Geng ABG Otaki Pembunuhan Siswa SMK PGRI 2

MALANG - Setelah sekian lama ikut melakukan penyelidikan, anggota Polsekta Sukun berhasil mengungkap kematian Edwin Treo Febrian, siswa kelas XII SMK PGRI 2 Malang. ABG berusia 18 tahun ini ternyata dibunuh oleh lima pemuda yang dikenalnya. Yang menarik, pembunuhan ini juga terungkap menjelang peringatan 40 hari kematiannya, kemarin.
Dari lima pelaku Anak Baru Gede (ABG), dua pelaku berhasil ditangkap yakni Eri Angga Wahyu, 19 tahun, warga Dusun Segaran, Desa Kendalpayak, Pakisaji dan Titus Ardiansyah alias Aan, 16 tahun, warga Jalan Gadang VI Malang. Sedangkan tiga pelaku yang kabur yaitu Rodik alias Kopi Hitam, Ricky dan Galang.
Menurut polisi, ketiganya sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Lumajang.
“Namun kita tetap ikut membantu melakukan pencarian dan penangkapan. Pelaku utama, kami duga dari tiga orang yang masih kabur tersebut,” kata Kapolsekta Sukun, Kompol Toyib Subur kepada wartawan kemarin.
Dia menjelaskan, penangkapan terhadap pembunuh siswa jurusan Teknik Informatika ini, berkat penyidikan intensif yang dilakukan jajaran Polsekta Sukun dan Polsek Pakisaji.
Seperti diketahui, jenazah Edwin ditemukan Selasa (6/5) pagi lalu di aliran lahar dingin Semeru (dekat piket nol) oleh seorang warga. Tubuhnya penuh luka, terutama di wajah dan kepala. Kedua tangan dan rahangnya putus. Setelah memeriksa beberapa teman sekolahnya, sempat muncul dugaan bila Geladak Perak hanya sebagai tempat pembuangan mayat korban saja. Edwin diduga dieksekusi di sekitar Lapangan Sampo lalu mayatnya dinaikkan mobil dan dibuang ke sana.
Dipaparkan mantan Kapolsek Tirtoyudo itu, tersangka Angga dan seorang temannya ditangkap melakukan pencurian minggu lalu oleh anggota unit reskrim Polsek Pakisaji. Dalam penyidikan, Angga mengaku pernah melakukan pembunuhan terhadap Edwin. Informasi berharga ini rupanya juga didengar anggota reskrim Polsekta Sukun.
“Begitu kita gali informasi lebih banyak, ternyata korban dibunuh lima orang,” tegas dia.
Dari nama-nama yang disebut Angga, petugas akhirnya berhasil menangkap Aan di daerah Gadang. ABG yang kemarin siang langsung digelandang anggota Satreskrim Polres Lumajang ini mengakui bila pembunuhan itu didasarkan keinginan para pelaku untuk menguasai motor korban, Honda Vario, N 2458 CD, HP dan dompet.
Kepada polisi, Aan mengakui bila Edwin yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara itu diajak minum miras di dekat Pasar Gadang. Setelah itu, keenam pemuda ini naik motor menuju Lumajang.  “Edwin berboncengan tiga naik motornya. Ricky di depan, dia di tengah lalu Aan di belakang,” papar  perwira menengah ini.  
Sedangkan Rodik, Galang dan Angga naik dua motor. Begitu tiba di lokasi pembunuhan, Jembatan Perak (Geladak Perak), Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, keenamnya turun dari motor. Selanjutnya, anak pasangan Sutrisno dan Isnaini Kusuma tersebut dicekik dan dilempar ke jurang. Masih kepada penyidik, Aan mengaku hanya kebagian mengawasi proses ‘eksekusi’ itu. Sedangkan Angga mengakui ikut memegang kaki korban, sebelum dilempar ke jurang.   
“Pengakuan tersangka masih didalami semua, apakah cocok dengan hasil otopsi yang dilakukan oleh tim dokter RSUD Dr Haryoto Lumajang. Sebab yang kami ketahui, korban dinyatakan belum lama meninggal dunia saat jazadnya ditemukan. Artinya, pembunuhan juga dilakukan di sekitar tempat pembuangan,” pungkas Toyib sambil menegaskan kasus ini sudah dilimpahkan ke Satreskrim Polres Lumajang.  Sementara itu, Kapolres Malang Kota, AKBP Totok Suharyanto SIK, MHum mengapresiasi kinerja anggotanya tersebut. “Saya bangga karena anggota juga bisa mengungkap kasus pembunuhan itu,” tegasnya. (mar)