 meter dengan kedalaman antara 20 meter sampai 50 meter.
Pantauan Malang Post, rumah yang terkena longsor itu, berada di Blok R. Di blok tersebut, terdapat 18 rumah. Sembilan rumah menghadap ke barat dan sembilan rumah lainnya menghadap sebelah timur membelakangi Sungai Metro.
Lima rumah yang hilang bersama longsor itu, menghadap sebelah timur. Tiga rumah disebelah lima rumah itu, mulai retak-retak. Rumah yang longsor langsung menyatu dengan Sungai Metro.
Hingga jam 20.00 WIB tadi malam, akses menuju perumahan itu langsung dipasang police line dan pembatas. Tujuannya agar warga tak masuk dalam kawasan yang sangat rawan longsor susulan itu.  
Hanya Satgas Permukiman, Dinas PU, Perumahan, Pengawasan Bangunan (DPUPPB), Bakesbanglinmas,  Tim SAR dan polisi serta Satpol PP saja yang boleh masuk ke kawasan Blok R. Itu pun untuk mengevakuasi barang yang tertinggal, serta melakukan pendataan rumah dan check kondisi lokasi bencana.
Warga yang menempati perumahan itu hanya pasrah. Satiyo, warga yang menempati rumah di Blok R No 17, harus menanggung kerugian berlipat. Betapa tidak, rumah tipe 48 yang baru ditempatinya tujuh bulan lalu itu ambles bersama mobil L 300 pick up bernopol N 8183 CJ dan motor.
‘’Mobil itu saya pinjam dari teman untuk mengevakuasi perabotan rumah,’’ kata Satiyo yang menempati rumah bersama istri dan tiga anaknya.
Ia menjelaskan, tanda-tanda longsor yang menyebabkan tembok rumah retak, sudah tampak sejak kemarin pagi. Karena itu, jam 08.00 WIB, Satiyo langsung mengevakuasi semua barang dalam rumah menggunakan mobil L 300 pick up yang dipinjamnya itu. Namun nahas, sore harinya saat akan mengevakuasi lemari, longsor sudah keburu menerjang. Beruntung, keluarganya sudah diungsikan lebih awal ke rumah kerabatnya.
Satiyo belum memastikan, jumlah kerugian yang dialami. Namun diprediksi mencapai Rp 400 juta. Jumlah tersebut sudah termasuk harga mobil dan motor. Sedangkan harga rumah, saat dibeli tahun lalu sekitar Rp 350 juta.
Andre Wijayanto, pemilik rumah di Blok R 12, juga harus mengungsi bersama istri dan adiknya. Rumah tipe 54 yang ditempatinya retak-retak. Saat menyelamatkan diri, Andre meninggalkan satu unit mobil Avanza miliknya, motor Ninja RR, Honda Revo dan Yamaha Vixon.  
‘’Saya sudah tidak berani tempati rumah itu. Kondisinya retak, sudah tidak aman,’’ kata Andre.
Sejumlah mahasiswi yang kontrak di perumahan tersebut, juga terpaksa menyelamatkan diri. Di Blok R No 5 misalnya, dikontrak oleh Rizki Agustin bersama dua temannya. Mahasiswi Fakultas MIPA UB asal Surabaya ini, memilih menyelamatkan diri, lantaran rumah yang ambrol terletak persis di depan kontrakannya.
Satiyo dan Andre Wijayanto, serta sejumlah warga memastikan segera  meminta penjelasan kepada pengembang perumahan itu. Sebab sebelumnya warga sudah menanyakan tentang kondisi bangunan dan selalu dijawab aman.
Pemkot Turun Tangan
Sementara itu, Wawali Kota Malang, Drs Sutiaji, Asisten Administrasi Pembangunan Setda Kota Malang, Ir Hadi Santoso, Kadis Pemuda dan Olah Raga, Indri Ardoyo, Kepala DPUPPB Ir JE Sulisitiyono, Camat Sukun Prijadi, langsung turun ke lokasi bencana. Kapolsekta Sukun, Kompol Toyib Subur, juga melakukan pendataan dan memimpin anggotanya membantu korban longsor.
‘’Ini murni musibah. Malam ini juga (semalam, Red.) pemkot melakukan identifikasi persoalan dan berusaha untuk memberi penanganan yang bersifat darurat kepada masyarakat. Terutama korban,’’ kata Sutiaji.
Salah satu bentuk perhatian pemkot, yakni menyediakan tempat evakuasi kepada warga yang tak memiliki tempat untuk mengungsi. Tempat yang disediakan untuk evakuasi yakni di Rusunawa Buring.
Kepala DPUPPB   JE Sulisitiyono menjelaskan, penyebab longsor secara teknis karena bangunan perumahan berdiri diatas tanah urugan dengan pemadatan yang tak sempurna.
Sudah begitu, ketinggian yang terlalu curam, tak disiasati dengan pembuatan teras sering. Sehingga mudah longsor. Apalagi saat hujan mengguyur kemarin.
Kapolsekta Sukun, Kompol Toyib Subur memastikan, tidak ada korban jiwa akibat bencana itu. Pasalnya warga sudah antisipasi sejak pagi setelah mengetahui tanda-tanda longsor. (van/avi)