Kematian TKW Penuh Kejanggalan

Eli Tri Utami, didampingi keluarga menunjukkan foto semasa hidup Watik Iswahyuni, adiknya.

MALANG– Kematian Watik Iswahyuni, 19 tahun, warga Jalan Kepodang RT20 RW07 Dusun Rancah Desa Senggreng, Sumberpucung, menjadi pertanyaan keluarga. Pasalnya tewasnya gadis yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia ini ditengara banyak kejanggalan. Keluarga menganggap bahwa kematian Watik sengaja ditutup-tutupi. Apalagi sehari sebelum mendapat kabar bahwa Watik meninggal dunia, pihak PT Orientasari Mahkota Jalan Antartika 2A Buduran Sidoarjo, ngotot meminta uang tebusan sebesar Rp 9,5 juta kepada keluarga korban di Malang.
Uang tersebut katanya untuk biaya pulang Watik, yang sudah tidak kerasan kerja di Malaysia. Untuk mencari kebenaran penyebab kematian Watik itulah, keluarga kemarin siang mendatangi Polres Malang. Mereka meminta petunjuk polisi untuk melangkah mencari keadilan. “Kami (keluarga, red) hanya ingin mengetahui penyebab kematiannya. Jika memang tidak wajar, keluarga siap untuk bongkar makam dan dilakukan otopsi. Tetapi jika memang meninggalnya karena jatuh, kami menerima,” tutur Edi Prayitno kakak kandung korban.
Dia datang ke Polres Malang ditemani istri serta adik kandungnya Eli Tri Utami yang baru pulang dari Hongkong. Diceritakan Eli, Watik adalah anak kelima dari enam bersaudara pasangan Nyamianto dan Jumiati. Watik berangkat menjadi TKW pada Agustus 2013 lalu setelah lulus sekolah. Dia berangkat lewat perantara salah satu gurunya di SMK PGRI Sumberpucung yang menjadi petugas lapangan (PL). Di Malaysia, Watik bekerja di Takahara Precision Moulding SDN.BHD.
“Selama bekerja, dia selalu kontak dan curhat dengan saya yang bekerja di Hongkong. Termasuk saat dia sudah tidak kerasan bekerja,” tutur Eli sembari menunjukkan foto adiknya. Senin 12 Mei pukul 16.00 (waktu Hongkong dan Malaysia) Eli berkomunikasi terakhir lewat telepon dengan adiknya. Komunikasi lewat telepon, membahas soal tebusan yang diminta PT Orientasari Mahkota, yang memberangkatkan korban bekerja di Malaysia. “Kami membahas soal tebusan itu, karena pada hari Minggu perwakilan PT datang ke rumah bertemu dengan ibu sambil mengancam-ancam. Alasannya supaya adik saya bisa cepat pulang. Dan ketika saya telpon itu, dia baik-baik saja,” jelas Eli.
Baru Selasa 13 Mei pagi, Eli mencoba telpon HP milik adiknya. Saat ditelpon yang mengangkat seorang laki-laki yang mengaku sebagai majikan Watik. Dia mengatakan bahwa Watik meninggal dunia setelah jatuh dari lantai 10 blok Hostel. Jenazah Watik baru tiba di rumah duka pada 15 Mei sekitar pukul 21.00 dan langsung dimakamkan. Kematian Watik, juga dilaporkan ke Polisi Diraja Malaysia Balai Taming Jaya Daerah Kajang Kontinjen Selangor tanggal 12 Mei 2014 pukul 23.45 PM. Dalam dokumen Polisi Diraja Malaysia  yang diterima keluarga Watik disebutkan, jika korban terjatuh dari tingkat 10 blok hostel.
Tempat kematian atau jatuhnya Watik berada di Apartement Bayu Suira Taman Impian Ehsan Balakong, Selangor. Selain dari Polisi Diraja Malaysia, dokumen dari KBRI Kuala Lumpur Surat Keterangan No. 0368 / SK – JNH / 05 / 2014 yang diterima keluarga Watik menerangkan, jika Watik berdasarkan daftar kematian / permit mengubur No. 357850 dan mengenai sebab-sebab kematian no. 201409 tanggal 13 Mei 2014 dari Hospital Kajang Selangor Report Polis No. 017667 / 14 tanggal 12 Mei 2014 dari Balai Polis Taming Jaya, Kajang, Selangor, dinyatakan telah meninggal pada 12 Mei 2014 pukul 20.35, dengan sebab kematian Polytrauma Secondary To Fall From Height.
”Tetapi anehnya jika terjatuh dari lantai 10, pasti kepala atau wajahnya mengalami luka. Termasuk tangan atau kakinya patah. Namun adik saya tidak, saat dikubur yang terlihat luka justru punggungnya. Saya sempat meraba kepala dan kakinya utuh sama sekali tidak terluka. Inilah yang menjadi kejanggalan kami atas kematian adik saya,” tandas kakak korban, sembari berharap pemerintah bisa membantu mengungkap kebenaran. (agp/mar)