Motif Diduga Soal Asmara

Hingga berita ini ditulis, aparat kepolisian, masih menyelidiki motif di balik pembunuhan Edwin Treo Febrian, siswa kelas XII SMK PGRI 2 Malang. Apakah karena perampasan motor dan ponsel, setelah kedua barang itu raib. Termasuk dompet yang berisi identitas korban.
Namun pihak keluarga menduga, kematian Edwin karena masalah wanita. Bisa jadi terkait hubungan Edwin dengan teman wanitanya di sekolah. Atau justru terkait dengan bekas pacar korban, ketika masih SMP. Nama yang sempat diingat, berinisial A.
Meski sudah putus dan A langsung menikah, setelah lulus SMP, keduanya masih sering berkomunikasi. Padahal A, sudah punya anak. Bahkan, keduanya sempat bertemu.
Apalagi beberapa waktu lalu, orangtua Edwin, sempat didatangi oleh seorang wanita dan tiga orang laki-laki berbadan besar. ‘’Wanita itu mengaku bibi A dengan tiga orang preman. Mereka mengancam akan melakukan sesuatu, jika Edwin masih berhubungan dengan A,’’ terang Sutrisno, ayah korban.
Kecurigaan Edwin dihabisi oleh orang suruhan keluarga A, semakin kuat, karena Sabtu dan Minggu lalu, Edwin diketahui teman-temannya bertemu dengan A.
‘’Tapi kami tidak mau menuduh. Siapapun pelakunya, kami minta supaya dihukum seberat-beratnya. Keluarga menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian,’’ tutur keluarga korban.
Lantas dimana lokasi Edwin dibunuh? Keluarga tidak mengetahui. Namun berdasarkan keterangan yang didapat, Senin (5/5) malam sekitar pukul 23.00, Edwin masih mondar-mandir di sekitar Lapangan Sampo. Setelah itu, Edwin sudah tidak diketahui lagi. ‘’Teman saya ada yang tahu, Senin malam Edwin masih di sekitar Sampo. Dikira teman saya, Edwin mau pulang. Kemungkinan Edwin ini dieksekusinya di sekitar Lapangan Sampo,’’ papar Sutrisno.
Polisi sendiri, terus mencari pelaku dan motif pembunuhan. Kemarin, polres Lumajang mengirimkan tim buru sergap (buser) ke Kota Malang, untuk berkoordinasi dengan Polsek Sukun.
Tim beranggotakan tujuh orang itu, mampir ke Mapolsek Sukun, untuk menggali informasi dari sejumlah teman dekat. Antara lain Teguh dan Riski Maulana, serta saudara korban.
Polisi menduga Edwin dibunuh. Indikasinya, pada jenazah korban, didapati luka seperti bekas jeratan pada leher, kepala bagian belakang, mulut, rahang hancur dan kedua tangan serta kakinya patah.
‘‘Tim buser Polres Lumajang datang untuk mendapat keterangan diantaranya dari teman dan paman korban. Jadi, mereka tidak perlu harus ke Lumajang, cukup dimintai keterangan dari sini. Kasus ini memang ditangani langsung Polres Lumajang,’’ terang Kapolsek Sukun, Kompol Muhammad Toyib Subur.
Sebelum sampai Mapolsek Sukun, tim buser dari Polres Lumajang ini juga menyisir beberapa wilayah Kabupaten Malang. Tepatnya dari arah Lumajang, Dampit hingga Kepanjen. Itupun untuk mengumpulkan data terkait kematian Edwin.
’’Kami memfasilitasi proses penyelidikan yang dilakukan Polres Lumajang, karena korban merupakan warga Kecamatan Sukun. Kami belum berani menduga, apakah kematiannya ini karena dibunuh, atau hal lain. Sebab, Polres Lumajang juga masih melakukan penyelidikan, termasuk motifnya,’’ terang Toyib. (agp/poy/avi)