Dua Kelompok Mahasiswa Tawuran

MALANG - Menjelang dini hari kemarin, dua kelompok mahasiswa asal Ambon dan Kalimantan saling serang di lingkungan kampus Universitas Kanjuruhan (Unikama) Malang. Kelompok mahasiswa asal Ambon yang sudah berkumpul di Jalan S Supriyadi Malang, sejak pukul 21.00 tiba-tiba menyerang sekelompok mahasiswa Kalimantan yang baru keluar dari dalam kampus. Sontak, kedatangan kelompok yang bersenjatakan benda tajam dan bambu ini, membuat para mahasiswa Kalimantan lari sembari bertahan di Jalan Keben (sisi utara kampus).
Haris Budi Kuncahyo, salah satu saksi mata menyebutkan, para mahasiswa Kalimantan yang diserang ini tidak menyadari bila puluhan pemuda Ambon juga menghadangnya di TPU yang berada di belakang kampus Unikama. “Tidak ada yang tahu kalau di TPU itu, sudah banyak anak-anak Ambon,” tuturnya. Dia menerangkan, saat bentrokan lebih besar hendak terjadi, anggota Polsekta Sukun sudah berdatangan. “Selang 15 menit kemudian, datang juga anggota dari Polres Malang Kota dengan senjata lengkap,” papar Haris, panggilannya.
Namun, kedatangan polisi ini rupanya tidak menyurutkan nyali para kelompok pemuda dalam bentrok fisik itu hingga mengakibatkan seorang pemuda terluka di kaki. “Suasananya tegang. Banyak mobil yang lewat jalan S Supriadi balik arah karena tidak berani lewat,” tegasnya. Sejurus kemudian, polisi pun meletuskan tembakan peringatan berulangkali. “Saya tidak ingat berapa kali tembakan peringatan untuk membubarkan tawuran itu. Pokoknya banyak sekali,” terang pria berusia sekitar 44 tahun itu.
Dijelaskannya, isu yang berkembang di warga sekitar, ketegangan antar kelompok mahasiswa ini sudah terjadi Kamis (22/5) malam. Ketika itu, kabarnya ada seorang pemuda asal Sumba yang mabuk, naik ke atas panggung konser Japanese Week. Saat naik inilah, dia menyenggol pemuda dari Kalimantan. Sontak, perselisihan pun terjadi. “Sebenarnya, sesaat setelah kejadian itu, anggota Polsekta Sukun sudah datang dan  meminta keterangan,” katanya. Menurut warga, tawuran yang terjadi menjelang dini hari kemarin, merupakan buntut dari kejadian di dalam kampus.
Sebab, kelompok mahasiswa Ambon dikatakan membela kelompok mahasiswa asal Sumba. Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, M.Hum mengakui ada persoalan kesalahpahaman perwakilan dari kelompok mahasiswa Sumba, Ambon dan Kalimantan. Hal ini dikatakannya usai melakukan pertemuan tertutup dengan  perwakilan tiga kelompok yang dianggap senior ini di ruang BEM Unikama. “Mereka sepakat untuk meredam teman-temannya untuk tidak bergerak yang mengarah pada pidana. Yang kedua, apabila ada persoalan dengan pihak lain, mereka diberi kesempatan untuk telepon ke Polres Malang Kota,” urainya.
Kalaupun tidak ada yang berani datang, mantan Kapolres Trenggalek ini sudah memerintahkan anggotanya untuk datang secara khusus. Anggota Sabhara sendiri, semalam langsung mengantarkan para mahasiswa Kalimantan yang sempat terjepit di Jalan Keben dengan menggunakan truk dan pengawalan penuh ke rumah kosnya masing-masing. “Yang ketiga, mereka juga sepakat untuk sama-sama meredam emosi supaya aman. Karena bisa didamaikan, kami juga tidak mengamankan seorang pun,” tegasnya didampingi para perwira Polres Malang Kota.
Carlos, salah satu pemuda asal Ambon yang mengikuti pertemuan itu juga meminta polisi untuk mengusut pelaku yang menciderai salah satu pemuda. “Kami meminta polisi untuk mencari dan menangkapnya,” ujarnya. Sayangnya, dikonfirmasi perihal kejadian ini, Rektor Unikama, DR. Pieter Sahertian tidak membalas SMS dan mengangkat teleponnya. Ponselnya hanya terdengar nada sambung. (mar)