Kelas Angker, Enam Siswa SMPN 1 Tumpang Kesurupan

TUMPANG- Enam siswa SMPN 1 Tumpang, Jumat sekitar pukul 11.40 kemarin, mengalami kesurupan. Enam siswa itu masing-masing Renol Ricky, Tania Caroline, Vega, Maulina Dea, Vika Erifa dan Vela Putri Hanita, semuanya murid kelas 8B. Awalnya, mereka tiba-tiba berteriak, tertawa dan naik ke meja kelas, saat mengikuti pelajaran terakhir. Akibat kejadian itu, kontan beberapa guru yang hendak Salat Jumat, harus membantu sejumlah siswanya.
“Pertama kali yang kena (bertingkah aneh) itu Renol. Tiba-tiba saja dia bicara dengan kata-kata kotor. Bahkan, sempat naik juga ke meja. Padahal, saat itu ada guru. Dari situ, kemudian merembet ke siswi lain. Kalau yang perempuan teriak-teriak dan tertawa sendiri,” kata siswa kelas 8B, David Wahyu Saputra dan Rizal Abdul Zaini, disela mengikuti latihan futsal di halaman sekolahnya.
Menurut dua siswa tersebut, kejadian bermula ketika jam pelajaran di kelasnya tengah kosong. Kebetulan pelajaran Fisika yang harusnya diisi guru Amnan, sedang berhalangan mengisi jam terakhir. Sehingga, diisi guru Bahasa Inggris, Sajin. “Tujuan awalnya,  melakukan terapi penenangan hati dengan membaca kalimat Astaghfirullah. Saat itu, memang sebagian siswa sempat menangis. Tapi tidak berapa lama atau kira-kira 15 menit, tiba-tiba Renol berkata-kata kotor. Kejadian itu, langsung cepat merembet ke siswi lain,” ungkapnya.
Masih menurut kedua siswa kelas 8B itu, akhirnya Pak Sajin meminta tolong Pak Mustofa, Guru Agama, yang saat itu akan salat Jumat. Selanjutnya, satu-persatu siswa disadarkan dan diantarkan pulang. “Paling sekitar 15 menit, langsung semua siswa disadarkan dan diantarkan pulang. Karena saat itu, memang sudah jamnya pulang,” imbuhnya sambil dikerumuni teman-temannya.
Sementara itu tukang Kebun SMPN 1 Tumpang, Temon, membenarkan tentang adanya siswa yang kesurupan. Meski pun mampu diatasi guru-guru dan jumlahnya juga tidak terlampau banyak. “Sebenarnya di sini (SMPN 1 Tumpang, red.) itu, dahulu sangat sering kejadian kesurupan. Makanya, saya tidak kaget ketika diberitahu ada yang kesurupan. Bahkan seingat saya, kejadian terakhir kesurupan itu sekitar tahun 1992. Jumlah siswa yang kesurupan sekitar 12 hingga 15 siswa,” ujar pria yang menjadi tukang kebun sejak tahun 1986 itu.
Mengenai penyebabnya, Temon mengatakan, lebih banyak karena faktor internal yakni pada diri siswa-siswinya. Biasanya, mereka ketika bermain sesama teman, sering kebablasan. Termasuk, saat di musolla kadang juga begitu. “Di sini setiap Jumat, itu biasa mengajak siswanya untuk salat berjamaah. Saat itulah, biasanya siswa kadang keterlaluan bermain-mainnya,” paparnya.
Terpisah, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan SMPN 1 Tumpang, Robiyantono ditemui di rumahnya mengatakan, memang ada beberapa siswanya yang kesurupan. Tapi, semua sudah bisa diatasi oleh guru-guru. Bahkan, dirinya pun tadi juga sempat diberitahu dan mengantarkan seorang siswinya yang sempat kesurupan. “Iya, tadi memang ada. Tapi sudah normal dan siswa-siswi pulang sesuai jamnya,” katanya.
Ditambahkan Robi-sapaan akrabnya, sekolah itu sebenarnya angker. Khususnya, bangunan di sebelah belakang yang ada pohon Genitunya. Kebetulan, pohon itu paling dekat dengan kelas 8B dan 8C. “Untuk mengantisipasi itu, dulu malah sering dilakukan istighotsah bersama. Sampai akhirnya, kondisi sekolah sudah normal dan tidak terjadi apa-apa. Tapi sekarang, saya juga kaget kok bisa muncul lagi,” ujarnya.
Mengenai pengalamannya tentang hal aneh di SMPN 1 Tumpang, Robi mengurai, dari cerita orang-orang tua dahulu, lokasi sekolah itu dahulunya adalah benteng di zaman Belanda. Benteng itu, termasuk untuk tahanan warga pribumi. Karenanya, tidak salah kalau ada yang bilang angker. “Dulu pernah murid sini (SMPN 1 Tumpang), yang sampai kemasukan Singo Barong. Sampai-sampai, orang tiga yang akan menetralisir anaknya, tidak kuat menahan. Hingga dibawa ke padepokan untuk disembuhkan. Termasuk, dibuat perjanjian agar tidak mengganggu lagi. Makanya, dalam kejadian tadi tidak ada Singo Barong-nya,” tuturnya. (sit/udi)