Sabar Diterjang Peluru Nyasar

MALANG – Sabar ( 52 tahun) warga Dusun Boro RT01 RW08 Desa Sidodadi-Lawang tertembus peluru nyasar, kemarin. Korban tengah melintas di Blok AA no. 12 Perum Istana Bedali Agung Kecamatan Lawang. Belum diketahui asal peluru misterius itu, yang jelas ada dua lapangan tembak di dekat lokasi, yakni Lapangan Tembak Kodam V Brawijaya dan Yonkav 3/Serbu.
Jika benar peluru berasal dari lapangan tembak, hal ini tentu menakutkan. Sebab ratusan jiwa penduduk ada di Perumahan Istana Bedali Agung. Sabar sendiri, sampai detik ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang.
Polisi juga turun untuk menyelidiki kasus tersebut. Belum diketahui jenis proyektil serta kaliber peluru. Namun melihat bukti peluru nyasar lain di tempat kejadian perkara (TKP), diduga dari senapan laras pendek sejenis FN.
“Proyektil. kaliber dan jenis senjata bisa diketahui melalui uji Balistik di Labfor Polda Jatim,” ungkap Kapolsek Lawang Kompol Gatot Setiawan.
Gatot menuturkan, bahwa sebelum Sabar menjadi korban peluru nyasar, memang ada suara tembakan. “Dari mana peluru itu, kami masih menyelidiki,” ujar Gatot, yang juga mantan Kapolsek Gedangan ini.
Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat juga mengatakan hal yang sama. “Tunggu hasil uji Balistik di Labfor Polda Jatim dulu,” kata Wahyu.
Peristiwanya terjadi sekitar pukul 10.15, kemarin. Sabar naik sepeda motor Honda Beat menuju rumah Isa Ansori, 36 tahun, di Perum Istana Bedali Agung Lawang Blok AA No 9. Untuk mengambil kunci rumah pada istrinya Sunarsih yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Di depan Blok AA no 12, lengannya tertembus peluru. Semula korban menganggap dilempar batu. Tetapi warga yang melihat lengannya berdarah, lantas memberitahu.
“Saya melihat sendiri lengannya berdarah. Bahkan ketika menembus lengan pak Sabar, sempat terdengar suara seperti petasan,” tutur Siti Khoiriyah, salah satu saksi mata.
 “Saat itu saya tidak banyak tanya, begitu mengetahui berdarah dan katanya terkena peluru nyasar langsung saya baru ke rumah sakit,”  kata Isa Ansori, sembari mengatakan bahwa ibu-ibu sekitar yang belanja di samping rumahnya memang mendengar suara tembakan.
Ditambahkan dia, bahwa jarak sekitar 700 meter dari lokasi ke timur terdapat lapangan tembak milik Kodam V/Brawijaya. Di lapangan itu ada latihan menembak. Tetapi arah menembaknya ke selatan dengan sasaran bukit, tak searah dengan korban.
 “Di lapangan latihan tembak milik Kodam, tadi (kemarin, red) memang ada latihan menembak. Saya sendiri mendengar dan mengecek langsung,” ujar seorang warga yang juga dibenarkan olah seorang anggota.
Selain lapangan tembak milik Kodam V/Brawijaya, ada lapangan tembak di selatan TKP. Yakni lapangan latihan tembak milik Yonkav 3/Serbu. Kedua lapangan tembak itu hanya dipisahkan satu bukit. Di lapangan milik Yonkav, warga serta anggota juga sempat mendengar ada suara latihan menembak. “Di lapangan latihan tembak milik Kodam dan Yonkav memang ada latihan menembak,” terang salah satu anggota.
Namun, menurut analisa mantan Komandan Yonkav 3 Serbu Tank, Letkol Susanto, asal senjata dari peluru nyasar bukan dari latihan tembak Yonkav. Alasannya, latihan tembak di Yonkav memakai senjata berat jenis canon. Sehingga, sangat tanggung kalau sampai mengenai seseorang.
“Kalau pun pistol, itu jarak jangkau hanya 50 meter. Jadi tidak mungkin dari lapangan tembak Yonkav,” ujarnya kepada Malang Post.
Lantas, bagaimana peluru bisa ke arah sisi utara areal tembak ? Susanto menjelaskan, saat akan menembak biasanya sasaran sudah disiapkan. Kalau pun sampai nyasar, besar kemungkinan adalah rekoset. “Jadi peluru yang seharusnya mengenai sasaran, itu mengenai batu. Sehingga, arahnya tidak sesuai target,” tambahnya.
Mengenai aktifitas di Yonkav, pihaknya juga sudah mengecek ke satuan. Kebetulan, tadi (kemarin) di satuan itu ada tamu dari Pusenkav (Pusat Kesenjataan Kavaleri). Jadi, tidak ada latihan. Yang ada, sempat latihan sepak bola.

Keluarga Korban Kesulitan Biaya
Jadi korban peluru nyasar, Sabar harus sabar menanggung derita lain selain perihnya luka. Keluarga Sabar wajib  menebus resep dokter sebesar Rp 2 juta. Harga resep sebesar itu sangat mahal bagi kuli bangunan ini.
Di teras IGD RSSA, kemarin siang, Sunarsi, istri Sabar hanya duduk termangu. Sesekali ia masuk keluar instalasi darurat rumah sakit milik Pemprov Jatim itu. Perempuan 52 tahun yang menunggu di teras IGD ini tak bisa menyembunyikan hatinya yang sedang galau.
“Iya saya masih bingung tebus resepnya. Biaya resep ini Rp 2 juta. Saya tidak punya  uang sebanyak itu,” keluh  Sunarsi sembari menunjukan resep dokter yang dipegangnya. Pembantu rumah tangga ini juga tak tahu berapa besar biaya operasi yang harus ditanggungnya. Dia lalu membayangkan,  untuk operasi pasti butuh uang yang tak sedikit.
“Tadi katanya mau operasi, tapi saya belum punya uang. Bayarnya bagaimana?  Ini sekarang masih ngurus BPJS,” kata ibu dua anak ini.
Karena dililit biaya mahal, Sunarsi berharap polisi mengusut darimana peluru nyasar itu. Sehingga diketahui pelakunya sekaligus meminta tanggung jawab.
Sampai kemarin siang, ia tak mengetahui darimana datangnya peluru nyasar  yang merobek lengan kiri suaminya. Selain penasaran, ia heran suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai kuli itu jadi sasaran peluru.
Apalagi, lanjut Sunarsi, peluru yang nancap di lengan kiri suaminya itu seukuran jari kelingkingnya. Akibatnya darah bercucuran hingga membuat suaminya pucat.(agp/van/sit/ary)