Siswa SMK Dibunuh di Malang, Dibuang di Lumajang

MALANG – SMK PGRI 2 Malang berduka. Salah satu siswa kelas XII, Edwin Treo Febrian, meninggal dunia. Pemuda kelahiran 1996 itu, tewas diduga menjadi korban pembunuhan sadis. Usai dihabisi, jenazah warga Jalan Kasin Jaya Malang tersebut, dibuang ke jurang bawah Jembatan Perak (Geladak Perak), Desa Sumber Wuluh Kecamatan Candipuro Lumajang.
Belum diketahui, siapa pelaku pembunuhan siswa jurusan Teknik Informatika ini. Polsek Candipuro di-back up Polres Lumajang dan Polsekta Sukun, masih melakukan penyelidikan. Beberapa teman dekat korban, kemarin masih dimintai keterangan. Termasuk mencari motif di balik dugaan pembunuhan itu.
Besar kemungkinan, Jembatan Perak Lumajang, hanya sebagai tempat pembuangan mayat korban saja. Edwin diduga dieksekusi di sekitar Lapangan Sampo Kota Malang, kemudian mayatnya dinaikkan mobil dan dibuang ke Lumajang.
Jenazahnya, ditemukan Selasa (6/5) pagi, di aliran lahar dingin Semeru (dekat piket nol) oleh warga. Tubuhnya penuh luka. Terutama di wajah dan kepala. Kedua tangan dan rahangnya putus.  
Saat ditemukan, identitas korban masih Mr X. Tak ada satupun identitas yang melekat di tubuhnya. Dompet berisi identitas miliknya hilang. Termasuk HP serta sepeda motor Honda Vario N 2458 CD juga lenyap. Karena tidak ada yang kenal, jenazahnya saat itu langsung dibawa RSUD Dr Haryoto Lumajang.
Identitas Edwin baru terungkap, Rabu (7/5) siang. Ketika itu, keluarga yang melihat tayangan berita di salah satu televisi swasta, tentang penemuan mayat, langsung curiga. Mereka berusaha mencari tahu.
Apalagi sejak keluar rumah, Senin (5/5) sore, Edwin tak kunjung pulang. Sehari berselang, keluarga melaporkan hilangnya Edwin ke Polsekta Sukun. Karena sejak Senin malam itu, ponsel Edwin, tak bisa dihubungi.
‘’Senin sore itu, dia pergi tidak pamit. Setelah mengantarkan adiknya, dia langsung pergi lagi membawa sepeda motor. Setelah itu tidak pulang, sampai akhirnya ditemukan meninggal,’’ ujar Sutrisno.
‘’Ibunya telepon berulang kali, tidak diangkat. Ketika di SMS pukul 21.30, dibalas katanya masih di rumah temannya. Tetapi setelah itu HP miliknya saat ditelpon sudah tidak aktif lagi. Saya mengira, sepeda motornya hilang sehingga takut pulang,’’ sambungnya.
Informasi tentang ciri-ciri mayat Mr X di Lumajang, ditanyakan keluarga ke televisi yang menayangkan. Ciri-ciri yang didapat, korban memakai jaket warna putih, celana jeans, kaos warna kuning, celana dalam (CD) abu-abu, ikat pinggang pelangi, bertubuh kurus, kulit kuning serta potongan rambut mohak.
‘’Karena ciri-ciri yang sama, kami langsung berangkat ke Lumajang untuk mengecek. Ternyata memang benar. Itu adalah anak saya Edwin,’’ tutur Sutrisno, ayah Edwin di temui di rumah duka.
Edwin adalah anak sulung dari empat bersaudara, pasangan Sutrisno 44 tahun dan Isnaini Kusuma, 39 tahun. Selama ini, dia dikenal pendiam dan tidak pernah bercerita tentang masalah yang dialami. Bahkan, Edwin dikenal sebagai pemuda supel yang tidak pilih-pilih mencari teman. ‘’Anaknya itu pendiam, dan tidak pernah aneh-aneh. Ketika salah dan ditegur, dia langsung menurut,’’ kata salah satu kerabatnya.
Setelah pengurusan dan otopsi jenazah selasai, mayat korban langsung dibawa pulang ke rumah duka, dini hari kemarin. Kamis pagi, sekitar pukul 09.00, jenazahnya langsung dimakamkan di pemakaman umum Kasin. Kedua orangtua serta keluarga merasa kehilangan sosok Edwin, yang suka bercanda. Mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan ketika jenazah Edwin diberangkatkan ke pemakaman.
Teman sekolah korban yang mendengar kematian Edwin, juga merasa kehilangan. Bahkan salah satu teman wanita dekatnya, Nova Rossaria langsung membuat status di akun facebook miliknya satu jam setelah Edwin dimakamkan. ‘’Penyemangatku semoga kau tenang sayang,’’ begitu status yang ditulis, sembari mengupload foto Edwin.
Masih di facebook itu, Nova mengakui menjalin hubungan dengan Edwin. Dalam statusnya, Edwin dan Nova terjalin sebagai pasangan kekasih. Jalinan kasih antara keduanya, dipertegas dengan status hidup bersama pada 23 Juni 2013.
Sementara itu, Kepala SMK PGRI 2 Malang, Suprijana, S.Pd, tidak bersedia memberikan keterangan, tentang keseharian korban di sekolah. Dia meminta wartawan konfirmasi langsung ke polisi.
Termasuk ketika Malang Post, meminta waktu menemui Nova, Suprijana berdalih, korban sudah kelas XII, sehingga tidak memiliki teman dekat yang aktif di mengikuti pelajaran. ‘’Yang pasti, hubungan almarhum dengan sekolah baik-baik saja,’’ ujarnya singkat, seraya menutup pembicaraan. (agp/ily/avi)