Tiba Subuh Tanpa Diotopsi

Tangis  pilu mengiringi pemakaman Ilma Nur Afrida, siswi kelas 9 E MTs 01 Al Maarif-Singosari  yang  terbawa arus ombak Pantai Parangtritis-Jogjakarta sejak Rabu (14/5) siang lalu. Jenazah Ilma ditemukan Kamis malam  langsung dibawa pulang keluarganya dan dimakamkan Jumat pagi  kemarin sekitar pukul 07.30 WIB.
Menjelang pemberangkatan jenazah remaja putri 15 tahun warga Desa Lang-lang-Singosari ke pemakaman desa setempat berjarak sekitar 100 meter dari rumah, ibu korban, Laila, nampak begitu sedih. Saat keranda pembawa jenazah mulai dibawa ke makam, ibu korban yang mengenakan jilbab itu pun langsung menangis. Sementara suaminya, Suyanto,  nampak lebih  tegar dengan nasib yang menimpa anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Prosesi pemakaman   diikuti warga,diikuti kerabat hingga teman sekolah korban berlangsung mengharukan. Pemakaman  rampung sekitar pukul 08.05, diakhiri kerabat dan teman sekolah siswi yang menjadi salah satu korban rekreasi ‘’maut’’  di  Pantai Parangtritis ini, dengan melakukan doa di sisi makamnya.
“Jenazah Ilma saat ditemukan dalam kondisi utuh. Sehingga, begitu selesai dievakuasi, saya pun langsung mengurus surat-suratnya. Termasuk, keberatan dilakukan otopsi karena kematian Ilma bukan karena tindak kejahatan. Sehingga, begitu urusan selesai langsung dibawa pulang dan sampai Singosari sekitar pukul 04.00,” kata Suyanto sambil menjelaskan luka anaknya hanya ditemukan di jidat. Sedangkan  untuk  wajah dan pakaian, tetap utuh dan mudah dikenali.  
Ditambahkan pria yang sejak musibah diberitahu langsung menuju Pantai Parangtritis itu, jenazah Ilma setelah dievakuasi tidak langsung dimandikan. Namun, dirinya memilih untuk memandikannya di rumah. “Di Jogjakarta tidak sampai dimandikan. Semua  proses memandikan dan menyolatkan dilakukan di rumah,’’  paparnya kepada Malang Post.
Pria yang tabah ini mengungkapkan  jenazah ditemukan  cukup jauh dari lokasi pertama terbawa arus. Sementara yang berhasil menemukan kali pertama, adalah seorang nelayan pencari ikan. Dari nelayan itulah kemudian disampaikan ke tim SAR Parangtritis dan dilakukan evakuasi.“Ketemunya sebelum Magrib dan langsung dilakukan evakuasi. Tapi karena harus mengurus surat-surat, baru sekitar jam 19.30 kami bisa membawa jenazahnya pulang,” imbuhnya.
Dipaparkan, selama proses pencarian dilakukan, diperoleh keterangan kalau anaknya bersama tujuh korban yang sempat terbawa ombak, melewati batas tanda larangan ke bibir pantai. Petugas pantai, sebenarnya sudah mengingatkan namun tidak dihiraukan.
“Ombaknya memang kencang. Arahnya ombak, itu tidak dari tengah ke tepi, tetapi seperti dari Barat ke Timur. Jadi, banyak orang yang tidak menyangka. Apalagi, begitu kena ombak itu seolah langsung ditarik ke dalam,” imbuhnya.
Disinggung mengenai firasat sebelum kejadian, Suyanto yang saat itu di ruang tamu bersama kerabat dan temannya, mengaku memang ada sedikit perubahan di prilaku korban. Diantaranya, seperti saat makan di rumah.“Biasanya, kalau Ilma sudah makan ya sudah. Tapi selama sebulan ini, ketika saya makan, Ilma selalu ikut makan,’’ kenangnya.
Usai pemakaman, rombongan warga, kerabat hingga teman sekolah korban, silih berganti mendatangi rumah duka. Tidak terkecuali, guru MTs 01 Al Maarif Singosari, pun turut bersama-sama murid mendatangi rumah Ilma. Termasuk, bersama-sama membacakan surat yasinan untuk anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Suyanto dan Laila itu. Bahkan, dari siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) 01 Al Maarif-Singosari bersama guru-guru, juga turut datang dan melakukan doa bersama.  
Dalam kesempatan itu, guru pendamping rombongan rekreasi, Abdul Rahman Iskak, pun turut bersama rombongan guru MTs 01 Al Maarif-Singosari. Kepada Malang Post, pria ini mengaku banyak sekali keganjilan selama bersama rombongan ketika di di Pantai Parangtritis. Keganjilan itu, baru disadarinya setelah siswa terbawa ombak.“Antara percaya atau tidak, keganjilan itu saat delapan siswa mulai ke bibir pantai. Saya sudah mengingatkan, tetapi tidak dihiraukan. Padahal, biasanya setelah mereka begitu ditegur langsung respon.
Keganjilan lain adalah  seorang siswa mengaku bermimpi ditemui seseorang berpakaian putih. Katanya, agar tidak ke pantai Parangtritis. Namun, hal itu tidak sampai disampaikan. Sampai-sampai, Nanda (Nanda Putri Dewi yaitu korban yang sempat kritis,red) sebenarnya tidak diberikan izin orang-tuanya. Dengan alasan, Rabu itu weton (tanggal lahir  perhitungan Jawa,red) Nanda. Tetapi karena memaksa, akhirnya diberikan izin dengan harus berhati-hati dan menjauh dari pantai,” katanya.
Kepala Sekolah MTs 01 Al Maarif-Singosari, Imam Syafei, dikonfirmasi menjelaskan jika satu siswanya sementara masih harus menjalani perawatan di RSUD Bantul. Nanda yang sebelumnya sudah diperbolehkan pulang, diundur hingga  hari Minggu besok. Meski demikian, Nanda tetap didampingi guru, seorang perawat khusus (adik tenaga pengajar di MTs 01 Al Maarif), dua temannya dan kedua orang tua Nanda.
“Nanda kabar terakhir masih belum pulang. Kemungkinannya, Minggu besok. Walau pun begitu, guru dan temannya tetap menyertai. Termasuk seorang perawat, yang bagian mengurusi keperluan obat-obatan yang biayanya ditanggung sekolah,” paparnya.
Sementara itu Kasubag TU Kementerian Agama Kabupaten Malang, Mohammad As’adul Anam, ditemui di ruang kerjanya menjelaskan kalau permasalahan yang menimpa MTs 01 Al Maarif-Singosari, menjadi tanggung-jawab sekolah dan yayasan. Kementerian Agama, dalam hal ini hanya sebagai pembina. Jadi, tidak bisa membatasi sekolah atau madrasah untuk melarang rekreasi atau boleh.
“Di sini hanya sebagai pembina. Lebih dari itu, tidak bisa. Karena semua diserahkan ke sekolah dan yayasan tersebut. Kalau saran, mungkin kami bisa memberikan kepada madrasah. Seperti harus lebih hati-hati dan direncanakan dengan matang. Sehingga, tidak sampai terjadi musibah,” ujar Anam,sapaan akrabnya. (sit/nug)