Korban Bentrok Tlogomas Masih Dirawat di RSSA

Maraknya tawuran mahasiswa antar daerah di Kota Malang membuat Polres Malang Kota harus bertindak cepat. Rencana mengumpulkan semua pihak yang terkait dengan tawuran tersebut segera direalisasikan. Menurut Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP, Dwiko Gunawan, Sabtu (31/5) lusa pihaknya akan merealisasikan rencana itu.
"Semua pihak, mahasiswa dari suku-suku itu kita undang, termasuk dari Pemkot Malang dan rektor dari seluruh perguruan tinggi yang ada di Malang," ujarnya kepada Malang Post.
Langkah tersebut diambil agar insiden memalukan itu tidak berbuntut lebih panjang lagi. Mengenai kepastian tempatnya, Dwiko belum bisa memastikan. "Kami masih dalam tahap koordinasi. Karena ini masih rencana, jadi soal waktu dan tempat pastinya kami belum pastikan. Rencananya hari Sabtu, tapi ini masih rencana. Jadi atau tidaknya kami belum tahu. Yang pasti kami usahakan dalam waktu dekat," tandasnya.
Terlepas dari hal itu, Dwiko menjelaskan bahwa korban luka dari pihak mahasiswa asal Sumba atas insiden yang terjadi di Tlogomas Selasa (27/5) dini hari lalu masih dalam perawatan. Korban berinisial A alias MT itu sampai kemarin masih dirawat di RSSA.
"Sampai saat ini masih dalam perawatan. Jadi belum bisa dimintai keterangan karena kondisinya belum sehat benar," turutnya.
Sementara itu, kejadian yang mencoreng dunia pendidikan tersebut juga mengundang keprihatinan dari Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta, Prof. Dr. Suko Wiyono SH. MH. Menurutnya, konflik seperti ini sudah menjadi penyakit lama.
"Dulu juga pernah ada kasus yang sama. Kami turun memberikan pemahaman ke mahasiswa. Kami menganggap memang mahasiswa timur memiliki rasa primordial yang berlebihan. Pemahaman tentang kebinekaan kurang," urai Suko Wiyono.
Ia menambahkan bahwa rasa primordial tersebut tidak menjadi masalah jika hal tersebut diterapkan melalui persaingan prestasi yang tinggi. "Atau bisa juga dengan memunculkan kekayaan seni daerah," imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tindakan paling konkrit yang harus dilakukan ialah turun langsung memberikan pemahaman, terutama kepada tetua paguyuban daerah yang berkonflik. "Selain itu juga dengan mempertegas Pancasila dan wawasan kebangsaan agar pemahaman mengenai solidaritas tidak keliru. Agar mampu mengutamakan keindonesiaan dari pada kesukuan," pungkasnya.(rul/mar)