Jasad Ilma Belum Ditemukan

MTs 01 Al Maarif Singosari Janji Stop Program Rekreasi
SINGOSARI-Jasad Ilma Nur Afrida siswi MTS 01 Al Maarif Singosari, belum berhasil ditemukan tim SAR di Parangtritis, kemarin. Ilma diduga masih terjepit dalam palung di kawasan Parangtritis.  Proses pencarian Jasad Ilma sendiri sempat terganggu hujan deras yang mengguyur kawasan pantai di Jogjakarta tersebut.
Jasad siswi berusia 15 tahun asal Desa Lang-lang, Kecamatan Singosari masih terjebak di air lautan. Pencarian tak kenal lelah dilakukan tim SAR, bahkan segera menambah jumlah personil. Seluruh kawasan pantai terus dilakukan penyisiran. Sayang, langkah itu masih belum menemukan titik terang.
“Sampai hari ini masih terus dilakukan pencarian. Bahkan, ada tiga perahu motor tim SAR yang turut diterjunkan dalam pencarian itu,” kata Paman Ilma, Hartono di rumah duka.
Pria yang domisili di Jalan Hamid Rusdi Timur itu menambahkan, selain dengan pencarian langsung di lokasi, keluarga juga mencoba meminta bantuan orang pintar. Hasilnya, diberitahu kalau korban posisinya sekarang tengah terjepit di karang.
“Dari meminta bantuan itu, diberitahu kalau tubuh Ilma sekarang masih terjepit. Sehingga, belum bisa keluar ke permukaan,” ungkapnya.
Ditambahkannya, proses pencarian tubuh keponakannya itu tidak sepenuhnya berjalan lancar. Penyebabnya, lokasi pantai yang masih sering terjadi hujan. “Di sana hujan masih sering terjadi. Sehingga, proses pencarian yang dibantu tim SAR tidak bisa berjalan maksimal,” imbuhnya.
Sedangkan rombongan siswa kelas 9 yang sedianya sampai di MTs 01 Al Maarif-Singosari tiba pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.30. Siswa yang baru turun dari bus, langsung diminta ke halaman sekolah. Selanjutnya, berdoa bersama-sama untuk dua temannya yang sudah meninggal dan berdoa agar tubuh Ilma segera ditemukan. Jenazah Aisyah sendiri, tiba di rumah duka sekitar Subuh dan pagi langsung dikebumikan.  
Bupati Angkat Bicara
Sementara itu, musibah tragis yang menimpa tiga siswi MTs 01 Al Maarif menuai reaksi dari Bupati Malang Rendra Kresna. Tak hanya menyatakan rasa duka mendalam, Rendra menyatakan bahwa musibah yang terjadi di MTs 01 Al Maarif-Singosari, merupakan bentuk keteledoran. Studi wisata seperti itu seharusnya digelar dengan susunan kepanitiaan yang jelas.
Sebuah studi wisata, hemat Rendra, wajib memiliki susunan kepanitiaan sekolah yang lengkap. Meliputi pembagian personil yang jelas untuk mendampingi siswa. Sehingga, jika ada hal darurat, maka sudah ada antisipasi dan tidak sampai memakan korban. Sekaligus siswa bisa dikontrol secara menyeluruh.
“Kalau memang ada guru pendampingnya (MTs Singosari), maka itu keteledoran,” ujarnya kepada Malang Post.
Kendati demikian, politisi dari Partai Golkar itu tidak akan mengeluarkan larangan rekreasi. Dia menegaskan bahwa rekreasi sah-sah saja dilakukan setiap sekolah. Namun dengan catatan, jika yang dikunjungi itu merupakan kawasan yang penuh resiko, sebaliknya dipertimbangkan kembali.
“Kita kemana saja, itu penuh resiko. Persoalannya sekarang, kalau lokasi itu memang rawan, maka susunan kepanitiaan dikuatkan. Sehingga, dengan antisipasi itu tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Atau, kalau memang terjadi maka kecil korbannya,” imbuhnya.
Sedangkan, Kepala Sekolah MTs 01 Al Maarif-Singosari, Imam Syafei, menegaskan bakal menghentikan rekreasi sekolah. Selama dirinya menjabat Kepsek dijabatnya, tidak akan lagi memperbolehkan siswa untuk melakukan kegiatan rekreasi.
Baik itu atas inisiatif siswa maupun sekolah. Baginya, kejadian Parangtritis sudah final sebagai pengalaman. Studi wisata malah berakhir menjadi bencana.
“Rekreasi ini cukup sekali. Tidak peduli inisiatif siswa atau siapa pun. Cukup sekali ini musibah hilangnya nyawa terjadi di MTs Al Maarif. Karena kalau sampai dua, maka akan seperti keledai,” tegasnya.
Terkait penanganan korban, dia sudah mengirimkan empat guru ke Parangtritis. Tujuannya, untuk memantau lokasi pencarian tubuh muridnya.
“Sampai hari ini masih belum ada kabar. Sekolah sendiri mulai kemarin (malam) juga telah ke sana (Parangtritis) untuk membantu upaya pencarian bersama keluarganya,” ujar Imam.
Upaya pencarian tersebut, tambahnya, juga dibantu dengan dua tenaga orang pintar (dukun) di lokasi pantai. Harapannya, tubuh korban segera mengapung sehingga bisa langsung dievakuasi. “Untuk orang pintar, dari pihak Parangtritis sudah menurunkan dua orang. Mudah-mudahan saja, cepat ketemu,” ujarnya.
Ditanya mengenai satu siswanya (Nanda Putri Dewi) yang sempat kritis, Kepsek yang sudah enam tahun menjabat itu menjelaskan, untuk kesehatan siswanya sudah mulai membaik. Bahkan, rencananya besok (Jumat) sudah diperbolehkan dibawa pulang.
“Nanda di rumah sakit tidak sendirian. Selain dua orang tuanya, juga ditemani dua teman sekolahnya (Hafid dan Ike),” tandasnya.
Seperti diberitakan Malang Post sebelumnya, rekreasi 53 siswa MTs 01 Al Maarif Singosari berakhir duka di Parangtritis Jogjakarta, Rabu (14/5) lalu. Rombongan rekreasi siswa kelas 9 paska UN ini, tergulung ombak Pantai Parangtritis. Delapan siswi terseret arus, dua diantaranya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, satu masih hilang dan satu kritis di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Siswi yang meninggal dunia adalah Aisyah siswa kelas 9a warga Jalam Tumapel Gang 6 Singosari dan Lailatul Maghfiroh siswa kelas 9e warga Pandaan-Pasuruan. Satu siswi bernama Ilma Nur Afrida masih dalam tahap pencarian Tim Search and Rescue (SAR) Pantai Parangtritis.
Sedangkan lima siswi Mts 01 Al Maarif Singosari berhasil diselamatkan tim SAR. Yakni, Difa Rizki Awaliyah, Thoriqotul Khoriyah kelas 9f, Sinta Dewi Ratnasari kelas 9e, Roshidatul Istiqomah kelas 9e dan Nanda Putri Dewi siswa kelas 9b yang sempat kritis.(sit/ary)