Mantan Rektor Kena ‘Gigit’ Lahan UIN

Imam : Kalau Saya Korupsi, Tembak Kepala Saya
MALANG - Pengusutan kasus dugaan korupsi, pengadaan lahan pembangunan kampus UIN Malang, terus menggelinding. Kemarin, giliran mantan Rektor UIN Malang, Prof Dr H Imam Suprayogo, yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Malang.
‘’Berdasarkan gelar perkara yang dilakukan bersama penyidik pada Rabu, terungkap peran mantan Rektor UIN Malang, Imam Suprayogo, dalam pengadaan tanah di Desa Tlekung, Junrejo, Kota Batu. Karena itu kami terbitkan surat perintah dimulainya penyidikan,’’ kata Kajari Malang, Munasim SH, kemarin sore.
Surat perintah dimulainya penyidik (Sprindik) atas nama Imam Suprayogo bernomor: 31/0.5.11/FD.1/05/2014 tertanggal 8 mei 2014. Sprindik tersebut, merupakan pengembangan.  Dengan diterbitkannya sprindik tersebut, maka status Imam Suprayogo menjadi tersangka. Status tersebut ditetapkan setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan barang bukti.
Munasim membeber sejumlah keterlibatan Imam Suprayogo dalam pengadaan tanah, untuk pembangunan kampus UIN itu. Diantaranya mengetahui dan menghendaki pembelian tanah menggunakan jasa calo.
‘’Ternyata itu (pembelian tanah melalui calo, Red.) kebijakannya. Bahkan mantan rektor ini (Imam Suprayogo, Red.) jalan bareng Nurhadi saat mencari lahan yang dibebaskan itu,’’ beber Munasim.
Imam Suprayogo pula, yang diduga mengatur mekanisme pembayaran tanah kepada warga, melalui Marwoto dan carik, Nurhadi.  Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi, terungkap Imam Suprayogo, bersama Marwoto dan Nurhadi, pernah besama-sama mengurus tanah di Tlekung.
Bahkan, lanjut dia, keterlibatan Imam Suprayogo juga berdasarkan ‘nyanyian’ Jamal Lulail Yunus saat diperiksa penyidik Kejari Malang.
‘’Aku lebih tahu dari PPK,’’ ungkap Munasim menirukan ucapan Imam Suprayogo kepada Jamal sebagaimana diungkap kepada penyidik.
Jamal Lulail Yunus, merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek pengadaan tanah pembangunan kampus UIN Malang di Tlekung, Junrejo. Jamal yang juga mantan Dekan Fakultas Ekonomi UIN itu, sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Imam Suprayogo segera dipanggil untuk diperiksa dengan status baru tersebut. Pemanggilan Imam dijadwalkan pekan depan. ‘’Kami sudah punya jadwal pemeriksaan. Tapi sebelumnya yang bersangkutan telah dimintai keterangan sebagai saksi,’’ kata dia.
Imam Suprayogo dijerat Pasal 3, Pasal 8, Pasal 9 junto Pasal 18 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dan juonto Pasal 55 ayat 1 KUHP. Ancaman hukuman berupa 20 tahun penjara.
Imam Suprayogo yang dihubungi terpisah, lantang menanggapi penetapan statusnya menjadi tersangka. Ia menyatakan siap menghadapi sangkaan yang diberikan korps Adhyaksa itu kepadanya.
‘’Saya akan hadapi sendiri. Saya tidak pakai pengacara atau pun kuasa hukum. Saya tidak korupsi. Saya tidak tahu apa-apa tentang kasus itu. Kalau saya korupsi, tembak kepala saya. Kalau perlu pengadilan di lapangan,’’ katanya saat dihubungi kemarin sore.
Imam mempertanyakan dasar atau alasan dirinya ditetapkan sebagai tersangka. Sebab, selama menjabat sebagai rektor UIN, ia tak berurusan secara teknis, termasuk tak mengurus uang pengadaan lahan.  
‘’Saya tidak ada kaitannya dengan urusan itu, kecuali pemgambilan kebijakan yang bersifat umum. Saya hanya buat kebijakan untuk membeli tanah di Junrejo,’’ tandasnya.
Namun, lanjut dia, urusan teknis seperti pelaksanaan pembelian lahan dan pembayaran dilakukan oleh PPK dan panitia. ‘’PPK yang tentukan harga tanah. Saya tidak ikut sampai disitu,’’ katanya.
Ia membantah mengenal Marwoto sebagaimana yang disangkakan oleh Kejari Malang. ‘’Saya tidak kenal dia. Wajahnya saja saya tidak tahu,’’ ujar Imam. Namun demikian, ia mengaku pernah ditunjukan lahan yang dibeli untuk lokasi pembangunan kampus UIN di Tlekung. Namun itu pun bukan didampingi Marwoto.
Imam menilai, Kejari Malang tidak jeli melihat kasus pengadaan lahan. ‘’Pintu korupsinya dimana? Saya tidak tahu. Saya tidak bersentuhan dengan uang itu. Aliran uangnya tidak lewat saya, tanpa tandatangan saya. Uang itu ditandatangani oleh PPK,’’ bebernya.
Untuk diketahui, Kejari Malang telah menetapkan sejumlah tersangka terkait pengadaan tanah pembangunan kampus UIN di Tlekung. Sebelumnya  yang ditetapkan sebagai tersangka masing-masing,  PPK,  Jamal Lulail Yunus, panitia pengadaan tanah Musleh Herry, Marwoto, Nurhadi, dan Syamsul Hadi. (van/avi)