Ngaku Wartawan Curi Tebu

Tersangka Eko Darmono alias Momon digelandang petugas menuju ruang tahanan.

MALANG– Hukum tidak pandang bulu. Ketika terbukti melanggar pasti akan ditindak. Begitu juga dengan pencurian tanaman tebu di Desa Jatikerto, Kromengan. Seorang yang mengaku wartawan mingguan, Eko Darmono alias Momon, 35 tahun dijebloskan ke dalam terali besi Mapolres Malang, kemarin. Warga Jalan Raya Jatikerto RT10 RW01 Kromengan ini, ditahan atas tuduhan pencurian tebu. Naifnya lagi, pelapor yang menjadi korbannya masih memiliki hubungan saudara. Yakni Pur Ningsih, 69 tahun, warga setempat. Ia adalah adik kandung Kasmiati, ibu kandung Momon.
“Dia menjadi tersangka karena bukti-bukti pencurian yang dilakukannya cukup kuat. Apalagi keterangan saksi-saksi juga menerangkan bahwa ia bersalah,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat SH, SIK. Pencurian tebu yang dilakukan Momon ini, terjadi Kamis (19/6) pagi sekitar pukul 07.00. Tebu yang dicuri berada di atas lahan milik korban Pur Ningsih seluas 5.035 m2 di Desa Jatikerto, Kromengan. Momon melakukan pencurian, dengan menyuruh para pekerja tebang tebu.
Tebu yang dicurinya, hendak dijual kepada seorang pemborong. Tetapi baru mendapatkan dua truk dan belum sempat dijual, aksinya diketahui oleh Pur Ningsih yang kebetulan pagi itu melihat kebun tebunya. Korban yang tahu tebunya dicuri, memanggil perangkat desa untuk menjelaskan bahwa tebu yang ditebang adalah miliknya. Namun, Momon tidak mempedulikan penjelasan perangkat desa. Ia tetap meneruskan pencurian itu. Merasa dirugikan, korban lalu melaporkan ke petugas Polres Malang.
Untuk memperkuat laporan, korban menunjukkan bukti sertifikat lahan tebu atas namanya. Berdasarkan laporan tersebut, polisi kemudian bergerak cepat dengan mendatangi lokasi. Petugas kemudian menghentikan penebangan tebu, dan mengamankan para penebang untuk dimintai keterangan.  “Saksi mengaku disuruh oleh Eko. Berdasarkan itulah, kami lalu mengamankan Eko dan menjadikannya tersangka,” tutur Wahyu. Sementara dalam pemeriksaan penyidik, Momon mengatakan kalau lahan yang ditanami tebu itu adalah milik kakek dan neneknya.
Sehingga ketika dia menebang tebu kemudian menjualnya tidak ada masalah. Ia juga mengaku pada bulan Juli 2013 lalu ikut menanam bibit tebu. Padahal sesuai keterangan korban, bahwa sejak 2003 lalu lahan seluas 5.035 m2 itu adalah miliknya dengan bukti sertifikat atas miliknya yang sah. Dan sejak 2003, lahan tersebut dikerjakan Nanang Promono, 47 tahun, kakak kandung Momon dengan sistem bagi hasil. (agp/mar)