Pelaku Terancam Seumur Hidup

Polisi Masih Buru Empat Pelaku Lain
SINGOSARI-  Tiga pelaku perampasan sepeda motor yang dibekuk di Jalan Panglima Sudirman Kecamatan Singosari Rabu (25/6) dinilai bisa dikategorikan sebagai aksi teror. Untuk itu, Polsek Singosari berancang-ancang menjerat tiga pelaku dengan Undang-Undang (UU) Darurat Nomor 12 tahun 1951 yang ancaman hukumannya seumur hidup.
“Kami bisa saja mengajukan para pelaku untuk dijerat dengan UU Darurat tentang kepemilikan senjata api dan bahan peledak. Di samping itu, Polsek Blimbing juga bisa menjerat pelaku dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan,” ujar Kanit Reskrim Polsek Singosari Ipda Poernomo kepada Malang Post kemarin.
Jeratan UU Darurat itu dipilih karena terjadi saat hendak ditangkap petugas, salah seorang pelaku mencoba melawan dengan melemparkan bom bondet. Sehingga terdapat dua orang korban yakni Marinir dan kernet bus Jaya Utama (Tarpin) mengalami luka-luka akibat ledakan bondet itu. Petugas pun saat ini tengah melakukan penyelidikan pelaku yang melempar bom bondet.
“Kalau yang memiliki dan melempar bom bondet ternyata tersangka yang ditembak mati tersebut, maka kami tidak bisa menjeratnya dengan UU Darurat. Untuk itu, kami saat ini menyelidiki siapa yang melempar bom bondet itu,” terangnya.
Sementara hasil pemeriksaan maupun olah tempat kejadian perkara (TKP) sebelumnya, bom bondet memang ditemukan di tubuh tersangka yang ditembak mati. Sedangkan petugas tidak menemukan bondet di tiga pelaku yang ditangkap tersebut.
“Meski dimikian, kami tetap bisa menjerat mereka dengan UU Darurat, dalam hal ini kepemilikan senjata tajam tanpa izin. Sebagaimana yang terjadi di lapangan, petugas kami juga menyita tiga pancor dari para pelaku tersebut usai kejadian,” terangnya.
Sedangkan Unit Reskrim Polsek Singosari menemukan titik terang terhadap dua pelaku perampokan yang kabur saat dilakukan penangkapan. Yakni petugas menemukan sebuah jaket dan sepasang sepatu yang terdapat bercak darah kering. Selain itu, jaket tersebut sisi kanannya terdapat sobekan yang diduga terkait kawat saat pelaku kabur.
“Jaket dan sepasang sepatu yang terdapat bekas darah ini ditemukan petugas kami di sekitar Jalan Tumapel Kelurahan Pagetan Kecamatan Singosai sekitar pukul 10.00 WIB tadi (kemarin),” kata Perwira Pertama (Pama) dengan satu balok di pundaknya tersebut.
Dia menjelaskan, saat proses penangkapan, salah seorang pelaku kabur ke arah Jalan Morotanjek dan satu pelaku lagi kabur ke arah rel kereta api yang tembus ke  Jalan Tumapel. Sedangkan saat kabur, salah seorang pelaku dalam posisi tubuh tertembak. “Bisa jadi jaket dan sepatu ini adalah milik pelaku yang tertembak itu,” imbuhnya.
Berdasarkan temuan itu, pihaknya sudah mengintesifkan pencarian terhadap keduanya. Hanya saja, hingga saat ini kepolisian belum bisa menemukan petunjuk. “Kami sudah mengecek ke puskesmas-puskesmas, bidan desa, dokter, klinik kesehatan, dan tempat lain, namun tidak ditemukan,” tuturnya.
Sedangkan petugas mengindikasikan pelaku perampokan adalah pelaku lama yang selama ini belum tertangkap. Petugas menduga pelaku berasal dari Pasuruan dan biasa melancarkan aksinya di lintas daerah. Hal itu dikuatkan dengan pelaku membawa bom bondet yang biasanya mudah ditemukan di daerah Pasuruan.
Sementara itu, Polres Malang Kota akhirnya menetapkan Yusman Anwar (36), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Pasuruan dan Slamet alias Wiryo (30), warga Dusun Krajan RT01 RW01, Desa Kambinganrejo, Grati, Pasuruan sebagai tersangka dalam kasus perampasan motor Kawasaki Ninja, N 4398 AAE milik Eko Wahyudi, 31 tahun. Artinya, polisi pun mengaku bila empat pelaku yang ikut melakukan perampasan motor milik warga Desa Dawuhan, Poncokusumo itu, berhasil kabur ketika hendak ditangkap di Jalan Panglima Sudirman, Singosari.
Slamet sendiri merupakan tersangka yang tewas ditembak anggota Polsekta Blimbing, Bripka Didik Wahono, Rabu (25/6) pagi. Dijelaskan Kasubbag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, SH, penetapan tersangka ini merupakan hasil pemeriksaan intensif yang dilakukan oleh penyidik Satreskrim Polres Malang Kota. “Satu lagi yang sempat dibawa, yakni Ifan Ardiansyah, 26 tahun, warga Desa Kaligending, Kecamatan Panggungrejo, Blitar dilepaskan dan diserahkan ke keluarganya tadi (kemarin) siang,” terangnya.
Dijelaskan Dwiko, Ifan bukan pelaku perampasan, melainkan pengendara motor Yamaha Vixion, AG 2888 LR yang kebetulan lewat saat terjadi penangkapan. “Ifan kaget melihat situasi di TKP penangkapan sehingga pingsan dan jatuh dari motornya. Dia baru saja menghadiri pernikahan kerabatnya di Malang dan akan berangkat kerja ke Sidoarjo sambil membawa kue untuk teman kerjanya,” urai mantan Kapolsek Wajak tersebut.  Sedangkan seorang lagi, Ngatono, 27 tahun, warga Desa Balearjo Timur, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang tetap berada di Mapolsek Singosari karena mengaku gila.
Dari hasil gelar perkara itu pula, polisi sudah mengetahui peran kedua tersangka. Tersangka Yusman Anwar menjadi jokinya sedangkan tersangka Slamet yang tewas, berperan sebagai pelaku yang membacok dan membawa kabur motor korbannya. “Kami juga menyita dua bilah celurit, kunci T dan dua motor yang digunakan pelaku. Yakni Honda Vario N 6072 TR dan sepeda motor Yamaha Vega tanpa plat nomor,” papar mantan Kasatreskrim Polres Batu tersebut. Sementara itu, sumber Malang Post di Polres Malang Kota menerangkan, bila Yusman merupakan teman komplotan M Husni Mubarok, asal Pasuruan yang pernah ditembak mati karena melakukan perampasan motor.
“Yusman ini temannya kelompok M. Husni Mubarok yang kita tembak mati karena melakukan perampasan motor di dalam kota Malang akhir 2009 lalu. Dia mengaku juga dendam kepada polisi gara-gara menembak mati temannya itu,” ungkap sumber yang minta dirahasiakan namanya tersebut. (gil/mar/han)