Sengketa Rumah Jalan Rinjani 14 Malang

MALANG- Polres Malang Kota menegaskan segera menindaklanjuti proses penyidikan terhadap kasus pemalsuan data autentik yang dilakukan Tjang Siang Bing alias Guntur Prayitno, warga Jalan Rinjani 1 Malang. Bahkan polisi sudah siap melanjutkan pengusutan kasus ini hingga tuntas. Hal ini dikatakan Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suhariyanto SIK, M.Hum kepada Malang Post kemarin. “Terhadap perkara pengalihan rumah dan tanah di Jalan Rinjani 14 Malang, pasti kita tindak lanjuti proses penyidikannya,” kata dia.
Senada dengannya, Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Arief Kristanto SH, SIK mengungkapkan bila pihaknya sudah mendapat berkas-berkas perkara tersebut dari pengacara Erni Susilowati Nurhansah, anak kandung Han Kian Gwan alias Ivan Nurhansah, pemilik rumah Jalan Rinjani 14 Malang. “Masih dalam proses,” ungkap mantan Kasatreskrim Polres Tuban itu. Namun untuk menyeret Guntur sebagai tersangka, Arief, sapaannya menegaskan akan melihat fakta hukum dan fakta di lapangan.
“Selain itu didukung alat bukti dan hasil keterangan dari para saksi nantinya,” terang dia. Sementara itu, M.S Alhaidary, kuasa hukum Erni mengaku sekitar tahun 2008 pernah mengirimkan surat kepada pengusaha restaurant Country Singosari itu untuk mengembalikan tanah, rumah dan sertifikatnya. Namun, permintaan itu tidak ditanggapi, bahkan sudah dibalik nama ke nama Guntur sendiri dan dijual ke pihak lain.
“Sewaktu diproses di Polwil Malang dulu, beberapa ahli sudah diperiksa dan berpendapat semua akta yang dijadikan dasar perolehan atau peralihan hak atas tanah itu tidak sah atau palsu,” ungkapnya. Termasuk dalam gelar perkara yang diadakan Polwil Malang, lanjut Haidary, sudah memenuhi unsur dan  cukup bukti untuk ditindaklanjuti dengan memanggil dan memeriksa Guntur sebagai tersangka. ”Sekarang, setelah ditangani Polres Malang Kota, saya belum tahu perkembangannya,” ujarnya.
Sebab itu, kata Ketua DPC Ikadin Malang Raya ini, pihaknya sebagai kuasa ahli waris mengirimkan surat kepada Kapolres Malang Kota tertanggal 16 April 2014 untuk melanjutkan proses penyidikan dengan prosedur hukum yang berlaku. Dia menerangkan, ada satu bukti dan keterangan saksi dari mantan hakim Pengadilan Negeri (PN) Malang, T.L. Sitorus ke penyidik Subbagreskrim Polwil Malang.
“Dia mengatakan tidak pernah menyidangkan dan membuat putusan pengadilan tentang pembatalan perkawinan antara Ivan Nurhansah dan Sudarmi, istrinya. Dia juga sudah memberikan kesaksian di Polwil Malang dan menyatakan putusan itu tidak sah alias palsu,” ungkapnya.  Menurut Sitorus, selain tidak pernah menyidangkan, surat putusan itu juga janggal dan palsu.
Yang pertama, penomoran dalam surat putusan itu hanyalan Nomor 175/1980/G. Seharusnya yang benar adalah Nomor 175/Pdt.G/1980/PN.Mlg. Yang kedua, sesuai dengan UU Pokok Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, pembatalan perkawinan harusnya dilakukan di Pengadilan Agama, bukan di Pengadilan Negeri karena Ivan Nurhansah dan Sudarmi menikah secara Islam dan diterbitkan buku nikah KUA Kecamatan Donomulyo. (mar)