Polisi Kebut Permintaan Jaksa

MALANG -  Penyidik Satreskrim Polres Malang Kota berusaha mempercepat permintaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Malang, untuk menyelesaikan perkara pengambilalihan rumah dan tanah bernilai miliaran rupiah di Jalan Rinjani 14 Malang. Bahkan, tinggal selangkah lagi, berkas dengan tersangka bos restaurant Kantri, Singosari, Tjang Siang Bing alias Guntur Prayitno itu, dikembalikan ke JPU. Untuk melengkapi berkas yang masih dinyatakan P19 (belum lengkap) oleh JPU, penyidik melakukan gelar perkara tersebut.
Dikonfirmasi gelar perkara itu, Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP Adam Purbantoro SIK mengakui bila hasil gelar perkara adalah untuk memenuhi petunjuk jaksa dalam P19 semaksimal mungkin. “Dan akan segera dikirim kembali ke JPU. Secepatnyalah,” terangnya. Namun, pimpinan anggota reserse di Kota Malang ini, masih belum mengetahui secara pasti apakah laporan Erni Susilowati Nurhansah, ahli waris rumah Jalan Rinjani 14 Malang, bisa segera menjerat Guntur.
“Yang pasti dalam tahap penyidikan. Kalau berkas yang kurang apa, itu juga tidak bisa dijelaskan karena masuk dalam proses penyidikan,” tambah Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan SH. Sedangkan M.S Alhaidary, SH, penasehat hukum Erni, juga mengatakan hal yang sama. “Saya belum mengetahui hasil gelar perkara itu. Silakan tanya ke penyidik saja,” tegasnya.  Sementara, sumber lain Malang Post di Polres Malang Kota menjelaskan, dalam kapasitas kasus itu, polisi juga segera memeriksa notaris  Benedictus Bosu SH,SpN,MSc.  
Notaris yang berkantor di Jalan Soekarno Hatta Malang ini, merupakan notaris protokoler notaris Alm. Komarudzaman, SH.  Dia akan dimintai keterangan terkait akta Nomor 110 Tanggal 24 April 1984 tentang surat kuasa dari Han Kian Gwan alias Ivan Nurhansah. Akta yang diduga palsu itu, tertulis Guntur diberikan kuasa untuk melakukan segala tindak pengurusan atau tindakan hak milik atas tanah dan rumah Jalan Rinjani 14 Malang dengan sertifikat HGB Nomor  30 dan surat ukur Nomor 247 Tanggal 8 Oktober 1980.  
Berbekal akta itu, Guntur membuat akta hibah Nomor 39 Tanggal 14 Juni 1984 yang berisi menghibahkan rumah itu kepada dirinya sebagai penerima hibah. Masih menurut sumber itu, saat diperiksa di Polwil Malang dahulu, Beni Bosu, panggilannya mengatakan bila akta Nomor 110 tersebut adalah palsu karena tidak sama dengan akta-akta lain. Dikonfirmasi hal ini, Beni mengaku akan datang memberikan keterangan di Polres Malang Kota. “Ya, saya memang akan diperiksa terkait akta Nomor 110 Tanggal 24 April 1984. Tapi akan saya terangkan setelah saya memberikan keterangan di kepolisian,” ujarnya. (mar)