Rugi Rp 800 Juta, Pemkot ‘Ganti’ Rp 1.500

MALANG - Sehari setelah dilahap si jago merah, pedagang Pasar Blimbing mulai kehilangan pendapatan harian. Sudah begitu, mereka harus menanggung kerugian hingga ratusan juta, karena semua barang dagangan hangus terbakar.
Total kerugian ditaksir mencapai Rp 800 juta. Sementara Pemkot Malang, belum menunjukkan langkah penanganan serius untuk membantu meringankan beban yang diderita pedagang.
Derita yang ditanggung pedagang, memang berlipat ganda. Pasangan suami istri Burhanuddin dan Mistiari, misalnya. Harus menanggung kerugian sebesar Rp 250 juta.
Jumlah tersebut merupakan total barang dagangan yang hangus terbakar. Belum termasuk hilangnya pendapatan harian. Burhanuddin mengungkapkan, kerugian sebesar Rp 250 juta itu ditaksir berdasarkan nilai barang yang terbakar jadi arang.
‘‘Di dalam kios saya, yang terbakar terdapat beras 2 ton, minyak curah 25 jirigen (satu jirigen berisi 20 liter), kacang tanah 300 Kg, gula putih 200 Kg, kacang hijau 50 Kg, beras ketan 100 Kg, beras kacang 75 Kg,‘‘ katanya.
Mistiari menambahkan, sejumlah barang dagangan berupa makanan kemasan, mie, kecap, kopi kemasan dan berbagai makanan dan minuman kemasan juga ikut terbakar.
Celengan harian milik Mistiari, juga ikut ludes terbakar. Jumlah celengannya sekitar Rp 18 juta. ’’Saya tabung di celengan berbahan plastik sejak tiga bulan lalu. Setiap harinya saya tabung Rp 200 ribu. Ini yang tersisa hanya Rp 900 ribu,’’ katanya sembari menunjukan sembilan lembar uang senilai Rp 100 ribu kucel dan basah.  
Tak hanya itu saja, Mistiari dan suaminya harus kehilangan pendapatan harian. Setiap harinya, pasangan suami istri ini mendapat keuntungan antara Rp 4,5 juta hingga Rp 7 juta.
Sudah begitu, kemarin mereka masih harus berurusan dengan polisi. Burhanuddin dan Mistiari merupakan salah satu pedagang yang dihadirkan untuk memberi keterangan kepada Tim Laboratorium Forensik Cabang Surabaya saat olah TKP.
Untuk diketahui, kios milik Burhanuddin, ditengarai menjadi sumber api. Namun kepastiannya masih harus menunggu hasil uji laboratrorium forensik di Surabaya.
Berbeda dengan Ahmad Suradji. Pedagang pecah belah ini, menanggung kerugian sebesar Rp 150 juta. Barang dagangan berupa alat dapur dan kios miliknya, jadi arang. Sudah begitu ia kehilangan pendapatan sebanyak Rp 200 ribu per hari. ‚‘Dua hari ini saya tidak jualan. Semua barang dagangan sudah habis terbakar,‘‘ keluh warga Simpang Borobudur Utara ini.
Burhanuddin dan Ahmad Suradji, hanyalah dua pedagang pemilik kios dari total 12 kios yang terbakar, 13 unit emper yang terbakar dan sembilan unit tempat berdagang lainnya (emper dan kios) yang terdampak kebakaran.
Subardi MR, merupakan salah satu korban terdampak kebakaran. Pedagang barang pecah belah yang juga Ketua Koordinator Pedagang Pasar Blimbing ini, mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta. ’’Sebagian barang dagangan saya juga terkena,’’ terangnya.
Subardi pun tak bisa berdagang. Karena kios miliknya berada dalam area yang masih dipasang police line. Akibatnya ia kehilangan pendapatan harian. Menurutnya, setiap hari rata-rata mendapat penghasilan dari berjualan sekitar Rp 1 juta.  
Menanggapi kebakaran yang terjadi, Subardi tak ingin berspekulasi. Namun menurut dia, pedagang resah. Sebab mereka tak bisa berjualan sampai tahapan pemulihan pasca kebakaran tuntas. ’’Ya mau bagaimana lagi,’’ katanya singkat.  
Sementara itu Kepala Pasar Blimbing, Tumiran, S.Sos sudah mengirim surat resmi tentang laporan kejadian kebakaran lengkap dengan jumlah kerugian yang ditaksir sekitar Rp 800 juta.
Dalam surat resminya, Tumiran juga melaporkan 34 pedagang yang terkena musibah kebakaran. Tumiran sudah mengambil langkah penanganan pasca kebakaran. Salah satunya yakni menggratiskan atau tak memungut retribusi pasar yang biasanya wajib di bayar oleh para pemilik kios dan emper.
‘’Sejak kemarin (sesaat setelah kejadian) sampai hari ini (kemarin, Red.) kami tidak menarik retribusi dari pedagang yang terkena dampak kebakaran. Hal ini berdasarkan pertimbangan kemanusiaan,’’ kata mantan Kepala Pasar Kebalen ini.
Sesuai Perda Nomor 1 tahun 2011 tentang Retribusi Berjualan, pedagang memang diwajibkan membayar retribusi setiap hari. Jumlahnya ditentukan berdasarkan tempat dan ukuran lokasi berdagang.
Namun jika dirata-rata, retribusi harian yang wajib dibayar ke pemkot sebesar Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per hari. Namun demikian, Tumiran belum memastikan sampai kapan kebijakan itu diberlakukan.
Sedangkan penanganan pasar pasca kebakaran juga menunggu olah TKP selesai. ’’Sekarang masih dipasang police line. Dan akan ada olah TKP. Jadi masih tunggu,’’ katanya.

Sementara itu, sampai kemarin, Pemkot Malang belum memberikan pernyataan pasca terjadinya kebakaran Pasar Blimbing. Saat dikonfirmasi terpisah semalam, Sekretaris Daerah Kota Malang, Dr H Sofwan malah berkilah dan terkesan melemparkan tanggung jawab kejadian ini kepada bawahannya. Dia meminta koran ini untuk konfirmasi langsung ke Kepala Dinas Pasar Kota Malang, Bambang Suharjadi.
’’Bagaimana ini, saya lagi rapat. Tolong bisa tanya atau konfirmasi langsung ke Kepala Dinas Pasar, ya,’’ terang Sofwan.
Hanya saja, sangat disayangkan rekomendasi yang diberikan Sekda Kota Malang ini, justru tidak membuahkan hasil. Pasalnya, Bambang sendiri saat dihubungi, justru tidak bisa dikonfirmasi lantaran nomor kontaknya mati. Saat di sms, dia juga belum memberikan jawaban hingga berita ini diturunkan. (poy/van)