Dikira Hantu, Ternyata Digerayangi Guru

PUJON - Dinginnya udara di Kecamatan Pujon, nampaknya justru membangkitkan nafsu berahi dua pemuda desa Ngroto kecamatan setempat,  berinisial Ek, 17 tahun dan AW, 25 tahun. Keduanya memaksa anak perempuan berusia 12 tahun warga Kota Malang, yang sedang dititipkan untuk numpang tidur di rumah Aw lantaran kemalaman.
Perilaku bejat yang sampai ke tangan polisi itupun, Kamis (29/5) malam membawa dua pemuda itu beralih tidur di Mapolres Batu setelah diringkus petugas Polsek Pujon. ’’Yang melaklukan perkosaan adalah tersangka Ek, sedangkan tersangka Aw membantu memegangi kedua tangan korban,’’ terang Kasat Reskrim AKP Adi Sunarto mendampingi Kapolres Batu, Jumat kemarin.
Perbuatan bejat itu berlangsung Sabtu (17/5), ketika korban sedang berkunjung ke rumah teman perempuannya di Desa Ngroto. Karena hari sudah malam korban memutuskan bermalam, lantaran tidak berani pulang sendirian. Sang teman pun minta bantuan Aw yang tak lain tetangganya, agar korban diperbolehkan numpang tidur semalam dan kebetulan malam itu di rumah Aw juga ada tersangka Eka.
Begitu malam beranjak larut, Aw membangunkan Ek untuk menyetubuhi korban. Sudah barang tentu anak perempuan yang beranjak remaja itu, berontak sekuatnya untuk melakukan hubungan orang dewasa ini. Aw pun memegangi  kedua lengan korban, sehingga Ek bisa leluasa melampiaskan nafsu setannya.
“Walaupun tidak ikut melakukan perkosaan secara langsung, namun Aw tetap menjadi tersangka,” tambah Adi Sunarto.
Selain kasus perkosaan di Pujon, itu polisi juga membongkar kasus pencabulan dengan tersangka If, 30 tahun warga Kratong, Kabupaten Pasuruan yang diduga mencabuli gadis berusia 17 tahun yang  rekreasi ke Jatim Park Kota Batu bersama teman-temannya.
Pencabulan itu dilakukan di Rumah Hantu Jatim Park. Ketika menyusuri lorong Rumah Hantu buatan itulah, gadis itu merasa ketakutan dan tanpa sengaja minta perlindungan pada sang guru bantunya, If. Pepatah niat jahat muncul begitu ada kesempatan, dimanfaatkan If dengan berpura-pura melindungi muridnya itu.
Kemudian tak hanya tangan yang dipegang  IF, melainkan bagian vital korban juga digerayangi. ”Korban melaporkan perbuatan gurunya itu, dan kami merespon dengan cepat mengamankan If,”terang Adi.
Dari dua kasus itu, kesemua tersangka dijaring dengan sangkaan pasal 81 dan 82 UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun.(mik/lyo)