Tersangka Dugaan Korupsi Masih Dapat Suara

MALANG – Masih ingat dengan nama Pupuh Swastomo, calon legislative (Caleg) dari Partai Gerindra yang ditahan karena kasus korupsi ? Ternyata, Sekjen KOPPINDO Kabupaten Malang ini, memiliki pendukung setia. Buktinya, dari rekapitulasi hasil perolehan suara Pileg 2014 pada 9 April lalu, Pupuh masih memperoleh suara di Dapilnya.
Pupuh yang berada di Dapil VI nomor urut 5 ini, mendapat suara lumayan cukup banyak, yaitu 286 suara. Kendati perolehan suara itu tidak mendongkraknya untuk mendapatkan kursi DPRD Kabupaten Malang, namun dia masih mampu mendulang suara. Padahal Pupuh ditahan di Polres Malang sejak awal Januari 2014 lalu.
 “Pupuh masih mendapatkan suara. Bahkan perolehan suaranya juga masih cukup lumayan. Perolehan suaranya apakah memang masih ada pendukungnya, atau orang asal mencoblos saya juga tidak tahu. Tetapi saya akui perolehan suara masih lumayan,” kata Unggul Nugroho, caleg Partai Gerindra kepada Malang Post.
Sementara itu, kasus dugaan korupsi yang dilakukan Pupuh Swastomo, Senin (28/4) besok, oleh penyidik akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen. Pelimpahan tahap dua tersebut, adalah pelimpahan tersangka bersama dengan barang buktinya. Itu setelah berkas kasus Pupuh sudah dinyatakan lengkap (P21).
“Hari Senin kasus korupsi Pupuh akan kami limpahkan ke Kejari Kepanjen. Saat ini semuanya sedang kami persiapkan, sehingga Senin pagi hanya tinggal menyerahkan ke Kejaksaan,” terang Kasatreskrim Polres Malang, AKP Muhammad Aldy Sulaeman SIK.
Kasus dugaan korupsi program Gerakan Produksi Peningkatan Pertanian Berbasis Korporasi (GP3K) pada Komunitas Petani Peternak Nelayan Indonesia (KOPPINDO) Kabupaten Malang, yang menyeret Sekjen KOPPINDO, Pupuh Swastomo bermula dari Kementerian BUMN memberikan tugas kepada PT. Pertani untuk melaksanakan program ketahanan pangan berbentuk program GP3K pada 2011 lalu. Dari program itu, PT. Pertani Malang bekerjasama dengan KOPPINDO selaku mitra koordinator petani. KOPPINDO mengkoordinir kelompok tani untuk menanam padi di wilayah Kabupaten Malang.
Pascapanen, KOPPINDO wajib menagih pengembalian pinjaman dari petani atau kelompok tani. Total pinjaman yang diberikan oleh PT. Pertani Malang kepada KOPPINDO melalui Pupuh Swastomo senilai lebih kurang Rp 2,3 miliar.
Ketika kelompok tani binaan KOPPINDO panen, maka wajib mengembalikan pinjaman ke KOPPINDO untuk diberikan kepada  PT. Pertani Malang, Juni 2012. Namun kenyataannya, ketika habis jangka waktunya, KOPPINDO hanya mengembalikan pinjaman dalam bentuk barang yang tidak terpakai dan uang tunai yang nilainya tidak sesuai dengan pinjaman awal, yaitu hanya Rp 494 juta. Dari sinilah mulai terkuak dugaan korupsi. Berdasarkan audit BPKP yang dikeluarkan 30 Desember 2013, jumlah kerugian negara sebesar Rp 1,27 miliar.(agp/aim)