Jalibar Dilengkapi Rest Area, Pasar Bunga Depan Jatim Park-2

BATU- Kota Batu dinilai sudah saatnya memiliki pasar burung, lantaran bisa mendukung keberadaan kota ini sebagai kota wisata. Itulah salah satu poin yang diusulkan warga dalam dialog ketua RT/RW dengan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko di Senopati Praja, siang kemarin.
“ Di setiap kota/kabupaten lainnya, pasti ada pasar burung. Karena itu kami berharap Pak Wali mau membangun pasar tersebut,”ujar Suliono Ketua RW 07 Kelurahan Temas
Masukan lainnya, wilayah Kelurahan Temas yang merupakan pintu gerbang masuk Kota Batu seharusnya infrastruktur jalan juga lebih baik. Termasuk kelengkapan PJU dan rambu-rambu lalu lintas. 
Sementara Ketua RW 08 Desa Oro-oro Ombo, Suaeb Prabowo mempertanyakan soal tak kunjung dibangunnya jembatan penghubung Dusun Dresel- Desa Oro-oro Ombo. Padahal jembatan tersebut, bisa dibuat jalan alternatif manakala di depan BNS terjadi kemacetan lalu lintas. 
Sedangkan RT 05 Kelurahan Ngaglik, Zainuri menagih Pemkot yang pernah menjanjikan seragam bagi ketua RT/RW, namun sampai sekarang belum diwujudkan. Disisi lain, Zainuri mempertanyakan lamanya proses pencairan dana bantuan kematian di Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
Menanggapi berbagai lontaran tersebut, Eddy Rumpoko menjawab satu persatu. Menurunya, pasar burung sebenarnya sudah direncanakan sejak awal. Lokasinya tepat di sebelah Jatim Park 2 atau bekas pemukiman warga. Disana pula, nantinya dibuat pasar buah karena sampai sekarang kota ini juga belum memiliki pasar buah. Padahal dampaknya sangat positif bagi masyarakat kota ini.
”Ini yang saya harapkan, jadi pembangunan itu tidak hanya berangkat dari pemerintah saja, melainkan ada desakan dari masyarakat dan disana pula nanti masyarakat yang menjadi pengelolanya,”jelas ER, disambut tepuk tangan oleh semua ketua RT/RW.
Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, nantinya di sepanjang Jalan Lingkar Barat (Jalibar) akan dibuka rest area. Di kawasan itu tidak boleh ada bangunan apapun, sehingga tidak hanya menjadi tempat peristirahatan semata melainkan juga menjadi jujugan wisatawan untuk menikmati keindahan dari lereng Gunung Panderman.
Menyangkut pembangunan jembatan, menurut ER sebenarnya masyarakat lah yang membangun dengan support dana ADD dan dari Pemkot. Pengerjaannya sendiri dilakukan gotong royong.”Jangan melulu menunggu dari Pemkot, tapi bagaimana masyarakat berperan aktif dan berinovasi,”jelasnya.
ER mengakui, ketua RT/RW tidak hanya bekerja sebagai pengurus KTP, akta kelahiran, kematian dan lain-lain. Tetapi bagaimana kedepan memiliki arah dan gagasan agar daerahnya lebih baik dan maju. Contoh, bila ada pembangunan dari pihak swasta, maka sejak awal sudah dirundingkan di tingkat RT/RW.”Sehingga keterlibatan masyarakat dalam pembangunan berbentuk nyata, dan memberi dampak kepada masyarakat sekitar,”paparnya. 
Kunjungan wisatawan ke kota ini per tahunnya, sudah mencapai 3,5 juta orang.’’ Tahun depan kalau bisa bisa tembus 5 sampai 7 juta wisatawan yang datang ke Kota Batu, dan ini akan tercapai jika ketua RT/RW berperan baik melibatkan masyarakat di lingkungannya,”tandasnya.(mik/lyo)