Kuat Bukti, Sopir Tersangka

Langgar Kawasan Terlarang, Zonder SIM B2, Uji Kir Kadaluarsa dan Rem Blong
BATU-Laka maut di Proliman Junrejo bakal menjadi pekerjaan penting untuk pihak Polres dan Dinas Perhubungan Kota Batu. Truk Tronton yang menjadi penyebab laka maut ditengarai sudah habis masa uji kirnya. Diperparah pula oleh sopir tronton Wahyu Andri (18 tahun) tak mengantongi SIM B2, dia juga lewat di kawasan yang terlarang untuk kendaraan besar dan berat.
Menilik fakta-fakta tersebut, kuat dugaan, sopir bakal menjadi tersangka. Sopir lalai melewati kawasan terlarang dan tak kantongi SIM B2. Bahkan bisa saja menyeret pemilik Tronton karena membiarkan truk tak laik jalan, berkeliaran di jalan raya mengangkut barang. Yang paling berat adalah melanggar kawasan terlarang, hal itu dibenarkan oleh petugas Kanit Lantas Polres Batu, Iptu Sigit Raharjo disela- sela olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
”Kawasan ini terlarang dari kendaraan besar dan berat, nanti akan ditindaklanjuti dengan dinas terkait,”kata Sigit kepada Malang Post, Kamis (11/6) kemarin.
Hanya saja, menurut Sigit, sampai saat ini sopir tronton kontainer  belum dapat dimintai keterangan. Sebab,  masih terbaring di Rumah Sakit. Wahyu mengalami luka lebam bagian kepala, dada dan kedua kaki. Selain Wahyu, 21 korban lainnya sedang menjalani perawatan medis di RS Baptis.
Dua orang diantaranya mengalami patah tulang, sisanya hanya luka ringan dan sekarang sebagian telah dipulangkan, kebanyakan korban luka ringan dari penumpang bus wisata. Petugas Kepolisian fokus melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).  Dibantu pula oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu, terutama terkait status jalan di proliman Junrejo.
”Kawasan tersebut terlarang bagi kendaraan berat dan besar, dulu rambu larangan melintas sudah dipasang. Akan tetapi, rambunya sudah tidak ada, dalam waktu dekat bakal dipasang kembali,” jelas Alfi Nurhidayat Kepala Seksi Keselamatan Transportasi Dishub kepada Malang Post.
Dari hasil analisa awal petugas, truk peti kemas ini diketahui masa berlaku uji kir yang tertera pada bagian kendaraan sudah hangus atau kadaluarsa, sudah habis sejak 17 April 2014. Selain itu rem angin tronton tersebut juga tidak berfungsi. Diperkuat temuan petugas bahwa selang hidrolis dalam keadaan dibalut oleh karet.
Kuat dugaan selang yang dililit oleh karet ini menyebabkan rem blong atau tidak berfungsi. Apalagi, ban kendaraan sudah tipis dan tidak layak digunakan. Hal tersebut diungkapkan juga Alfi Nurhidayat. Menurut dia, analisa ini masih awal dan belum final, bisa saja ada penyebab lain yang kini masih diselidiki oleh kepolisian.
”Tanda uji kirnya sudah mati, apakah belum diganti yang baru atau justru belum diperpanjang. Kami masih terus menyelidikinya,”kata Alif ketika di Kantor Dishub, Kamis (11/6) kemarin.
Pihaknya sudah menyediakan tim ahli untuk melakukan observasi jika dibutuhkan untuk penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi, kendaraan besar tidak boleh melintas di sepanjang jalan, selain medannya tanjakan dari tikungannya juga tidak cocok untuk kendaraan bermuatan berat dan besar. Kecuali, kendaraan seperti mini bus maupun truk berukuran kecil.
Alif menjelaskan, Dishub juga telah melakukan koordinasi dengan Setda Kota Batu, terkait kebijakan ke depan supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Dan dalam waktu dekat bakal dipasang rambu-rambu larangan kendaraan besar dan berat melintas di sepanjang jalan ini.”Rest area untuk kendaraan besar dibutuhkan di Kota Batu, masalah rambu kita akan koordinasi dengan pihak Polres,”jelasnya kepada Malang Post.
Sebelumnya diberitakan Malang Post, kecelakaan beruntun di Proliman Desa Junrejo Rabu (11/6) malam lalu, merenggut satu korban jiwa dan 21 orang mengalami luka-luka. Kecelakaan beruntun tersebut terjadi sekitar pukul 17.20 wib, semula kendaraan peti kemas, sedan, sepeda dan bus berjalan dari arah barat ke timur. Kuat dugaan akibat rem blong kendaraan yang bermuatan mebel kayu ini membentur kendaraan didepannya. Dari arah utara ada pikap belok kearah barat sehingga juga terkena benturan ini.
Kendaraan peti kemas tersebut dikendarai oleh Wahyu Andri (18 tahun) warga Sidoyoso Wetan Surabaya. Sedangkan sedan dikendarai oleh Dr. Dita Prawita warga Dusun Areng-areng Kelurahan Dadaprejo. Sopir bus Cipaganti Khairil Anam (45 tahun) warga Semampir Surabaya bersama 27 penumpang, pengendara sepeda motor Rohmawati (32 tahun) bersama anaknya (korban meninggal) dan pengendara sepeda lainnya Brigadir Miko serta sopir dan penumpang pikap.
Seluruh korban sedang menjalani perawatan di RS Baptis, diketahui Wahyu mengalami luka lebam di bagian dada, kaki dan kepala. Sedangkan Rohmawati dan Brigadir Miko serta penumpang bus hanya mengalami luka ringan. Sementara Dr. Dita Prawita mengalami patah tulang dibagian kaki dan pinggang.
Sementara itu, Budi pemilik rumah sekaligus toko listrik yang rusak berat akibat tabrakan beruntun, ini mengaku bakal menuntut rugi dan meminta pertanggung jawaban dari yang bersangkutan. Pasalnya, toko yang sehari-hari sebagai mata pencahariannya bakal tutup lama lantaran sudah rusak parah.
Selain itu, sepeda motor miliknya yang terparkir di depan toko juga ikut rusak akibat kejadiaan ini.”Saya sudah tidak bisa jualan lagi, toko saya rusak dan tidak dapat digunakan untuk jualan lagi. Semoga pemerintah mau membantu dan pastinya saya menuntut rugi kepada tersangka,”ucapnya dengan nada lesu.(mik/ary)