Kampus Harus Bertanggung Jawab

MALANG - Wali Kota Malang H. M Anton mendesak agar pihak Perguruan Tinggi (PT) ikut bertanggung jawab atas tawuran mahasiswa. Terutama PT yang mahasiswa terlibat dalam aksi baku hantam di sejumlah tempat. Hal ini ditegaskan Abah Anton diminta tanggapannya atas kasus tersebut, kemarin.
Abah Anton menganggap bahwa pihak perguruan tinggi yang terlibat harus bertanggung jawab sampai permasalahan ini tuntas. ”Rektor harus bertanggung jawab. Jangan hanya menjadikan perguruan tinggi sebagai sisi bisnis. Tapi kalau ada permasalahan yang seperti ini ya mereka harus bertanggung jawab,” tegas suami dari Hj. Farida Dewi Suryani tersebut.
Pernyataan dari Abah Anton juga mendapatkan respon dari Polres Malang Kota. Buktinya, Polres telah melayangkan undangan kepada forum Rektor. Hal itu ditegaskan oleh Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, kemarin. Pihaknya telah mengirimkan undangan terkait forum tersebut.
”Surat undangan sudah kami kirim. Kami undang Rektor beberapa perguruan tinggi, tokoh Arema, RT/RW, Pemkot, Dandim, Ketua PN, Kajari, dan Ketua FKAUB,” jelas Dwiko.
Menurutnya, penyelesaian konflik tersebut harus melibatkan banyak pihak. Ia menilai bahwa yang bertanggung jawab atas kondusifitas Kota Malang bukan hanya pihak keamanan, tapi semua pihak yang berkaitan dengan Kota Malang.
Polisi sendiri juga bergerak cepat dalam menangani pemukulan terhadap Melvianus Katoda, 20 tahun, warga Buka Biro, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya. Setelah melakukan pemeriksaan terhadap 11 saksi, Satreskrim Polres Malang Kota kini melakukan perburuan terhadap pelakunya.
“Sudah diidentifikasi, ada satu pelaku yang masih diburu anggota,” kata Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro SIK didampingi Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan SH, kemarin.
Menurut dia, hanya satu pelaku ini yang diketahui melakukan pemukulan, meskipun korban mengatakan dia juga diancam dengan senjata tajam oleh 20 kelompok asal Ambon yang mendatanginya. “Korban sendiri tidak tahu apa motif pemukulan itu. Dalam pemeriksaan, korban mengaku langsung menyelamatkan diri setelah dipukul teman kampusnya. Selain itu, dia juga ketakutan saat melihat banyak senjata tajam yang dibawa,” papar perwira pindahan dari Polda Maluku Utara itu.
Mantan Kasatreskrim Polres Halmahera Selatan ini mengaku masih menelusuri pengakuan adanya senjata tajam tersebut. Sesaat setelah peristiwa itu, dikatakan dia, anggota Polres Malang Kota langsung melakukan razia di TKP keributan. “Sudah kita lakukan razia tapi tidak ditemukan senjata tajam yang dimaksud,” lanjut Adam, panggilannya. Disinggung apakah pemukulan itu, terkait dengan bentrokan antara mahasiswa Sumba dan Ambon yang selama ini terjadi di sekitar kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) dan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), dia belum bisa memastikan.
“Kelihatannya tidak ada rangkaiannya. Namun tergantung nanti kalau pelaku sudah tertangkap,” tegasnya.  Seperti diberitakan sebelumnya, bentrokan antara mahasiswa asal Ambon dan Sumba meluas. Rabu (28/5) malam, Melvianus dan temannya seusai keluar dari kampusnya, Universitas Wisnuwardhana Malang, bertemu sekitar 20 kelompok pemuda Ambon. Dia langsung dipukul hingga mengalami luka memar di wajahnya. Sebelum peristiwa tersebut, 20 anak Ambon ini diketahui bergerombol di sekitar makam Ki Ageng Gribig.
Sementara itu, Civitas akademika Universitas Tribhuana Tungga Dewi (Unitri) Malang kemarin (30/5) mendatangi Polres Malang Kota. Sejumlah orang yang terdiri dari perwakilan Organisasi Mahasiswa Daerah (Orda) dan  Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) Unitri, Aldon Sinaga yang mewakili pihak kampus.
Mereka datang untuk menyampaikan surat pernyataan kepada Polres Malang Kota dan awak media mengenai tawuran yang terjadi di Tlogomas beberapa waktu lalu. Menurut Ketua Orda Sumba Unitri, Alvian Tenabolo, konflik yang terjadi bukanlah konflik antar suku. "Kami ingin mengklarifikasi bahwa di kampus, antara Orda Sumba dan Orda Maluku tidak ada konflik," paparnya.
Ia menjelaskan bahwa konflik yang terjadi sebenarnya karena konflik individu. "Ada dua individu yang bertikai, lalu mengajak teman dalam jumlah banyak dan dipandang konflik antar suku padahal tidak," tegas Alvian.
Terpisah, Ketua Orda Maluku Unitri, Hendra Tutuarima senada dengan Alvian. Ia menambahkan bahwa antara Orda Maluku dan Orda Sumba Unitri telah melakukan koordinasi dan membuat kesepakatan agar konflik tidak meluas.
"Antara mahasiswa asal daerah Sumba dan Maluku tidak ada konflik kelompok. Kita dari Orda Maluku dan Sumba mendukung secara aktif upaya penyelesaian hukum oknum yang terlibat," kata Hendra. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya turut bertanggung jawab terhadap upaya pemulihan keamanan di Kota Malang.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang terjadi di Tlogomas. "Kami menyampaikan permintaan maaf kepada Pemkot Malang, kepolisian, masyarakat dan seluruh pihak yang dirugikan," urainya.
Sementara itu, Kepala BAAK Unitri, Aldon Sinaga menuturkan bahwa pihak kampus langsung mengambil tindakan proaktif setelah terjadi insiden beberapa waktu lalu. ”Kemahasiswaan kami mendampingi Polres agar jangan sampai salah mengambil tindakan. Sehari setelah kejadian itu kita kumpulkan Orda. Kita telusuri, ternyata ini masalah pribadi,” ungkapnya.
Terkait proses hukum yang menimpa mahasiswanya, Aldon Sinaga menegaskan bahwa sesuai dengan arahan Rektor Unitri, Prof Dr. Wani Hadi Utomo, sepenuhnya mendukung upaya kepolisian untuk melakukan proses hukum. Jika mahasiswa yang bersangkutan nantinya terbukti bersalah, maka pihak kampus tak segan-segan memberi sanksi DO kepada mahasiswa tersebut. ”Begitu juga apabila ada mahasiswa yang memperpanjang konflik, akan kita DO,” ucapnya.(rul/mar)