Bentrok Mahasiswa Bersenjata

MALANG – Lagi-lagi bentrok dua kelompok mahasiswa antar daerah, terjadi di Kota Malang, tepatnya di Kawasan Tlogomas. Bukannya adu intelektual, kelompok mahasiswa Ambon dan Sumba malah terlibat adu senjata, sepanjang Senin (26/5) malam hingga Selasa (27/5) dini hari, kemarin. Aksi tawuran kelompok mahasiswa bersenjata itu, membuat kawasan Tlogomas mencekam sepanjang malam.
Setelah Jumat (23/5) lalu, tawuran terjadi di sekitar kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Tawuran antar mahasiswa kembali mengacak-acak Bumi Malang. Cukup mengherankan, sebab pada tawuran di Unikama, kelompok Sumba dan Ambon justru bersatu melawan kelompok Kalimantan.
Tawuran tersebut berlangsung selama sekitar enam jam. Dimulai pada Pukul 23.00 hingga Subuh sekitar pukul 04.00. Pertarungan dua kelompok mahasiswa memaksa Brimob bersenjata turun ke lokasi. Sebab, masing-masing kelompok adu fisik dengan berbagai bersenjata, mulai linggis, pisau hingga batu.
Untuk mengantisipasi bentrokan merembet lebih besar, Polisi sengaja menurunkan dua truk Brimob. Mereka membawa senapan serbu dan mengamankan lingkungan Tlogomas. Tawuran itu menyebabkan, satu mahasiswa dari Sumba terluka terkena sabetan pisau, berinisial A alias MT. Empat sepeda motor juga rusak. Pihak Kepolisian mengamankan sekitar 20 pelaku tawuran, dari tak kurang sekitar 100 orang yang terlibat aksi tawuran. Selain itu, Kepolisian telah menetapkan tiga tersangka masing-masing berinisial ED, JFS, dan FS.
Menurut salah satu warga setempat yang menjadi saksi mata, Syaifudin, aksi tawuran itu berawal dari tindakan beberapa orang mahasiswa asal Sumba yang membuat sekelompok mahasiswa asal Ambon tersinggung.
”Sekitar jam 23.00 ada anak-anak Ambon kumpul di taman yang diblayer beberapa anak Sumba. Kata anak-anak Ambon sih anak Sumba ini lagi mabuk. Lalu anak-anak Ambon mengejar mereka,” ujarnya kepada Malang Post ketika ditemui di sekitar lokasi tawuran.
Ia melanjutkan, sekumpulan mahasiswa asal Ambon berhasil mengejar hingga sampai ke tempat kos mahasiswa asal Sumba, Jalan Raya Tlogomas gang 6 yang berlanjut ke gang 8. Sesampainya di dua tempat kos tersebut, para mahasiswa asal Ambon melakukan perusakan terhadap kaca kosan.
”Akhirnya kedua belah pihak sama-sama menggalang massa. Di depan gang kosan mereka adu jotos. Aksi terus berlanjut dengan kejar-kejaran di sekitar taman. Massa sekitar 100 orang. Polisi datang sekitar jam 1, tapi tawuran masih terus sampai subuh,” papar Udin, sapaan akrabnya.
Terpisah, Kepala Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Sujaka Santosa mendapat keluhan dari warga setempat atas kejadian itu. Ia mendapat laporan bahwa masyarakat sekitar, termasuk dirinya tidak bisa tidur karena ulah kedua kelompok massa.
”Ini sangat meresahkan warga. Semalam saya tidak tidur. Saya terus memantau anak-anak saling kejar sampai masuk ke kampung-kampung. Masyarakat resah tidak bisa tidur karena anak-anak itu track-track-an, minum-minuman keras, dan teriak-teriak dengan suara menggelegar,” keluh pria asal Ponorogo itu.
Menurutnya, aksi seperti ini sudah sering terjadi. Pria yang sudah tinggal di Malang sejak tahun 1971 itu juga mengaku telah berbicara dengan instansi terkait. ” Warga juga sering bicara dengan rektor perguruan tinggi di kanan-kiri sini agar menenangkan anak-anak dan mengimbau agar mereka menyesuasaikan kultur warga setempat, bukan sebaliknya,” tandas Sujaka Santosa.
Dikonfirmasi atas insiden ini, Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suhariyanto menyebut bahwa telah terjadi penganiayaan oleh mahasiswa asal Ambon terhadap mahasiswa asal Sumba.
”Sekitar jam 1 dini hari rekan-rekan mahasiswa yang berasal dari Ambon melakukan penganiayaan terhadap korban dari Sumba. Selain itu juga melakukan perusakan di dua lokasi kos-kosan,” terangnya. Korban yang dimaksud berinisial A alias MT yang mengalami luka memar di lengan sebelah kanan dan kiri serta robek di pergelangan tangan kiri. MT berasal dari kelompok Sumba.
Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Malang Kota AKP, Dwiko Gunawan mengungkapkan bahwa Kepolisian telah menetapkan tiga tersangka masing-masing berinisial ED, JFS, dan FS. Ketiganya berasal dari Kelompok Ambon.
Selain tiga tersangka tersebut, sekitar 20 orang dari kedua belah pihak juka diamankan untuk menjalani proses lebih lanjut. ”Ada alat bukti berupa empat sepeda motor yang rusak akibat perbuatan tersangka, senjata, dan pecahan kaca,” imbuh Dwiko, sapaan akrabnya. Ketiga tersangka itu terancam pasal 170 KUHP dengan hukuman maksimal pidana 5 tahun enam bulan.
Dua Kelompok Saling Kejar di Dekat Rumah Wali Kota
Konflik horizontal semakin menjadi-jadi di Kota Malang. Sebelumnya, pada Jumat (23/5) lalu juga terjadi tawuran antar mahasiswa di Universitas Kanjuruhan Malang. Pemkot Malang melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Shofwan akan segera mengambil tindakan
”Dalam waktu dekat akan ada koordinasi antara Pemkot Malang dengan intansi terkait untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut,” terangnya.
Ia juga mengimbau kepada semua pihak, khususnya yang terlibat untuk cintai damai pada sesama. ”Kita harus menjaga Kota Malang sebagai kota pendidikan yang berkualitas dan berbudaya serta berwawasan lingkungan,” tegasnya.
Senada dengan Shofwan, Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suhariyanto menganggap permasalahan ini sudah terlalu pelik ”Kita akan undang beberapa rektor, termasuk Wali Kota dan Dandim untuk mencari solusi berkaitan dengan persoalan ini. Untuk mencegah hal ini terulang, ke depannya usulan dari Pak Ketua RW kita kumpulkan beberapa rektor untuk kumpulkan himpunan mahasiswa daerah,” tutupnya.
Aksi tawuran kelompok mahasiswa daerah yang sering terjadi belakangan ini di beberapa wilayah kampus yang ada di Kota Malang ini, sudah mulai meresahkan masyarakat Kota Malang, khususnya yang berada di wilayah kampus dan lingkungan kos mahasiswa.
Terakhir kemarin, dua kelompok mahasiswa dari Sumba dan Ambon terlibat aksi bentrok dan saling kejar-kejaran dengan membawa senjata tajam, di sekitar Jalan Batu Permata, Tlogomas, Kota Malang yang jaraknya hanya sekitar 1 kilometer dari kediaman Wali Kota Malang, H. Moch Anton yang juga ada di Tlogomas. Hal ini mengundang keprihatinan Wakil Wali Kota Malang, Sutiaji. Dalam waktu dekat, Pemkot Malang akan mengambil langkah-langkah preventif agar aksi itu tidak sampai meluas dan terus berulang.
"Jelas, ini mengundang keprihatinan kami. Di bawah koordinasi Badan Kesbangpol Kota Malang akan mengambil langkah-langkah untuk melakukan tindakan preventif mengatasi permasalahan ini," kata Sutiaji yang dihubungi Malang Post, kemarin.
Dijelaskannya, beberapa langkah yang akan dilakukan Pemkot Malang antara lain, melakukan koordinasi dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di Kota Malang untuk menangkal kerawanan konflik antar mahasiswa, khususnya yang terkait dengan kelompok mahasiswa kedaerahan.
Bagaimanapun, pihak perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk mengatasi permasalahan ini. Meski kejadian ini seringkali terjadi diluar kampus. Tapi sebagai mahasiswa yang menimba ilmu di perguruan tinggi, pihak kampus memiliki tanggung jawab untuk menangkal kerawanan konflik mahasiswa ini.
"Kami akan duduk bersama pihak perguruan tinggi untuk menangkal kerawanan konflik antar mahasiswa ini," ungkapnya.
Selain dengan pihak perguruan tinggi, koordinasi dengan koordinator daerah atau organisasi mahasiswa kedaerahan perlu untuk dilakukan. Setiap organisasi kedaerahan memiliki pemimpin panutan yang juga akan diajak untuk ikut menangkal kerawanan konflik mahasiswa ini.
"Koordinasi juga akan dilakukan melalui UKM dan BEM yang ada di masing-masing kampus," terangnya.
Ditambahkannya, pendataan dan penertiban rumah kos-kosan juga akan dilakukan untuk dilakukan pembinaan, baik terhadap pemilik dan juga anak-anak kos nya. Agar semuanya tetap menjaga kedamaian, kenyamanan bersama warga Kota Malang yang selalu cinta damai.(rul/mg3/aim/ary)