Pangdam Perintahkan Korem Turun

Panglima Brawijaya Mayjen TNI Eko Wiratmoko menaruh atensi tinggi terhadap kasus peluru nyasar  di Perumahan Istana Bedali Agung Lawang. Kemarin, pemegang tongkat komando TNI AD di Jatim itu memerintahkan Korem 083 Bhaladika Jaya turun menyelidiki peluru yang menembus warga sipil tersebut.
Hal tersebut dijelaskan Kolonel Arm. Totok Sugiharto, Kepala Penerangan Kodam kepada Malang Post, Rabu (11/6) kemarin sore. Ditanya tentang data awal yang masuk, Totok menyebutkan, peluru yang mengenai lengan Sabar warga Dusun Boro RT01/RW08 Desa Sidodadi-Lawang, kemungkinan besar adalah peluru pantulan (rekosed).
Artinya, peluru itu ditembakkan ke perbukitan kemudian mengenai batu dan memantul. Pantulan peluru itu kemudian mengenai lengan Sabar, yang kebetulan tengah melintas di sebelah lapangan tembak.
“Sudah. Panglima sudah tahu. Dan panglima minta diselidiki sampai tuntas. Dan sampai sekarang (sore kemarin) masih belum ada perkembangan,” kata Kapendam.
Kapendam tidak menjelaskan secara detil bentuk tugas panglima atas penyelidikan kasus peluru nyasar di Lawang tersebut. Karena semuanya diserahkan ke tim yang dibentuk Korem 083 BDJ Malang.
“Peluru itu ditembakkan ke depan dan kemungkinan kena batu lalu memantul. Tapi, bagaimana pastinya kejadian itu masih diselidiki intel Korem,” ungkap Totok, sembari menjanjikan pengembangan penyelidikan akan segera dipublikasikan.
Terkait bantuan untuk korban, Totok menyebutkan, tentunya Kodam akan membantu biaya pengobatannya. Tetapi, belum bisa dipastikan dari mana dan siapa yang akan menyerahkan bantuan tersebut.
“Tentunya akan dibantu. Tapi, lembaga mana yang akan menyerahkan kita tunggu dulu hasil kerja tim Korem di Malang. Setelah semuanya jelas pasti korban akan dibantu,” pungkas Totok meyakinkan.

Polisi Temukan Dua Proyektil Pistol
Sementara itu, dalam olah TKP di lokasi korban terkena peluru nyasar, Polsek Lawang dan Polres Malang, berhasil menemukan dua proyektil lain yang tercecer di Jalan Perumahan Bedali Agung. Dua proyektil tersebut, ditemukan tidak jauh dari lokasi korban peluru nyasar yakni Sabar, 52 tahun warga Dusun Boro, Desa Sidodadi-Lawang.
“Tidak jauh dari korban terkena peluru nyasar di depan rumah Blok AA 12, kami juga menemukan dua proyektil ukuran sama. Satu proyektil ditemukan di depan rumah Blok AA 9 dan satu proyektil ditemukan di depan rumah blok Z4 9,” kata Kanitreskrim Polsek Lawang, Iptu Imron.
Disinggung mengenai asal proyektil, Imron mengatakan, kalau temuan itu masih dilakukan pengembangan. “Dari mana asal proyektil-proyektil ini, kami masih melakukan penyelidikan. Termasuk, mengenai kaliber dari proyektil yang ditemukan itu. Dari sekitar lokasi, juga terdengar suara tembakan dari lokasi latihan yang dilakukan oleh Lemjiantek (Lembaga Kajian Teknologi ) Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD,” tambahnya.
Terkait dengan peluru nyasar, Sabar kemarin diminta keterangan oleh Polsek Lawang. Dari pemeriksaan itu, diketahui kalau korban baru sadar menjadi korban peluru nyasar, saat hendak turun dari motornya.
“Ketika akan sampai, saya mendengar bunyi tembakan. Begitu saya akan turun dari motor, tiba-tiba saja darah sudah mengucur dari lengan kiri. Antara suara tembakan dengan saya akan turun dari motor, hanya berjarak sekitar 5 meter,” ujar Sabar.
Ditanya mengenai operasi mengeluarkan proyektil, pria yang datang bersama istrinya-Sunarsih, mengaku sudah selesai pada Selasa Malam. Malahan, seketika itu langsung pulang. “Biayanya ya pakai uang sendiri,” lanjutnya.
Di lokasi terpisah yakni Lapangan Tembak Kodam V Brawijaya di Bedali, masih berlangsung latihan menembak yang dilakukan oleh Lemjiantek. Malang Post yang mencoba mengkonfirmasi, diminta menemui langsung Denma Ops Rindam V Malang, selaku pengelola dari Lapangan Tembak.
“Maaf, mengenai kejadian itu silahkan ke Denma Ops Rindam V Malang. Karena kami di sini sudah mendapatkan izin. Kami latihan, itu mulai kemarin (Selasa),” ujar Serma Andi seraya mengatakan kalau arahan itu dari pimpinannya.
Secara terpisah, Denma Ops Rindam V Malang bagian Bintara Tinggi Admiknistrasi (Batimin), Sertu Tri Johariyanrto saat dikonfirmasi, mengaku kalau pihaknya tidak mengetahui perkara tersebut. Meski pun, izin dari pemakaian lokasi tembak, disampaikan ke Rindam.
“Kalau mengenai peluru nyasar, saya malah baru tahu. Yang pasti, mengenai kejadian itu harus ditanyakan langsung kepada Lemjiantek,” ujarnya.
Terkait kejadian peluru nyasar, Yonkav 3 Tank melalui Pasi Ops, Lettu Kav Dani Syahputra, pun angkat bicara. Menurutnya, kejadian peluru nyasar tersebut sangatlah aneh. Apalagi, melihat temuan proyektil lain di sekitar lokasi.
“Kalau ini proyektilnya, itu dari pistol. Tapi kalau sampai nyasar, itu yang aneh. Terkecuali, kalau memang rekoset,” paparnya saat Malang Post menunjukkan foto temuan proyektil polisi di sekitar lokasi.
Ditanya mengenai aktifitas anggotanya pada Selasa kemarin, Dani menjelaskan, pagi satuannya mendapat kunjungan dari PT Pindad. Saat itu, dilakukan uji coba amunisi hampa Canon atau hampa asap. Cara kerjanya, canon ditarik ke pohon dan dijatuhkan. Tujuannya, untuk mengetahui getaran dan suara.
“Ini proyektilnya juga ada. Tapi, ya tetap menekat. Kalau proyektilnya ini (Canon), ya besar,” ujarnya seraya memperlihatkan pelaksanaan uji coba dengan Canon yang tersimpan di HP.
Bagaimana dengan lapangan tembak ? Dani menjelaskan, seandainya ini memang dari sini, maka tidak mungkin bisa sampai ke sana (Perum Bedali). Masalahnya, jarak lapangan tembak dengan korban, itu sekitar 1 kilometer. Sementara pistol, memiliki jarak maksimal hanya 300 meter.
“Kalau pun seandainya kami latihan dengan pistol dan itu sampai nyasar, pasti tidak mungkin sampai ke sana. Karena dari jarak, itu sudah sangat jauh. Lalu, tanggul tinggi penahan kami juga dibuat berbeda. Jadi, pada bagian belakang sasaran diberi tumpukan ban untuk menahan tanah tanggul agar tidak rusak,” lanjutnya.
Masih menurut Dani, untuk latihan menembak, satuannya selama tiga bulan sekali hanya sekali. sementara di bulan ke dua ini, masih belum melakukan latihan.(sit/has/ary)