Konflik Mahasiswa Ambon dan Sumba Meluas

Polisi Masih Siagakan Water Canon di Lowokwaru
MALANG- Bentrokan antara mahasiswa asal Ambon dan Sumba akhirnya meluas. Setelah terjadi di dekat Kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), lalu di kawasan Tlogomas, giliran pemukulan terhadap mahasiswa asal Sumba juga terjadi di dekat Kampus Wisnuwardhana, Malang, Rabu (28/5) malam lalu.
Akibatnya, Melvianus Katoda, 20 tahun, warga Buka Biro, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya dilarikan ke RSSA Malang karena mengalami lebam di wajahnya.  Kepada polisi, dia mengaku dipukul sekitar 20 anak Ambon yang beberapa diantaranya masih teman kuliahnya di Universitas Wisnuwardhana.
Informasi yang dihimpun Malang Post, sekitar pukul 20.00, korban dan seorang temannya baru saja keluar dari kampus. Baru melangkahkan kaki keluar kampus, atau berjarak 50 meter sebelah utara kampus, mereka bertemu dengan kelompok mahasiswa Ambon tersebut. Seorang pelaku pun menanyakan korban darimana. “Saya jawab kalau baru saja berdoa di dalam kampus,” tuturnya kepada anggota Satreskrim Polres Malang Kota. Baru saja menjawab pertanyaan tersebut, tanpa banyak kata, dia dihajar.
Spontan Melvianus dan temannya menyelamatkan diri. Beruntung tidak jauh kemudian, patroli Polsekta Kedungkandang melewati tempat tersebut dan menolongnya. Sekaligus membawa Melvianus ke Polres Malang Kota.
“Polisi yang mendapat laporan ini, segera mendatangi TKP dan meminta keterangan 11 orang saksi,” kata Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan SH, kemarin. Dia mengakui, sebelum kejadian, ada sekitar 20 anak Ambon bergerombol di sekitar makam Ki Ageng Gribig.
“Kelompok ini kemudian dihalau warga sekitar untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya. Diduga kuat, setelah diusir warga itu, mereka mendatangi kampus Universitas Wisnuwardhana.
Hal ini dikuatkan keterangan Heru Sutrisno, salah seorang warga sekitar makam Ki Ageng Gribig. Kepada Malang Post, pria berusia 37 tahun itu mengaku bila kelompok pemuda Ambon itu pergi ke arah kampus Universitas Wisnuwardhana dengan aroma bau minuman keras yang cukup menyengat.
Polisi, lanjut mantan Kapolsek Wajak itu mengimbau kepada warga untuk segera menginformasikan kepada polisi terdekat jika ada gejala-gejala yang negatif terkait situasi di lingkungannya.
“Kepada warga pendatang (suku Ambon, Sumba dan lain-lain) yang ada di wilayah kota Malang agar menyelesaikan setiap masalah dengan jalan musyawarah mufakat. Ada pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Silakan menyesuaikan dengan adat istiadat dan budaya di Malang sehingga suasana damai dan kondusif,” ungkapnya.
Sementara itu, Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, M.Hum menegaskan, pertikaian yang terjadi di dekat kampus Universitas Wisnuwardhana merupakan permasalahan antar pribadi.
“Bukan kelompok. Memang masih dalam penyelidikan anggota reskrim. Sementara, sudah ada yang diamankan, namun masih diperiksa intensif,” tegasnya. Di sisi lain, dia berharap penyelesaian masalah pertikaian antarsuku itu bukan hanya pada polisi saja.
“Kalau hanya melakukan penangkapan, tidak akan menyelesaikan masalah. Semua elemen harus ikut menyelesaikan masalah ini. Tetapi untuk mengamankan wilayah-wilayah rawan, ini tugas polisi. Hingga sekarang, kami masih menempatkan satu kompi polisi dipimpin tiga perwira. Termasuk menempatkan mobil water canon di Polsekta Lowokwaru, tempat terdekat dengan wilayah Tlogomas,” urai mantan Kapolres Trenggalek tersebut.
Pantauan Malang Post, Rabu (28/5) malam, suasana kawasan Tlogomas sempat mencekam setelah terdengar isu adanya serangan balasan. Warga sempat bergerombol berjaga di tepi jalan. “Tapi tidak terjadi apa-apa. Kami berjaga sampai dini hari tadi (kemarin), tidak ada kejadian apa-apa,” terang Waka Polsekta Klojen, AKP Adenan yang ikut di-BKO-kan di wilayah tersebut.