Tewas Dikeroyok 20 Siswa

Dipukuli di Kelas, Lapangan Basket hingga Depan Sekolah
MALANG– Bagaimana bila siswa SMP sudah bertindak brutal? Teman sendiri pun bisa tewas. Kejadian ini dialami Muhammad Andi Nur Fahmi, 14 tahun, warga Desa Tangkilsari, Tajinan. Kemarin, dia meregang nyawa di RS Panti Nirmala, Rabu (4/6) malam, akibat pendarahan di kepala, setelah dikeroyok sekitar 20 teman sekolahnya. Jenazah anak sulung dari dua bersaudara pasangan M. Fadil dan Yuningsih ini, kemarin sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum sekitar tempat tinggalnya.    
Menurut Yuningsih, ibu kandungnya, Andi langsung muntah dan mengeluarkan darah dari hidungnya, sesaat diantar pulang beberapa teman sekolahnya. “Dia mengtakan baru dikeroyok sekitar 20 siswa teman sekolahnya. Setelah itu mengeluh sakit kepala, sebelum akhirnya pingsan,” terangnya. Informasi yang dihimpun Malang Post, berawal dari Andi yang dituduh telah mencuri bensin dan menggantinya dengan air dari beberapa motor siswa lainnya. Saat jam kosong sebelum istirahat, beberapa siswa seangkatannya, mendatanginya di dalam kelas.
Tanpa banyak tanya, mereka langsung melakukan pemukulan. Andi pun berusaha menyelamatkan diri ke lapangan basket. Namun teman-temannya tersebut terus mengejar dan kembali memukulinya. Pengeroyokan ini sempat berhenti ketika diketahui seorang guru. Namun, sepulang sekolah pukul 12.30, dia yang hendak mengambil motornya di rumah salah seorang warga depan sekolah, dihadang kembali oleh belasan temannya. Mereka kembali menghajar siswa ini dengan tangan kosong. “Keponakan saya babak belur dan dari hidungnya keluar darah ketika diantar pulang,” ucap Mashudi, pamannya.
Karena dianggap hanya luka biasa, korban pun tertidur. Saat bangun tidur pukul 14.30, dia kembali mengeluhkan sakit di kepala, muntah dan langsung tidak sadarkan diri. Keluarganya yang khawatir, lalu melarikan Andi ke RS Reva Husada. Namun melihat lukanya, Andi pun dirujuk ke RS Panti Nirmala. Sayangnya, karena kondisinya yang kritis, sekitar pukul 18.00, pemuda ini meninggal dunia. “Sebenarnya hendak dioperasi dengan biaya Rp 50 juta. Namun tidak jadi karena peluang hidupnya ternyata tinggal 20 persen,” tambah Siswati, bibinya.
Pengeroyokan ini, juga dibenarkan beberapa siswa di SMP Negeri 1 Tajinan. Salah satunya Sutrisna. Dia mengatakan peristiwa pengeroyokan itu berada di dalam kelas serta di luar sekolah. “Saya melihat sendiri pengeroyokan itu. Yang mengeroyok sekitar 17 orang,” katanya sembari mengatakan tidak ada guru yang tahu kejadian pengeroyokan itu. Rosi Niken, salah satu guru yang ditemui juga mengatakan kalau guru-guru tidak ada yang mengetahui kejadian itu. (agp/mar)