Polisi Diduga Rekayasa Bukti Foto Penganiayaan

Hari Subianto dan Yuliono menyimak pertanyaan hakim dalam sidang lanjutan buntut penggerebekan mahasiswa mesum, kemarin.

MALANG- Sidang kasus penganiayaan M. Anugerah alias Huse, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB) kembali digelar. Kemarin, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap dua warga Griyashanta yang menjadi terdakwa, yakni Sekretaris RT08, Hari Subianto dan satpam Yuliono. Ketika diperiksa majelis hakim yang diketuai Harini SH, MH, Yuliono mengaku satu kali melakukan pemukulan karena Huse, berulangkali akan menyerangnya, usai digerebek di rumah kontrakannya, Griyashanta Blok L-216.
Pemukulan itu sendiri sempat disesalkan oleh Hari, sesaat setelah penggerebekan itu. Masih dalam persidangan itu, terkuak pula bila Huse berulangkali melarang Yuliono membuka pintu sebuah kamar yang tertutup rapat. “Ternyata setelah saya buka, di dalamnya ada Rara Jingga, teman wanita Huse dan dia hanya memakai celana dalam,” papar Yuliono kepada hakim. Saat itu, Yuliono sempat akan membawa Rara Jingga keluar kamar. Tetapi dilarang oleh Ilyas, koordinator keamanan di wilayah tersebut.
Yang menarik, ketika jaksa memeriksa Hari, terkuak bila ada foto yang diduga rekayasa penyidik Polsekta Lowokwaru. Foto tersebut adalah Hari memperagakan mencengkeram baju Huse dan seakan seperti hendak memukul pemuda tersebut . “Saya hanya ingin mengklarifikasi tentang foto yang ikut dikirimkan penyidik bahwa terdakwa Hari juga melakukan pemukulan terhadap korban,” kata jaksa. Melihat foto itu, spontan Hari mengaku bila dia hanya disuruh Bripka Samsudin, penyidik unit reskrim Polsekta Lowokwaru.
“Pak Samsudin hanya bilang mau diambil foto saja saat saya dikonfrontir dengan Huse di salah satu ruangan polsek. Saat disuruh mengangkat tangan hingga ke krah baju Huse. Saya mau saja karena saya sudah capek diperiksa sejak pagi. Saya tidak tahu kalau foto itu dijadikan barang bukti,” terangnya. Kontan, bukti foto yang janggal ini pun dipertanyakan hakim. Sebab, dalam konfrontir tertulis yang ditandatangai Briptu Bakhtiar Arif, penyidik lain Polsekta Lowokwaru, Hari tetap mengaku tidak melakukan pemukulan.  “Saya hanya memisah saat Yuliono menarik krah baju Huse,” paparnya.
Melihat kejanggalan bukti konfrontir ini, Harini juga mengiyakan saat jaksa akan menghadirkan kedua penyidik tersebut ke persidangan minggu berikutnya. “Harus dihadirkan kedua penyidiknya karena antara konfrontir tertulis dan gambar tidak sama,” tegas Harini. Sementara itu, Nariyanto SH dan Musoli SH, pengacara kedua terdakwa menduga kuat foto itu merupakan rekayasa untuk bukti agar berkasnya segera bisa dikirim ke Kejaksaan.  “Tetap kami akan pertanyakan nanti di sidang berikutnya. Sudah jelas pak Hari hanya memisah, tapi kok ada foto yang memperlihatkan dia memegang krah baju korban. Apalagi di dalam foto itu, tidak ada Yuliono. Harusnya kalau konfrontir, Yuliono ada dalam foto itu,” tegas Nariyanto. (mar)