Dibekuk,Pelaku Pemalsuan Dokumen Penting

MALANG – Pelaku pemalsuan dokumen penting seperti ijazah, KTP, KK, Akta kelahiran, surat cerai, buku nikah dan paspor, Kamis (5/6) malam berhasil dibekuk Satreskrim Polres Malang. Tersangkanya Pitono, 52 tahun. Warga asal Sumbergedang – Pandaan ini, ditangkap saat digerebek di rumah istri keduanya, Sri Kutobah di Dusun Babaan Desa Ngasem Kecamatan Ngajum.
Pitono diamankan saat hendak transaksi pembuatan ijazah palsu. Selain dia, dari penggrebekan yang dipimpin langsung Kasatreskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat ini, polisi juga mengamankan beberapa barang bukti. Diantaranya blanko pembuatan dokumen yang masih kosong dan terisi. Meja serta peralatan sablon dan puluhan stempel beberapa instansi, seperti Depag Kabupaten Malang, Dispenduk Kabupaten Malang, KUA Bondowoso dan stempel SMP PGRI.
Usai menggrebek rumah istri keduanya, penggrebekan dilanjutkan ke rumah istri ketiga tersangka yaitu Surati, di Dusun Semanding Desa Curungrejo Kecamatan Kepanjen. Di lokasi penggrebekan kedua, polisi mengamankan barang bukti blanko palsu serta seperangkat alat computer untuk membuat dokumen palsu. Selanjutnya, penggrebekan diteruskan dengan menggeledah rumah Pitono di Pandaan.
Bahkan polisi juga ikut mengamankan istri tersangka. Hanya untuk keterlibatannya, polisi masih mendalaminya. “Istrinya ikut kami amankan, tetapi kami masih mendalami apakah ikut terlibat atau tidak. Termasuk kami juga akan mengembangkan dengan mendalami kasusnya apakah ada keterlibatan pegawai negeri di balik kasus ini,” terang Wahyu Hidayat.
Mantan Kasatreskrim Polres Tuban ini menambahkan, penangkapan Pitono ini berawal dari laporan masyarakat tentang beredarnya ijazah dan dokumen penting lain palsu di Kabupaten Malang. Berdasarkan informasi tersebut, polisi lalu terjun ke lapangan mencari beberapa korban untuk dimintai keterangan.
Dari keterangan beberapa korban tersebut, kemudian mengerucut ke tersangka Pitono. Untuk menangkap dia, polisi harus menunggu sampai beberapa pekan. Begitu mendapat kepulangan Pitono di rumah istri keduanya, polisi langsung menangkapnya.
“Tersangka Pitono ini kami jerat dengan pasal 264 KUHP tentang pemalsuan, dengan ancaman hukuman penjara 8 tahun. Kami juga masih akan mengembangkan kasusnya, untuk menangkap jaringannya,” papar Wahyu.
Sementara itu, melihat beberapa barang bukti yang diamankan, tersangka Pitono ini diduga sudah lama menjalankan aksi pemalsuan dokumen. Pasalnya, beberapa ijazah dan STTB, ada yang dibuat pada tahun 2001. Korban pemalsuan ijazah inipun, dimungkinkan sangat banyak dan tidak hanya di Kabupaten Malang saja. Ada yang di Surabaya, Cilacap dan Sidoarjo. Termasuk keuntungan yang didapat tersangka dari hasil pemalsuan, diduga sudah puluhan juta.
Sebelum 2012 tersangka membuat dokumen palsu dengan cara manual menggunakan alat sablon. Kemudian setelah 2012, tersangka mulai menggunakan komputer. Cara pembuatannya dengan mencontoh ijazah asli yang discan, kemudian memasukkan data pemesan dokumen.
Hanya dalam pemeriksaan tersangka tidak mengakuinya. Ia menyatakan bahwa bisnis pemalsuan ini baru dijalani sekitar tiga tahun lalu. “Saya memulainya sejak tiga tahun lalu. Setiap pembuatan dokumen, biayanya Rp 100 ribu,” tutur Pitono, sembari mengatakan pernah membuat akta untuk palsukan identitas menjadi TKW.
Pitono mengatakan, untuk mencari korban pemalsuan dia tidak turun langsung ke lapangan. Tetapi dia menggunakan jasa calo (perantaran) Warno, warga Permanu – Pakisaji yang kini masih diburu.  Termasuk kertas untuk pembuatan dokumen, dia mengaku memesan kepada temannya bernama Munir warga Surabaya. Selembar kertas dia memesannya seharga Rp 20 ribu.
“Yang mencari korbannya Warno, bukan saya sendiri. Setiap bulannya, sekitar 4 – 5 orang saja yang memesan untuk dibuatkan dokumen palsu. Di Kabupaten Malang, paling banyak adalah akta kelahiran. Dan saya sendiri, bisa memalsukan dokumen belajar dari Siswo, teman saya di Lumajang,” tuturnya.(agp/nug)