Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Diotaki Residivis, Diancam Pasal Berlapis

Tersangka Eri Angga Wahyu ditahan di Mapolsek Pakisaji

Pembunuhan Siswa SMKN 2 Malang
MALANG– Tiga dari lima pelaku pembunuhan terhadap Edwin Treo Febrian, siswa kelas XII SMK PGRI 2 Malang, memang belum tertangkap. Namun siapa otak di balik pembunuhan itu, sudah terkuak. Yaitu Rodik Asik alias Kopi Hitam yang kini buron bersama dua pelaku lain yakni Ricky dan Galang. Namanya disebut sebagai ‘dalang’ pembunuhan, berdasarkan pengakuan Eri Angga Wahyu, 19 tahun, warga Dusun Segaran, Desa Kendalpayak, Pakisaji yang kini mendekam di sel Polsek Pakisaji karena kasus pencurian.
Informasi yang didapat, Rodik Asik adalah warga asal Jagalan, Malang. Usianya sekitar 40 tahun. Selama ini, ia tinggal dengan kos di sekitar bekas Terminal Gadang. Tubuhnya penuh dengan lukisan tato. Rodik sudah sering kali keluar masuk penjara terkait kasus kriminalitas. Sedangkan Ricky diketahui berusia sekitar 28 tahun ini, berstatus duda. Ia sangat dekat dengan Rodik layaknya bapak dan anak. Sementara Galang baru berusia sekitar 24 tahun. Sebelum pembunuhan terjadi, Edwin dihubungi oleh Ricky, Galang serta Aan lewat SMS.
Mereka mengajak Edwin untuk ngopi di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Karena kenal dekat, apalagi selama ini mereka sering nongkrong, Edwin menyetujuinya. Korban datang sendiri dengan naik motor Honda Vario menemui para pelaku di sekitar Terminal Gadang. “Saya sudah menunggu di tempat itu bersama Rodik Asik. Saat mengisi bensin di SPBU Genengan Pakisaji, Rodik Asik mengatakan kepada kami untuk membunuh Edwin dan merampas motornya,” urai Angga, panggilan akrab Eri Angga Wahyu.
Permintaan itu sempat ditolak Riscky. Tetapi Rodik Asik marah dan mengancam akan melakukan pemukulan. Usai menghabisi Edwin, sepeda motor Honda Vario milik Edwin lalu dibawa ke wilayah Kecamatan Wajak untuk dijual kepada seseorang. Sedangkan handphone milik Edwin, dibawa oleh Rodik. “Dijual berapa dan kepada siapa, saya tidak tahu karena hanya melihat dari jauh,” katanya. Angga juga mengaku, usai menghabisi Edwin, dirinya juga nyaris menjadi korban Rodik Asik dan Ricky.
Dia diancam akan dibunuh jika tidak menyerahkan sepeda motor Honda Beat. “Tetapi saya masih bisa menghindar. Sepeda motor langsung dijual oleh istri saya, dan kami lalu pindah mencari tempat kos di Segaran-Kendalpayak Pakisji. Sebelumnya saya dengan Rodik Asik satu tempat kos,” paparnya. Isnaini Kusuma, ibu Edwin mengaku sangat bersyukur dengan tertangkapnya pelaku pembunuhan anak sulungnya. Meski semula dia sempat putus asa dan tidak percaya kalau pelaku pembunuhan anaknya tertangkap.
“Saya tahu pelakunya sudah tertangkap dihubungi pak Irwan Tjatur (Kanitreskrim Polsekta Sukun). Saya sempat tidak percaya, tetapi saya lega dan berterima kasih sekali. Padahal sebelumnya kami juga sudah berusaha meminta pertolongan pada orang pintar supaya pelakunya bisa cepat tertangkap,” tutur Isnaini. Soal pelakunya, dia mengaku dari lima orang hanya satu saja yang kenal, yaitu Ricky.

Ricky Merupakan Teman Nongkrong
SELAMA ini, Ricky sering membelikan kopi dan rokok korban saat nongkrong. Tetapi di balik kebaikannya itu, ternyata dia berniat jahat. “Sebelumnya saya sudah mengira kalau pelakunya orang tua. Tega dan sungguh kejam sekali. Kalau memang mau mengambil motornya, ya ngomong saja, kok sampai tega membunuh anak saya,” katanya sembari berharap pelaku dihukum setimpal. Kapolres Lumajang, AKBP Singgamata ketika dikonfirmasi via telepon siang kemarin mengatakan bahwa kasus pembunuhan itu menjadi atensi khusus.
Tiga pelaku yang masih buron, akan terus diburu. “Memang sudah dua pelaku yang kami tangkap. Itu berkat kerjasama dan doa semuanya. Tiga pelaku yang belum tertangkap akan terus kami kejar. Anggota sudah kami bentuk tim dan disebar untuk memburu ketiga pelaku sampai dapat,” terang Singgamata. Untuk pasal yang diterapkan, Singgamata menegaskan masih menunggu kelima pelaku tertangkap untuk kemudian dikroscekkan.
Jika pembunuhan itu dilakukan sesaat, maka dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.  Namun jika direncanakan sebelumnya maka akan dikenakan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. “Tetapi besar kemungkinan mereka akan kami jerat dengan pasal berlapis dan yang paling berat. Karena motif sementara pelaku, adalah untuk menguasai barang milik korban,” tandasnya. (agp/mar)

Please publish modules in offcanvas position.