Eksekusi Rumah Ricuh, Pengacara Dipukul

Eksekusi rumah di  Dusun Bamban RT 03 RW 05, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis diwarnai dengan aksi bentrok kedua belah pihak. Teguh Dwiko Priyono, 55 tahun yang merasa masih memiliki rumah itu mencoba mempertahankannya dengan melawan orang-orang suruhan pemenang lelang, Intan Mega Nanda, 24 tahun warga Bukit Cemara Tidar Kota Malang.
Orang-orang suruhan Intan berusaha mengosongkan isi rumah yang diakuinya sudah menjadi miliknya, karena sudah menjadi pemenang lelang di Bank Danamon. Pintu kaca rumah sempat ada yang pecah karena, orang-orang suruhan Intan berusaha membuka paksa pintu rumah. Keributan sempat terjadi antara kedua belah pihak. Kuasa hukum Teguh, Indro Tito Cahyono pun mengalami luka di bagian atas pelipis mata kiri karena diduga menjadi sasaran aksi pemukulan orang suruhan Intan. Ada sekitar 10 orang suruhan Intan yang berusaha mengesekusi rumah itu.
“Karena tidak ada surat eksekusi dari pengadilan, saya sebagai kuasa hukum tentu keberatan. Tidak tahunya, malah kena pukul oleh dua orang suruhan pihak pemenang lelang,” kata Tito, sapaan kuasa hukum Teguh kepada Malang Post, kemarin.
Keributan yang melibatkan kedua belah pihak baru mereda, setelah anggota Polsek Pakis dan Polres Malang turun ke lokasi kejadian. Saat itu, beberapa perabot sudah dikeluarkan paksa dari dalam rumah.
Intan yang saat kejadian ada di lokasi mengaku, kalau yang dilakukan orang suruhannya sudah sesuai kesepakatan. Sejak rumah Teguh dibelinya dalam lelang Bank Danamon Indonesia pada 19 April 2013 lalu, beberapa langkah kekeluargaan sudah dilakukan terhadap Teguh. Namun, yang bersangkutan tetap mempertahankan dengan alasan hasil pembelian lelang belum sah sebelum ada surat eksekusi dari Pengadilan Negeri.
“Sebagai pemenang lelang yang membeli rumah itu seharga Rp 195 juta, tentu yang saya lakukan ini sudah sangat sabar. Selama setahun ini sudah mencoba baik-baik dengan memintanya untuk meninggalkan rumah yang dijaminkannya ke bank. Namun kenyataanya, yang bersangkutan justru tidak mau,” ungkap Intan.
Kalau pun orang suruhannya datang dan bermaksud mengeluarkan perabot Teguh, tambahnya, itu juga sudah diinformasikan seminggu sebelumnya. Pihaknya sudah datang dan meminta agar Minggu kemarin, Teguh dan keluarga meninggalkan rumah itu. Teguh malah mengkunci pintu rumah sehingga kami pun memaksa.
“Saya tidak tahu, apa alasan Teguh. Ketika rumah dijaminkan, tentu urusannya dengan bank dan bukan dengan saya. Kalau pun saya hari ini (kemarin,red) membawa orang suruhan, itu karena kuasa hukum Teguh mengatakan akan mempertahankan rumah dan sudah menyiapkan orang,” tambahnya.
Akibat masalah yang berlarut-larut dan upaya kekeluargaan tidak kunjung rampung, pihaknya sudah melaporkan Teguh ke Polres Malang. “Karena banyak alasan yang disampaikan Teguh untuk mempertahankan rumah, saya pun akhirnya melaporkannya ke Polres Malang,” paparnya.
Dikonfirmasi hal ini, Teguh menegaskan jika dirinya memang sempat menjaminkan rumahnya untuk pinjaman sebesar Rp 90 juta pada 2011 lalu, kepada Bank Danamon Pasar Besar. Dia sempat mengangsur sampai tujuh kali dengan besar angsuran Rp 2,170 juta.
“Pinjaman itu saya pergunakan untuk modal usaha. Sayangnya, memasuki angsuran ke delapan, usaha itu bangkrut. Sehingga, saya pun tidak bisa membayar angsuran,” terang Teguh.
Karena merasa tidak mampu sebelum jatuh tempo menginformasikan kepada pihak bank, mengenai usahanya yang bangkrut. Termasuk, dibantu untuk penyelesaian pinjaman. Dengan harapan, jaminan rumah bisa ditebus dengan aset tanah yang akan dijualnya.
“Saya waktu itu malah meminta tolong dibantu menjualkan aset tanah tersebut kepada Bank Danamon. Namun, karena di internal bank ada pergantian kepala, akhirnya masalah angsuran dan jaminan tidak diteruskan. Justru, pada bulan tiga (Maret) Tahun 2012, rumah saya dilelang dan tidak laku. Kemudian April Tahun 2013, dilelang dan terjual,” tambahnya.  
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diingikan, Polisi menemui Teguh dan Intan. Intinya, perabot rumah Teguh dikeluarkan dan rumah sementara tidak ditempati oleh kedua belah pihak. (sit/aim)